Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kebucinan Mereka Yang Terhalang


__ADS_3

Ara berlari sekuat tenaga untuk mengejar Morgan, sampai pandangannya sudah sangat dekat dengan Morgan yang berlarian di hadapannya.


"Tinggal sedikit lagi!" ucap Ara yang terus bersemangat untuk menangkapnya.


Saking semangatnya, Ara dengan mengesampingkan akal sehatnya, mengambil ancang-ancang untuk segera melompat ke arah Morgan.


"Happp ...."


Ia berhasil berada di punggung Morgan sekarang. Morgan tertawa lepas saat Ara berhasil menungganginya. Morgan pun berusaha menghentikan langkahnya.


"Kamu gak bisa lari ...," lirih Ara dengan penuh semangat.


Mereka pun perlahan menghentikan tawanya. Tanpa sadar, hari sudah semakin petang. Ara sampai lupa untuk makan siang.


"Kruuukkk ..." Suara perut ku yang tidak bisa dikondisikan. Aku malu sekali pada Morgan saat ini.


'Aissshh ... kenapa perut gak bisa dikondisikan, sih?' batin Ara, mendadak merasa malu.


Morgan yang mengetahui kondisi perut Ara yang keroncongan, segera menoleh ke arahnya yang masih berada di punggungnya, "saya jadi ingat, tempat yang bagus sekali untuk makan malam," ucap Morgan dengan penuh harap.


Seketika mata Ara berbinar karena mendengar kata makan. Ia tak akan sungkan jika Morgan mengajaknya ke tempat itu.


"Makan ...," sorak Ara merasa girang sekali, membuat Morgan tersenyum tipis.


Morgan menggendong Ara dengan pelan menyusuri jalanan Kota. Ara merasa senang sekali karena tingkah Morgan yang tidak disangka akan tidak malu seperti ini.


"Kamu gak malu?" tanya Ara, membuat Morgan menggelengkan kepalanya.


"Gak kok. Cuma ... gak semangat aja," lirih Morgan sembari menahan tawanya, membuat Ara paham akan maksudnya.


Dengan segera, Ara pun mengecup singkat pipi Morgan, membuat Morgan mendelik tak percaya dengan yang ia lakukan.


"Pegangan, sepertinya saya mau terbang," gumam Morgan, membuat Ara tertawa kecil mendengarnya.

__ADS_1


Baru beberapa langkah Morgan berjalan, Ara sudah merasa sudah ada yang memperhatikannya dari belakang.


Ara terdiam, dan segera menoleh ke arah belakangnya. Benar saja, wanita itu terlihat sedang melipat kedua tangannya, sembari memperhatikan mereka.


Ara hanya diam sembari memperhatikannya kembali. Ia mengeluarkan satu batang cerutu, dan membakarnya kemudian menghisapnya.


Langkah Morgan kian menjauhi keberadaan wanita itu, tapi Ara sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.


Morgan terdiam sejenak karena Ara yang hanya diam, tak seperti biasanya, 'sepertinya Ara sedang memperhatikan sesuatu,' batin Morgan yang merasa tidak enak.


Morgan menoleh sedikit ke belakang. Ternyata, Junhey lah yang sedang Ara lihat.


Wanita yang sama sekali tidak mengetahui kebenarannya itu, terus-menerus menuduh Morgan yang bukan-bukan.


Morgan mendelik, bukan! Bukan itu yang harus aku pikirkan sekarang. Aku harus mencari cara agar Ara tidak terfokus padanya lagi, pikir Morgan sembari memutar otaknya, bersikap seperti biasa agar tak terlalu mencolok.


"Kamu makan apa sih? Kok bisa berat begini," celetuk Morgan, membuat Ara menoleh kembali ke arahnya.


"Kenapa, aku gak dengar?" tanya Ara yang tak sadar dengan apa yang Morgan katakan.


"Kamu cantik," ucap Morgan yang secara sadar mengalihkan pembicaraan, supaya Ara tidak membuang-buang energi, untuk melontarkan amarahnya.


Aku takut kalau nanti ia mengamuk tiba-tiba di depan umum seperti ini, pikir Morgan sembari menyeringai.


"Apan sih ...," gumam Ara yang sudah tersipu malu dengan ucapan Morgan.


Morgan tersenyum tipis, nadanya mulai terdengar seperti tersipu. Aku bisa merasakannya, meskipun aku tidak melihatnya, pikir Morgan.


"Ara!" pekik seseorang dari arah yang bersebrangan dengan mereka.


Terlihat adik dari Putri yang sedang berada di hadapan Morgan dan Ara saat ini. Morgan saja sampai terkejut dibuatnya.


Kenapa bisa dia sampai di Tokyo? Apa Ara memberitahu tentang kita yang ingin berlibur ke Tokyo? Pikir Morgan yang hampir saja terkena serangan jantung karena melihat kedatangan Farha yang tiba-tiba.

__ADS_1


Morgan kembali membantah spekulasinya, ah tidak mungkin! Ara tidak punya spare waktu untuk memberitahu pada Farha. Apa lagi saat itu, Farha tidak terlihat sedang video call dengan teman-temannya yang lain, pikir Morgan lagi, yang kembali tidak yakin dengan yang ia pikirkan.


"Lho ... Farha! Kok Loe bisa ada di sini sih?" tanya Ara.


...***...


Hari sudah semakin malam. Matahari pun nampaknya sudah lelah mengeluarkan sinarnya untuk menyinari bumi. Kini, sang mentari pun berganti senja, dan satelit bumi pun perlahan mulai muncul dari ufuknya.


Arash beserta yang lainnya menyewa penginapan di pesisir pantai, lebih tepatnya gubuk kecil yang berdiri kokoh di sepanjang pesisir pantai, membuat kesan suasana pantai bertambah kuat lagi karena setelah keluar dari pintu kamar, mereka sudah langsung disuguhkan oleh deburan ombak, dan angin malam yang berembus hingga menusuk ke dalam tulang.


Arash duduk di atas pasir, pinggir pantai, sambil menikmati sunset yang hanya bisa ia lihat dengan jelas di pantai ini. Arash yang hanya mengenakan kaos lekbong dan celana ketat setinggi setengah pahanya, dan mengenakan kacamata hitam, tak bisa melepaskan pandangannya dari Sang Fajar yang sudah mulai tenggelam itu.


Pada waktu ini, Arash selalu teringat dengan kebersamaan dirinya dengan keluarga harmonisnya kala itu, yang selalu mengajaknya ke pantai ini, karena memang pantai ini adalah salah satu tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu bersama.


Arash menghela napasnya panjang, 'seandainya hal itu gak terjadi, mungkin kami masih seperti ini sampai sekarang,' batin Arash yang sedikit merindukan masa lalu bersama keluarganya.


Muncul Fla dari arah gubuk, yang sengaja mengambil foto candid milik Arash, yang sedang tidak sadar, sembari menatap ke arah mentari yang hampir terbenam.


Fla mengambil gambar di beberapa angel, membuatnya terlihat bak seorang fotografer yang andal.


Setelah selesai mengambil gambar, Fla pun perlahan duduk di sebelah Arash, yang terlihat sangat sendu menatap ke arah mentari.


"Kak," sapa Fla, membuat buyar lamunan Arash.


Arash dengan segera membenarkan sikapnya, dan segera merangkul Fla yang sudah berada di sebelahnya.


"Kebetulan kamu di sini," gumam Arash, membuat Fla tersenyum karenanya.


"Kakak ngapain di sini sendirian?" tanya Fla, membuat Arash mengalihkan pandangannya ke arah Fla.


"Merenung," jawab Arash dengan nada yang gembira, membuat Fla mengerenyitkan dahinya.


"Kok merenung sambil ketawa-ketawa, sih?" tanya Fla dengan bingung, karena keadaan Arash yang tak memungkinkan itu.

__ADS_1


Sebagai seorang pria, Arash tidak mungkin memberitahu kegundahan dirinya pada orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah gadis yang mulai ia cintai itu. Arash tidak akan sampai hati untuk memberitahu keadaan dirinya pada Fla.


Mungkin karena sifatnya sebagai seorang kakak, membuat Arash tidak bisa jujur dengan siapa pun, terkecuali dirinya sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk. Ia hanya akan lari ke alkohol, dan juga selalu mengajak Ilham, atau Morgan, atau orang-orang yang hanya dia percaya saja untuk tempatnya melakukan self healing.


__ADS_2