Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Bioskop Perdana


__ADS_3

Segala sesuatunya bisa terlihat dari layar besar ini. Ara jadi sedikit terhibur karena melihat mobil dan motor yang ada di sebelah kiri, kanan, belakang dan di hadapan Ara, dari layar monitor tersebut.


Ara menoleh ke arah Morgan.


Ara terkejut, karena melihat Morgan yang sedang tertidur di kursi kemudinya.


Oke, kali ini aku tidak akan khawatir. Meskipun Morgan tertidur, mobil ini dengan kepintarannya mungkin akan bisa sampai pada tempat tujuan, pikir Ara.


Ara memandangi setiap cm wajah Morgan. Jenggot yang ia punya, kini menjadi lebih lebat dari sebelumnya. Rambutnya yang mulai panjang, dan hampir menutupi matanya, membuat Ara agak rishi memandangnya.


Ara merapikan sedikit rambut yang mengenai matanya, membuatnya merenungkan diri sejenak.


‘Gue gak paham dengan semua ini,’ batin Ara sembari memandangi Morgan dengan lekat.


“Happ ….”


Tiba-tiba saja Morgan menangkap tangan Ara yang sedang mencoba untuk merapikan poni Morgan yang sudah terlalu panjang. Ara menjadi terkejut karenanya.


“Inget, jangan suka sama saya,” ucap Morgan tiba-tiba, yang sukses mengagetkan Ara.


Tanpa membuka matanya, Morgan mengatakan demikian kepada Ara. Ara melepaskan tangannya dari cengkraman Morgan, lalu memegang dadanya untuk sekedar menenangkan jantungnya yang sudah berdetak lebih kencang dari biasanya.


“Udah gue bilang, gue gak akan pernah suka sama loe!” sinis Ara.


Morgan tanpa membuka mata, tersenyum dan mengubah posisi duduknya.


“Tapi kamu udah anggap saya ini pacar kamu, kan?” tanya Morgan dengan percaya diri yang tinggi.


Ara menahan kesalnya pada Morgan. Ara hampir saja menamparnya, tapi ia tidak tega untuk melakukannya.


Semoga saja, dia tidak melihat tanganku yang hampir menamparnya tadi, pikir Ara.


Ara hanya mengejeknya, dengan membentuk bibirnya dengan bentuk yang aneh-aneh, membuat wajahnya terlihat aneh jika dipandang. Tentu saja Morgan tidak tahu dengan perbuatannya itu.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, mereka pun sampai pada mall terdekat dari daerah rumah Ara. Morgan pun bangun dari tidurnya, dan melanjutkan menyetir mobilnya menuju basement.


Sesampainya di basement, Morgan memarkirkan dengan rapi kendaraannya yang super mewah ini. Ia melihat ke arah CCTV tersembunyi, dan menemukan ada hal yang sangat lucu baginya.


“Apa ini, kok monyong-monyong gitu?” tanya Morgan, sontak membuat mata Ara membulat kaget.


Dengan sigap, Ara melihat ke arah benda yang sedang Morgan amati, membuat Ara terkejut setengah mati.


“Hah? Kok bisa ada CCTV di mobil ini, sih?!” pekik Ara terkejut dengan yang Morgan perlihatkan.


“Rahasia,” lirih Morgan sembari berkedip dengan jahil, membuat Ara tak bisa menerimanya.


“Sini gak! Hapus!”


Ara yang tak terima dengan hal itu, langsung berusaha untuk mengambil benda itu dari Morgan.


Tak sadar, Ara malah jadi menindih di atas Morgan. Pandangan mereka bertemu pada satu titik, membuat Ara menjadi canggung karenanya.


“Cups ….”


“Cie … sudah mulai mendominasi,” ledek Morgan, sukses membuat pipi Ara seketika berubah memerah.


“Ih! Apaan sih! Udah itu hapus videonya!” bentak Ara, membuat Morgan tak bisa menahan tawanya.


Hal itu yang membuat Ara kembali mengerucutkan bibirnya, karena merasa kesal dengan perlakuan Morgan yang selalu membuat Ara terkejut, kesal, bingung, dan bergelora seperti sekarang.


“Hehe, gak, jangan, buat kenang-kenangan,” tolak Morgan, membuat Ara membelalak.


“Emangnya loe mau ke mana? Pake segala kenang-kenangan, kayak mau pergi jauh aja?” sinis Ara, lagi-lagi membuat Morgan tersenyum.


“Jadi, kamu gak mau saya pergi jauh dari kamu? So in other words, it’s means kamu gak izinin saya untuk pergi dari hidup kamu?” cetus Morgan, lagi-lagi membuat Ara tak bisa berkata apa pun.


Ara selalu seperti ini pada Morgan, yang jelas-jelas sudah menyatakan cintanya pada Ara. Ara pun sudah menyatakan cintanya kepada Morgan, walaupun dalam keadaan tidak sadar, setidaknya orang yang sedang di bawah pengaruh alkohol, lebih jujur dibandingkan dengan orang biasa yang sadar dengan keadaannya.

__ADS_1


Ara mengerenyitkan dahinya, “ih … gue gak pernah bilang gitu, tuh!” tepis Ara.


Morgan tersenyum tipis, sembari menyenderkan dirinya, sembari menatap ke arah kemudi.


“Tiada yang tahu batas usia seseorang, isn’t it?" ucap Morgan, lalu menoleh ke arah Ara yang sejak tadi melihat ke arahnya.


Hal ini yang membuat mata hati Ara terbuka. Ia tidak selamanya ada di dunia ini. Mungkin, pertemuannya dengan Morgan kali ini, untuk menemani sisa hidupnya nanti. Tapi, Ara terlalu tinggi untuk bisa menerima Morgan yang baginya hanyalah orang idiot yang tidak bisa bersikap dengan baik kepada wanita pujaan hatinya.


Itu berbanding terbalik dengan pemikiran Ara tentang ayah dan ibunya yang sudah lama meninggalkannya. Belum sempat Ara berbuat baik pada mereka, tapi … mereka sudah lebih dulu meninggalkan Ara, dalam waktu yang secepat itu.


Ara tidak ingin kehilangan Morgan lagi, seperti ia kehilangan orang tuanya. Hal itu membuat Ara teringat dengan masa lalu kedua orang tuanya.


-FLASHBACK ON-


“Kalau kamu terus-terusan seperti ini, saya gak akan menjamin rumah tangga ini akan utuh untuk seterusnya,” geram Anggun, ibu dari Arasha dan juga Arash.


Terjadi pertikaian yang membuat Ara sedih melihatnya.


Arash merengkuh pinggang Ara, yang saat itu masih berumur 8 tahun. Arash memang tidak kuat melihat ayah dan ibunya bertengkar seperti ini. Tapi, ia harus memastikan keadaan ibunya, dan tidak ada apa pun yang terjadi pada ibunya.


“Kak … ayah sama ibu kenapa? Kok mereka marah-marah terus?” tanya Ara dengan nada yang seperti takut, karena melihat ibunya yang sudah terduduk lemas, dengan air mata yang berlinang di kedua belah pipinya.


Arash yang melihat kondisi adiknya seperti ketakutan, langsung segera merengkuhnya dalam pelukannya.


“Gak apa-apa. Mereka cuma lagi latihan drama aja, kok,” jawab Arash asal, namun tetap saja Ara tidak tenang.


Perbedaan usia yang terpaut jauh, antara Arash dan Arasha, membuat Arash menjadi jauh lebih dewasa dalam menghadapi segala macam permasalahan yang ada. Bayangkan saja, Arasha saat ini masih menginjak tingkat 2 Sekolah Dasar, sementara Arash baru saja lulus Sekolah Menengah Atas, tahun ini.


“Ara kenapa ada di sini?” tanya Arash yang baru sadar, keberadaan adiknya yang sedang melihat ayah dan ibunya bertengkar, di dalam dapur.


Ara menoleh ke arah Arash yang sedang merengkuhnya, “Ara takut dengar suara teriak-teriak, Kak. Makanya Ara ke sini,” jawab Ara dengan nada yang sangat imut, seperti anak gadis berusia 8 tahun pada umumnya.


Arash menghela napas, membuat Ara merasa bingung dengan apa yang Arash pikirkan.

__ADS_1


“Kamu mau apa? Perceraian? Itu kan yang kamu inginkan supaya bisa lebih dekat dengan Hans brengsek itu?” sinis Bram, ayah dari Ara.


__ADS_2