Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Magh Kambuh


__ADS_3

“Oh ya, bibi minta izin pulang ke kampungnya selama 3 hari. Jadi, untuk 3 hari ke depan, saya akan temenin kamu di sini,” ucap Morgan.


Ara menganga, “What?” Ara terkejut mendengar ucapan Morgan.


Seketika suasana menjadi hening.


Kenapa bibi tidak pamit dan meminta izin kepadaku? Bagaimana keperluanku bisa tercukupi? Siapa yang akan memasakkan makanan untukku? Siapa yang akan mencuci pakaianku? Siapa yang akan membersihkan kamarku? Pikir Ara.


“Oh no!” Ara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Tenang aja, selama 3 hari ini, saya yang bertanggung jawab di rumah ini,” ucap Morgan, membuat Ara sedikit tenang.


Ara tidak lagi khawatir tentang masalah rumah tangga.


Tapi ....


Matanya membulat kaget, “hah? It's mean kamu bakal tinggal di sini dong? Terus kamu bakal ... bakal ...,” ucap Ara yang ketakutan, sembari menutupi bagian dadanya dengan selimut yang ia pegang.


Morgan melontarkan senyum pada Ara.


“Tenang aja, kalau kamu gak ngizinin, saya bisa tidur di sofa,” lirih Morgan.


Ara merasa agak tenang mendengarnya. Dadanya seketika berdebar karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


Wajah Ara bersemu merah, “bukan begitu maksudnya,” lirih Ara yang merasa tidak enak dengan Morgan.


Tak bisa dipungkiri, Ara juga butuh kehangatan dari sosok Morgan. Ia juga sangat rindu belaian lembut Morgan.


Morgan sudah mengetahui yang Ara maksudkan. Morgan melontarkan senyum, dan berniat untuk menjahili Ara.


Sebelah alisnya terangkat, “saya ke kampus dulu ya,” ucap Morgan seperti meminta izin kepada Ara.


Ara hanya diam sembari memandangnya miris.


‘Jangan pergi dong …,’ batin Ara yang tak rela berpisah dengan Morgan, walau hanya sebentar saja.


Sepertinya, Ara sudah mulai bisa menerima Morgan dengan sepenuh hatinya. Sudah tidak ada tabir yang memisahkan antara perasaannya dengan perasaan Morgan.


Mendadak perut Ara terasa sangat perih, membuatnya tak bisa menjawab pertanyaan Morgan.


Aku lupa, aku tidak makan sejak siang kemarin. Aku takut magh ku menjadi kronis kembali, pikir Ara yang baru saja mengingat tentang kondisi dirinya.


Ara mendadak memegangi perutnya dan memejamkan mata sembari menunduk, ia berusaha menahan sakit yang ia rasakan.


Morgan melihat Ara yang nampak seperti sedang menahan rasa sakit. Ia mendadak khawatir dengan keadaan Ara.

__ADS_1


“Awwsss ....”


Tak kuasa menahan sakit, Ara merintih kecil sembari tetap memegang perutnya. Morgan mendelik dan langsung mencengkeram kedua sisi bahu Ara.


“Ra, kamu kenapa?” tanya Morgan dengan panik.


Ara memandang ke arah Morgan. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun padanya.


Ara dengan cepat melepaskan tangan Morgan dari bahunya.


“Udah, kamu berangkat kerja aja ya ...,” lirih Ara yang terdengar sulit mengucapkan kata-kata itu.


Melihat ekspresi Ara yang seperti itu, semakin membuat Morgan menjadi tidak tenang dengan ekspresi yang Ara lakukan sekarang.


“Kamu sakit? Kamu kenapa, Ra? Kenapa perut kamu?” tanya Morgan yang panik dengan keadaan.


Ara menunjuk sesuatu ke arah belakang Morgan, membuat Morgan spontan menoleh ke arah yang Ara tunjuk.


“Obat ...,” lirih Ara.


Dengan sigap, Morgan berlarian menuju arah yang Ara tunjukkan.


Morgan menghampiri kotak obat yang tertata rapi di atas meja rias Ara. Morgan bergegas membukanya, dan melihat beberapa obat di sana.


Morgan memperlihatkan beberapa obat yang Morgan temukan. Namun, Ara tidak meresponnya sama sekali, dan semakin menahan sakitnya.


Tanpa pikir panjang, Morgan segera mengambil semua obat yang ia lihat, kemudian kembali duduk di samping Ara.


Morgan menyodorkan lima botol obat yang berbeda.


“Yang mana?” tanya Morgan, Ara membuka sedikit matanya untuk melihat ke arah obat yang Morgan bawakan untuknya.


Ara yang melihat ada banyak sekali obat yang Morgan ambil, segera mengambil salah satu dari semuanya yang Morgan pegang.


Ara menenggak obat itu dan mengambil gelas yang ada di meja yang berada dekat dengan lampu tidur.


“Glkk ... glkk ....”


Ara menelan habis segelas air mineral, yang semalam Morgan sediakan untuknya.


Setelah selesai meminumnya sampai habis, Ara kembali meletakkan gelas itu di tempatnya semula.


Morgan yang khawatir, langsung memeluknya dengan sangat erat.


“Maafin saya, Ra,” lirih Morgan dengan sangat lemas.

__ADS_1


Ara sama sekali tidak merespon ucapan Morgan, membuatnya merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Ara dengan sendu.


“Kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan tadi?” tanya Morgan yang masih tidak mengerti dengan yang Ara alami tadi.


“Telat makan,” lirih Ara, Morgan mendadak mendelik ketika mendengarnya.


Aku sampai lupa dengan hal itu. Ara sama sekali tidak boleh terlambat makan, kalau tidak, magh yang dia punya bisa kambuh seperti ini, pikir Morgan.


Morgan menepuk keras keningnya.


“Kapan terakhir kamu makan?” tanya Morgan, Ara menunduk takut.


“Kemarin siang,” jawab Ara, membuat Morgan melotot kaget.


“Ya ampun, Ra,” Morgan sudah tidak bisa berkata apa pun lagi.


Jadi, makanan yang semalam aku buat untuknya itu sama sekali tidak ia sentuh? Pikir Morgan.


Morgan segera beranjak dari tempatnya, untuk menyiapkan sarapan untuk Ara.


Melihat kepergian Morgan yang mendadak, membuat Ara bingung sendiri dengan kelakuannya.


“Morgan!” pekiknya Ara dengan lemas, namun Morgan tidak menghiraukan dirinya.


“Kenapa ya dia? Apa dia marah lagi, karena aku gak makan masakan dia semalam?” lirih Ara, yang sudah lemas tak berdaya.


Morgan langsung pergi ke arah dapur untuk memasak nasi goreng untuk Ara. Ia tidak berpikir untuk membuat menu masakan yang macam-macam. Ia hanya ingin Ara makan dengan cepat pagi ini.


Langkah Morgan terhenti, karena melihat semua makanan yang ia siapkan semalam, yang masih belum tersentuh di meja makan.


Morgan menggeleng kecil, “tapi pertama-tama, saya harus bereskan ini dulu,” lirih Morgan yang merasa sedikit kesal dengan keadaan.


Kepergian Morgan terlalu lama bagi Ara. Ia jadi bingung sendiri. Ara khawatir, Morgan pergi lagi tanpa pamit padanya.


“Dia mau ke mana sih?” lirih Ara bertanya-tanya.


“Apa jangan-jangan, dia udah pulang?” lirih Ara lagi, merasa penasaran.


Terkadang, aku sangat kesal dengan sikap Morgan yang selalu seenaknya sendiri. Tapi, aku justru malah semakin sayang dengannya yang mempunyai sifat seperti itu. Aku justru tidak ingin kehilangan dirinya. Dia memang terkesan kaku jika berhadapan dengan wanita, apa lagi wanita selain aku. Dia seperti tidak peduli dan bersikap acuh. Tapi justru, itu sangat bagus supaya dia tetap terus menjaga hatinya untukku, pikir Ara.


Ia tersenyum karena memikirkan Morgan yang dulu baginya Morgan hanyalah pria idiot, yang tidak mengerti bersikap terhadap seorang wanita. Tetapi sekarang, keadaannya justru berbalik, Ara yang terlihat sangat idiot ketika bersikap pada Morgan.


Sepertinya, tak ada lagi yang bisa menggantikan posisi Morgan di hatiku. Maafkan aku, jika aku terus-menerus menyakitimu. Aku tidak bermaksud demikian, pikir Ara.


......***......

__ADS_1


__ADS_2