
Ara sudah seperti wanita murahan saja, yang secara gampang mengobral harga dirinya di hadapan Morgan.
“Ih! Rese banget sih loe!” bentak Ara padanya, tapi Morgan hanya terdiam sembari menatap lekat ke arah bibirnya.
Suasana menjadi sangat canggung dari sebelumnya. Ara malah membalas tatapan aneh Morgan itu.
Ara tersadar dari lamunan. Saat ini, Morgan sudah sangat dekat dengan wajahnya. Deru napasnya sangat mengganggu Ara, karena desah napasnya itu, membuat Ara jadi mabuk kepahyang.
Ara hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya. Tapi, Morgan hanya memandangi ke arah bibir Ara saja. Tidak ada pergerakan sama sekali. Padahal, Ara sudah sangat menanti-nanti, saat-saat indah bersamanya. Meskipun logikanya menolak, tapi hatinya merasakan rindu dengan hangat ciumannya itu.
‘Duh ... ini orang kok gak mulai-mulai sih?’ batin Ara yang sudah kesal, karena Morgan membuatnya harus menunggu lama.
Aku tidak mungkin memulai duluan. Aku tidak ingin dia menganggap aku sebagai wanita murahan lagi. Aku harus menahan diriku, agar tidak kehilangan kendali, pikir Ara.
Morgan menyentuh bagian dagu Ara, dan menatap Ara dengan lekat. Ada getaran di hati Ara yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Hatinya mulai tidak bisa terkontrol lagi. Ingin rasanya ia memulai lebih dulu permainan panas ini. Tapi, itu semua tidak mungkin dilakukan Ara.
Manik matanya yang indah berwarna cokelat itu, membuat Ara semakin tidak berdaya dibuatnya.
“Would you be my girl?” tanya Morgan.
“Deg ....”
Seakan terguncang, hatinya Ara kini menjadi ketar-ketir dibuatnya. Seketika, napasnya seakan berhenti berembus, jantungnya berhenti berdetak, tetapi perlahan Ara mulai mengatur napasnya yang tersengal, akibat mendengar pernyataan cinta Morgan padanya.
Walaupun sudah sering kali Ara mendengarnya, dan selalu menolak pernyataan cinta dari Morgan, tapi pernyataannya kali ini terasa sangat berbeda. Ara menjadi lebih aneh mendengarnya.
Mungkin karena sudah terbiasa menolak, dan timbul perasaan iba terhadap Morgan.
Kenapa aku bisa sesenang ini mendengar kata itu terucap dari mulutnya? Aku bahagia mendengar kalimat itu. Apa yang harus aku katakan padanya? Aku harus menjawab apa setelah ini? Aku harus bagaimana? Bukankah dia pernah mengatakan untuk jangan pernah menaruh rasa padanya? Kenapa saat ini dia malah menyatakan perasaanya kepadaku? Pikir Ara.
Berbagai macam pertanyaan selalu muncul di pikiran, sehingga mengganggu konsentrasi Ara dalam berpikir. Ditambah dengan suasana yang memang sudah mencekam, membuat Ara semakin tidak keruan.
__ADS_1
Melihat ekspresi Ara yang sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaannya, Morgan segera menetralkan suasana, agar tidak terlalu canggung.
“Cupss ....”
Morgan mencium bibir Ara dengan lembut, membuat Ara sontak kaget dengan perlakuannya itu. Padahal, Ara sudah biasa melakukan hal itu bersama Morgan. Tapi setiap kali mereka melakukannya, setiap kali pula ara merasakan hal yang aneh, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ara sudah menanti-nanti hal ini sejak tadi. Dan tidak salah lagi, ini adalah pernyataan cinta Morgan yang paling romantis bagi Ara. Dia memperlakukan Ara dengan lembut, tanpa adanya paksaan.
Mungkin juga karena Ara sudah mulai luluh, dan tidak melakukan perlawanan seperti sebelumnya.
Setelah pernyataan cintanya, ia kemudian langsung mencium Ara, tanpa harus menunggu jawaban dari Ara. Apa Morgan takut, kalau saja Ara menolak cintanya?
Tapi jika aku menolak, aku pasti tidak akan menerima ciuman darinya, bukan? Pikir Ara.
Apa itu tandanya, Ara menerima cinta dari Morgan? Apa tandanya, Ara mencintai dirinya?
Entahlah, hanya Tuhan dan Author yang tahu, hihi.
Kali ini, Ara merasa takut kehilangan dirinya. Ara tidak ingin berpisah dengannya.
Lantas, bagaimana dengan Bisma?
Sejujurnya, aku tidak ingin mengecewakannya. Aku ingin sepenuhnya menjalani kehidupanku dengan normal, tanpa ada sangkut-paut dengan hal-hal yang berbau asmara. Aku ingin bebas, tapi aku tak kuasa untuk merasa kehilangan lagi.
Cukup diriku yang dahulu kehilangan sosok Reza yang sangat hangat, dan punya cara tersendiri untuk membahagiakanku. Aku tidak ingin kehilangan Bisma ataupun Morgan, dengan alasan apa pun juga, Pikir Ara.
Morgan merengkuh Ara dengan sangat lembut, membiarkan tangannya menari-nari di sekitar tengkuk Ara.
Tanpa disadari, hal itu malah menambah gairah Ara, untuk melakukan hal yang lebih dari yang ia dapatkan saat ini.
Apa aku begitu egois dengan tidak membiarkan salah satunya pergi dari hidupku? Aku memang mencintai Bisma dengan sepenuh hatiku. Tapi, tiba-tiba Morgan datang dengan memaksaku untuk mencintainya. Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini. Aku harus memberanikan diri untuk bertanya tentang kepastian aku dan Bisma. Aku tidak ingin salah ambil langkah untuk ke depannya. Mengingat masa laluku yang berantakan, yang mampu membuatku sengsara satu tahun ke belakang ini, pikir Ara.
__ADS_1
Walaupun Ara tengah hanyut dalam permainan hangat dari Morgan, tapi pikirannya tetap tidak bisa tinggal, dan menikmati keadaan yang ada. Banyak sekali hal yang harus dipikirkan, demi masa depannya itu.
Morgan melepaskan ciumannya itu dari Ara. Kini, mereka tertuju pada satu titik pandang.
Ara memandangnya dengan tatapan polos, sembari menunggu apa yang akan Morgan lakukan selanjutnya padanya.
Mata Morgan sudah terlihat kosong. Saat ini, ia sudah kehilangan kesadarannya.
“Saya gak akan tanya jawabannya saat ini juga. Kamu bebas untuk menentukan, sesuai keinginan kamu. Mau pilih ya atau tidak, saya akan tetap jadi satu-satunya untuk kamu,” lirihnya, seperti sedang memaksakan kehendak, dengan cara yang elegant.
Ara mendelik, tak sadar, Ara menelan salivanya sendiri. Ara tidak mengerti tentang perasaannya itu, yang terus berlawanan dengan logika. Ia tidak bisa terus-menerus berada dalam situasi seperti ini. Ia harus bisa mencari, dan menemukan jati dirinya sendiri.
Ia tidak bisa hidup, dalam keterpaksaan seperti ini.
Morgan pun beranjak bangkit dari tempatnya, sehingga Ara kebingungan dengan tingkah lakunya itu. Morgan seperti merogoh kantung belanjaan yang baru saja mereka beli.
Ara pun bangkit dan duduk di pinggir ranjang, dan hanya diam sembari memandang, hal apa yang akan Morgan lakukan.
Morgan terlihat mengeluarkan kalung yang Ara pilihkan tadi, untuk Fla. Morgan pun menoleh ke arah Ara dengan satu senyuman tipis di bibirnya.
Kini, Morgan duduk di samping Ara, dan mulai memakaikan kalung itu di leher Ara.
Ara mendelik, “a-apa maksudnya?” tanya Ara dengan gugup.
Morgan masih saja diam, sembari tetap memakaikannya kalung.
Aku bingung, kenapa kalung yang katanya untuk Fla, tapi malah ia berikan padaku? Pikir Ara.
“Nah ... bagus, kan,” ucap Morgan, sembari tersenyum menatap kalung itu.
Ara tersentuh, tak bisa bergeming karena tindakan Morgan kali ini, yang menurutnya sangat romantis.
__ADS_1
“Loe ngasih gue kalung? Katanya buat Fla?” tanya Ara yang masih setengah bingung, tapi Morgan malah tersenyum jahil pada Ara.