
Morgan mendelik mendengar perkataan Ara yang sangat terburu-buru.
Dengan segera, Morgan melihat ke arah handphone-nya. Terlihat panggilan tak terjawab yang sepertinya dari nomor kantor.
Morgan segera memakai kaos oblong, celana panjang dan jas yang ia kenakan saat bekerja pagi ini.
“Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Morgan dengan tergesa-gesa, membuat Ara mengangguk.
Di tengah derasnya hujan yang mengguyur sudut kota, Ara dan Morgan bergegas menuju ke rumah sakit yang tak jauh dari kampus.
Tak bisa dipungkiri, Ara sangat gelisah mengenai keadaan kakaknya, yang hanya berbicara singkat saat di telepon tadi.
Jalanan yang licin, hampir membuat Morgan kehilangan kendali atas kendaraan yang sedang ia kendarai ini. Morgan pun menghentikan laju mobilnya.
Ara mendelik, “hati-hati, Gan,” lirih Ara.
Morgan menghela napasnya, dan mengatur ritme detak jantungnya yang sudah tak beraturan.
Morgan kembali melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempat Arash berada.
Dengan cepat, mereka melewati basement rumah sakit, dan segera mencari ruangan yang Arash sebutkan tadi.
Ara mendelik, kerena di ujung koridor, ia melihat Arash yang sedang duduk di luar ruangan.
“Kakak?” pekik Ara, membuat Arash menoleh ke arahnya.
Arash bangkit dari tempat duduknya, dan kini mereka berhadapan satu sama lain.
“Akhirnya dateng juga,” ucap Arash, membuat Ara terlihat panik.
“Lho, kakak gak papa? A-apa yang sakit?” tanya Ara dengan rasa khawatir yang berlebih, membuat Arash terdiam.
Morgan mendekat ke arah ruangan yang ada di hadapan Arash saat ini.
Betapa terkejutnya Morgan, saat melihat bahwa Fla lah yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit, membuat Morgan panik setengah mati.
Morgan mendekati Arash, “Fla kenapa, Rash?” tanya Morgan dengan nada yang sangat tegang, tapi Arash hanya diam lemas tak tahu harus berbicara apa.
__ADS_1
Ara mendelik, “hah? Fla? Jadi ... yang sakit bukan kakak, tapi Fla?” tanya Ara, membuat Arash mengangguk sendu padanya.
Perasaan Ara sudah sangat campur aduk. Ia salah mengira, kalau kakaknya lah yang mengalami kejadian ini. Tanpa disangka, malah sahabatnya yang mengalaminya.
“Coba jelasin keadaan Fla,” pinta Morgan, membuat Arash menghela napasnya dengan panjang.
“Gue sendiri juga gak tahu, kenapa Fla bisa begitu,” jawab Arash, yang semakin membuat Morgan merasa terguncang.
“Terus, kenapa loe bisa nolongin dia?” tanya Morgan yang masih butuh penjelasan atas semua yang sudah terjadi.
“Gue gak sengaja ngeliat dia yang udah gak berdaya di koridor kampus,” jawab Arash, tapi Morgan masih belum bisa menyimpulkan tentang kebenarannya.
“Lalu?” tanya Morgan.
Ara bisa melihat tatapan kekhawatiran dari mata Morgan. Ara jadi paham, Morgan mempunyai sisi yang seperti ini jika sedang dilanda panic attack.
“Dokter bilang, Fla cuma alergi dingin. Karena banyak ruam di sekitar tubuhnya, dan juga tangannya yang membengkak dengan tidak wajar. Kebetulan cuaca lagi gak bersahabat, ditambah lagi Fla yang basah kuyup kena air dingin. Awalnya juga gue kaget, karena saat kejadian, muncul tanda-tanda begitu di tubuh Fla. Makanya gue bawa dia ke rumah sakit,” jelas Arash, yang masih mengganjal di hati Morgan.
“Tapi, kalau hanya alergi dingin, kenapa Fla bisa pingsan seperti itu?” tanya Morgan.
“Dokter bilang, itu karena suhu badan Fla yang sedang panas, tiba-tiba terkena air yang sangat dingin, langsung dari kepalanya. Makanya, kita dianjurkan tidak mandi langsung membasahi kepala, khawatir tidak kuat dan parahnya lagi bisa stroke,” jelas Arash dengan rinci, bak seorang dokter.
Masuk akal, pikir Morgan.
“Gue rasa, dia jadi korban bullying di kampusnya,” gumam Arash, membuat Morgan berpikir.
“Bullying?” lirih Morgan.
Ara mendelik.
‘Siapa yang berani nge-bully Fla?’ batin Ara, geram dengan perbuatan orang-orang tidak bertanggung jawab itu.
Morgan masih tidak percaya dengan ucapan yang Arash katakan. Morgan menatap Arash dengan dalam.
“Loe tahu, siapa yang ada di situ, saat Fla pingsan?” tanya Morgan, membuat Arash berpikir sejenak.
“Koridor saat itu sepi, gak ada orang sama sekali. Makanya gue berusaha buat bantu dia,” jawab Arash, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Apa saat itu hujan sudah turun?” tanya Morgan, Arash hanya menggeleng kecil.
Masih tak habis pikir aku dibuatnya. Jika memang Fla kehujanan, pasti saat sebelum Arash menolong Fla, mereka sama-sama basah kuyup. Tapi, alergi dingin Fla ini bukan disebabkan dengan air hujan. Berarti benar yang dikatakan Arash, kalau Fla mengalami bullying, pikir Morgan merenungi semua yang Arash katakan.
Morgan mendelik dengan tajam, “coba diingat lagi, apa ada orang yang melintas dengan mencurigakan, saat kejadian Fla tadi?” tanya Morgan, membuat Arash berpikir kembali dengan keadaan.
“Orang yang melintas ...,” lirih Arash sembari berusaha memikirkan kejadian yang baru saja ia lalui.
Ternyata, rasa sakit di hati Arash karena tertolak dengan wanita yang ia cintai, sudah membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Arash masih belum menemukan keganjalan.
Morgan masih berusaha menunggu jawaban dari Arash, karena satu petunjuk, bisa mengungkapkan satu kasus ini.
“Ayo, ingat lagi,” lirih Morgan.
Arash mendelik, “ada tiga orang yang melintas, dengan buru-buru,” ucap Arash membuat Morgan dan Ara terkejut mendengarnya.
“Hah, tiga orang?” tanya Morgan, “apa yang kamu maksud itu satu perempuan, dan dua laki-laki?” tanya Morgan, membuat Ara berpikir yang Morgan maksudkan.
“Maksud kamu, Ray, Rafa dan Farha yang ngelakuin ini?” tanya Ara, membuat Morgan menoleh ke arahnya.
“Saya hanya menerka,” ucap Morgan, membuat Ara mendelik kesal ke arahnya.
“Ray, Rafa, dan Farha gak akan berbuat begitu! Kita kan best friend!” sanggah Ara, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Bukan mereka,” lirih Arash, membuat Morgan kembali menoleh ke arah Arash.
“Lantas, siapa tiga orang tadi, yang kamu maksud?” tanya Morgan dengan tajam, membuat Arash berpikir kembali.
Arash berdeham, “saya juga gak tahu, siapa yang berbuat seperti ini. Tapi, sebelum saya melihat Fla, saya melihat mereka sedang berlari dengan sangat terburu-buru. Awalnya saya gak curiga sama mereka, karena memang saya gak tahu keadaan Fla saat itu,” jelas Arash, semakin membuat Morgan merenung.
Pasti ada kunci untuk permasalahan yang terjadi ini, pikir Morgan yang masih percaya dengan kata hatinya.
“Yang saya tahu, mereka semua perempuan,” ucap Arash, membuat Morgan mendelik.
Ara pun mendelik demikian.
Jika yang kakak bilang benar, bahwa semuanya perempuan, berarti ada dugaan kalau orang yang melakukannya adalah orang yang saat ini sedang berseteru denganku? Pikir Ara yang masih menerka-nerka keadaan.
__ADS_1
“Perempuan?” lirih Morgan yang masih berpikir dengan orang yang Arash maksudkan.
Morgan berpikir, apakah saya harus ke kampus untuk melihat hasil dari rekaman CCTV, yang mengarah koridor?