Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kesalahpahaman


__ADS_3

Malam itu, Arash sudah menyelesaikan acaranya bersama dengan beberapa client. Acaranya sengaja dipersingkat karena, Arash yang sudah rindu ingin bercengkerama dengan adiknya, yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke arah rumahnya.


Arash kembali ke rumah, dan segera masuk ke dalamnya untuk sekedar merenggangkan pinggangnya yang pegal, akibat terlalu lama beraktivitas. Ditambah lagi, semalam ia sudah menghabiskan malam bersama wanita yang ia temui di bar, membuat pinggangnya semakin terasa panas.


"Brukk ...."


"Ahh ...."


Arash menjatuhkan dirinya di atas sofa, membuatnya merasakan sensasi menenangkan setelah seharian bekerja.


"Duh, dengkul kok lemas banget, ya? Apa ... efek semalaman sama dia, jadi seperti ini?" ucap Arash yang mengeluh dengan keadaan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Arash bangkit untuk mencari tasnya, karena ia masih harus mengerjakan laporan untuk dipakai presentasi di hari senin, karena Arash mengerti, ia tidak akan bisa mengerjakan laporan esok hari, karena Ares yang pasti akan selalu memintanya untuk mengajaknya berkeliling.


"Huft ...."


Arash menghela napasnya dengan panjang.


"Weekend waktunya istirahat, kok malah kerja?" gumam Arash yang mengeluh dengan keadaannya.


Ia mendelik, karena tak sengaja mengambil sesuatu yang aneh, ketika sedang merogoh tasnya. Dengan rasa penasaran, ia pun segera mengambilnya.


Terlihat di hadapannya saat ini, sebuah tas genggam milik Fla, yang belum sempat ia kembalikan, karena ia yang tadi terlupa akibat terlalu serius untuk menghadiri pertemuan itu.


"Wah, harus cepat-cepat dibalikin nih!" gumam Arash, yang segera mengambil kunci mobilnya, kemudian segera berlari ke arah pintu rumah.


"Ckrekk ...."


Arash membuka pintu. Ia mendelik, ketika hendak melangkahkan kakinya melewati pintu, karena di hadapannya saat ini, sudah ada Fla yang juga sedang terkejut di hadapannya.


"Oh ...," gumam Arash, yang masih tak percaya dengan Fla yang ia lihat di hadapannya.


"Kak Arash," gumam Fla, yang juga nampak terkejut dengan Arash yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, padahal Fla hampir saja mengetukkan tangannya ke pintu rumah Arash.


"Ada apa, Fla?" tanya Arash yang nampak gugup dengan kedatangan Fla yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Itu ... aku ... mau ambil dompet yang ketinggalan. Waktu itu kak Ilham ngabarin aku kalau dompetnya ada di Kak Arash, tapi aku belum sempat ambil. Jadi ... aku ambil sekarang deh," ucap Fla menjelaskan dengan nada yang sangat malu-malu.


Arash mendelik tak percaya dengan apa yang ia jelaskan. Arash mengaduh dalam hati, karena Fla datang di saat yang tepat.


'Kali ini tepat. Mungkin, dia akan datang di saat saya sedang bersama dengan para wanita itu,' batin Arash, merasa sangat khawatir kejadian itu sampai terjadi.


Arash mengusap pelan dadanya, yang masih terpacu itu.


"Kan bisa hubungin saya dulu sebelum ke sini. Kenapa mendadak banget?" tanya Arash yang masih khawatir dengan keadaan dirinya, jika saja tertangkap basah sedang bercinta bersama wanita acak pilihannya.


Fla menunduk sendu, karena reaksi Arash yang seperti tidak menyukainya.


'Kok Kak Arash responnya kayak gitu, sih? Kan jadi sedih dengernya,' batin Fla yang mendadak menjadi mellow.


Melihat Fla yang nampak murung, membuat Arash bingung, karena secara tidak sengaja, dirinya sudah membuat Fla menjadi sendu.


"Emm ... maaf bukan seperti itu maksud saya--"


"Udah lah, Kak. Aku ke sini cuma mau ambil barang yang ketinggalan aja, kok. Maaf kalau mengganggu," ucap Fla dengan nada sendu, membuat Arash merasa sangat bersalah padanya.


"Gak gitu, Fla. Maksud saya--"


Arash melihat ke arah tangannya. Ia sampai lupa, kalau tujuannya menuju ke pintu rumah adalah untuk mengantarkan dompet ini kepada Fla.


Tetapi tak disangka, kejadiannya akan jadi seperti ini.


"Iya sih ... tapi--"


Fla merebut dengan cepat barang miliknya yang berada di tangan Arash, membuat Arash mendelik tak percaya dengan apa yang Fla lakukan.


Fla pun pergi dari sana, meninggalkan Arash secepat yang ia bisa, membuat Arash terdiam sejenak karena tidak mengerti apa yang harus ia lakukan setelahnya.


"Duh ... kok jadi begini ujungnya?" gumam Arash, yang tidak tahu harus berbuat apa.


"Fla!" pekik Arash dengan keras, tapi Fla hanya diam, seakan tak mendengar pekikan keras dari Arash.

__ADS_1


Arash berusaha mengejar Fla yang sudah jauh di sana meninggalkan Arash.


Dengan perasaan sedih bercampur kesal, Fla melangkah dengan langkah yang jenjang, menuju ke arah pagar rumah Arash.


"Fla!"


"Grepp ...."


Arash berhasil menahan tangan Fla, membuat Fla tidak bisa pergi lagi menghindari Arash.


"Ih Kak Arash, lepasin!!" teriak Fla yang memberontak dengan ambigu, membuat Arash semakin terkejut karena dirinya yang sudah mengundang perhatian public.


Arash gelagapan, tidak ingin mereka salah sangka terhadapnya.


"Fla, jangan teriak-teriak!" ucap Arash, yang tak dihiraukan Fla.


"Lepasin ih ... lepasin ...."


Arash sudah benar-benar tak habis pikir dengan Fla, yang masih terus berteriak dan memberontak, membuat Arash sedikit jengkel padanya. Ia pun menghela napasnya panjang, lalu segera menarik Fla ke dalam pelukannya, membuat Fla mendelik kaget dengan yang Arash lakukan padanya.


"Sudah, diam. Jangan bergerak lagi. Makanya dengar dulu penjelasan saya," ucap Arash dengan sedikit bentakan kecil, membuat Fla terus-menerus mendelik, tak percaya dengan Arash yang saat ini sedang memeluk dirinya.


'Duh ... jadi gini toh rasanya ngambek sama Kak Arash? Ternyata, dia sweet banget,' batin Fla yang semakin terkesima dengan sikap Arash padanya.


Setelah sekian lama tidak membuka hatinya, kini ia kembali membuka pintu itu dengan sukarela.


Semoga saja dia tidak hanya singgah, tapi menetap di hati ini, sehingga aku bisa menyediakan hati, bukan segelas kopi, pikir Fla yang mulai melayang jauh.


Arash terdiam beberapa saat, agar suasana bisa ia netralkan dengan segera, supaya Fla tidak salah paham berkelanjutan dengannya.


"Saya tuh bilang seperti itu karena kaget tiba-tiba kamu udah di rumah, padahal saya udah siap-siap mau ke rumah kamu buat antar dompet ini," ucap Arash menjelaskan pada Fla, membuat Fla terkejut mendengarnya.


'Hah, jadi gitu?' batin Fla yang dengan mudahnya percaya dengan penjelasan yang Arash paparkan.


"Maaf kalau respon saya berlebihan. Itu semua karena saya kaget. Dan saya peluk kamu seperti ini, karena kamu teriak-teriak begitu, bikin salah paham orang yang lewat depan pagar, padahal saya gak ngapa-ngapain kamu. Gimana kalau mereka mikir kalau saya ngapa-ngapain kamu, terus saya digrebek?" ucap Arash, yang menyadarkan Fla tentang hal itu.

__ADS_1


Fla membenamkan wajahnya pada dada bidang Arash, membuatnya sadar dengan kesalahan yang ia lakukan.


"Sraaakkk ...."


__ADS_2