Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terbit Kan Tenggelam


__ADS_3

Ara memelototinya, "Kamu kenapa, Ham?" tanya Ara yang panik dengan keadaan Ilham yang sebenarnya.


Ilham segera menenangkan Ara yang terlihat sudah panik, berusaha memeluknya dengan erat. Ara masih saja meronta, karena merasa sangat khawatir dengan keadaan Ilham.


"Percaya sama aku, itu lipstik kamu, Ra!" ucap Ilham, membuat Ara tak menentu.


"Aku gak pernah pakai lipstik merah. Itu bukan lipstik, kan?" desak Ara dengan tangis yang sudah pecah, membuat Ilham menjadi bingung dengan yang harus ia lakukan.


Morgan mendengar percakapan mereka dari luar kamarnya, membuatnya sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


"Ra ...," gumam Ilham dengan sangat lembut, tetapi Ara masih saja histeris.


"Ra ...," gumam Ilham yang masih tidak dihiraukan.


Ilham menghela napasnya, karena merasa dadanya sudah sangat sesak. Jantungnya terasa seperti sangat teriris, membuat setiap tarikan napasnya menjadikan jantungnya sangat perih, layaknya tertusuk jarum.


Ilham meletakkan dagunya pada bahu Ara. Ia sesekali menciumi leher Ara, membuat cairan merah yang ada di mulut Ilham, berpindah pada leher Ara.


"Ra, aku punya nama yang cocok untuk si kembar. Ardi dan Ardhan," ujar Ilham, membuat Ara menghentikan tangisnya.


"Kenapa kamu pilih nama itu?" tanya Ara, membuat Ilham terpaksa harus tersenyum.


Ilham menahan sekuat tenaga, dadanya yang sudah sangat sesak itu. Ia masih bisa melontarkan senyuman ke arah Ara.


"Ardi, yang berarti menjadi orang besar. Supaya kelak dia akan jadi orang yang besar kedudukannya, bukan besar kepalanya. Ardan berarti berkeinginan keras untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Semoga kelak Ardan bisa melanjutkan cita-cita dan impian saya," jawab Ilham, membuat Ara tersenyum dalam derai air mata.


"Memangnya cita-cita dan impian kamu, apa?" tanya Ara.


"Menjaga kamu."


"Degg ...."


Hati Ara mendadak terguncang, mendengar jawaban Ilham yang sangat membuatnya tersentuh. Tak disangka, impian Ilham sangatlah sederhana. Ara kembali menangis mendengarnya, karena merasa sangat tersentuh.


"Uhukk ... uhukk ...."

__ADS_1


Ilham tiba-tiba saja batuk, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


"Aku boleh tiduran di paha kamu?" tanya Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.


Ilham dengan susah payah meletakkan kepalanya di atas paha Ara. Kini, pandangan mereka pun tertuju pada satu titik. Tak sedetik pun pandangan Ilham teralihkan dari Ara, membuat setiap tetes air mata Ara pun berjatuhan dari pelupuknya, dan mengenai pipi Ilham.


Ilham dengan sangat lembut, mengusap air mata Ara menggunakan jarinya. Tak disangka, itu malah membuat tangis Ara semakin pecah karenanya.


"Jangan nangis lagi. Suatu saat, akan ada yang bisa menghapus air mata kamu. Jangan pernah kamu menolak takdir lagi, ya? Ingat pesan aku," ucap Ilham teriring senyum, membuat Ara menggelengkan kepalanya.


"Enggak, aku cuma mau kamu!" bantah Ara, membuat Ilham mengeluarkan cairan bening dari kedua matanya.


Tak bisa dipungkiri, kalau ia sangat menyayangi Ara. Namun, kali ini sudah mencapai batasnya, Ilham tak mampu lagi bertahan, ditambah ia yang sudah terlambat meminum obatnya hari ini.


"Aku sayang kamu, Ra. Jangan sia-siakan hidup kamu. Tolong jaga Ardi dan Ardan nanti, ya? Bilang sama mereka, kalau ayahnya sangat menyayangi mereka. Ayah juga sayang sama kakak mereka, yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Ayah gak pilih kasih kok, ayah juga sayang sama bundanya," ujar Ilham.


"Tess ... tess ...."


Tangisan Ilham tak terbendung, membuat hati dan perasaan Ara semakin tak terbendung. Setiap tetes air mata Ara, selalu menetes mengenai wajah Ilham yang sudah terlihat sangat pucat. Mendengar perkataan Ilham, membuat isak tangis Ara kembali pecah.


"Jaga bunda ya, Ardi dan Ardan," ujar Ilham dengan lemas.


Ilham pun memejamkan matanya karena sudah terlalu lelah, membuat Ara mendelik karenanya.


"Ilham ...," panggil Ara, tetapi semakin lama Ilham semakin lemas, dengan mata yang sudah terpejam.


"Ilham ...," panggilan kedua dan Ilham pun tidak menjawab panggilan Ara.


Tangisan Ara semakin menjadi. Tangan Ilham yang sedari tadi menggenggam tangan Ara, kini sudah terasa lemas, membuat Ara terguncang seketika melihat perubahan Ilham yang sudah tak bergerak lagi.


"Ilham!!" teriak Ara sekeras yang ia bisa, membuat Morgan yang mendengar dari depan kamar menjadi kaget karenanya.


Dengan segera Morgan menerobos masuk ke dalam kamar mereka, dan melihat Ilham yang sudah memejamkan mata, dan Ara yang menangis tak menentu.


"Ara," gumam Morgan yang kaget melihat ekspresi Ara yang sangat sedih.

__ADS_1


Morgan melihat ke arah Ilham yang sudah memejamkan mata itu. Dengan segera, Morgan menghampiri Ilham, dan menyentuh denyut nadi di leher Ilham.


Matanya seketika mendelik, karena mengetahui kalau Ilham kini sudah tiada.


"Ilham ... sudah gak ada, Ra," gumam Morgan dengan sangat sendu, membuat tangis Ara seketika pecah kembali.


Ucapan Ilham selalu terngiang di telinga Ara.


...-Flashback on-...


"*Saya pasti akan pergi, tapi gak sekarang. Karena, masih ada kamu yang harus saya jaga," ucap Ilham, membuat air mata Ara kembali menggenang di pelupuknya.


Ara menatap Ilham dengan sinis, "Kak Ilham mau ke mana?" tanya Ara dengan sinis, membuat Ilham lagi-lagi tersenyum padanya.


"Rahasia," jawab Ilham, membuat Ara memandangnya dengan kesal*.


...-Flashback off-...


Rahasia, satu kata berjuta makna.


...***...


Semua orang sudah berkumpul. Ara dan teman-temannya, beserta ayah dari Ilham, Arash dan juga Morgan sudah berkumpul di pemakaman Ilham. Ada juga Bunga, Ares dan Jessline yang juga sangat kehilangan Ilham.


Ara memeluk Arash dengan sangat sendu, teriring tangisan yang tak pernah sedetik pun berhenti. Ara sangat terpukul dengan kepergian Ilham yang sangat tiba-tiba baginya. Baru saja ia bahagia, justru harus kandas seperti ini. Bukan karena ada orang ketiga, tetapi maut yang memisahkan mereka.


Satu per satu teman-teman Ilham sudah pergi dari pemakaman. Kini, hanya tinggal mereka saja yang benar-benar dekat dengan Ilham dan juga Ara.


Ayah Ilham kini berhadapan dengan Ara, membuat Ara memandangnya dengan sendu.


Ia mengusap lembut puncak kepala Ara, "Nak, terima kasih sudah mau menemani Ilham selama ini. Ayah sangat beruntung mempunyai menantu seperti kamu," ujar ayah, membuat Ara berusaha tersenyum ke arahnya.


"Aku juga beruntung, punya ayah mertua selembut ayah. Aku gak akan pernah lupakan ayah. Boleh gak, aku anggap ayah sebagai ayah aku sendiri?" tanya Ara dengan tangis yang selalu mengalir dari matanya.


Semua orang yang mendengar percakapan mereka, menjadi sendu. Bahkan Fla kini sudah menangis karenanya.

__ADS_1


Ayah Ilham tersenyum haru mendengar ucapan Ara, "Boleh, Nak. Kamu boleh anggap ayah sebagai ayah kandung kamu. Walaupun Ilham sudah tiada, kamu masih tetap menantu ayah. Ayah mau kamu jangan memutuskan hubungan dengan ayah, karena ayah mau melihat anak kalian lahir nantinya," jawab ayah Ilham, teriring tangis yang juga sudah mengalir.


__ADS_2