
Sekiranya dirasa sudah cukup aman, Ara menutup kran wastafel dan mengelap tangannya secara sembarang, membuat Fla agak risih dengannya.
“Ngelapnya yang bener,” sinis Fla, membuat Ara melontarkan senyuman tak enak.
“Yaudah sih,” lirih Ara.
“Pelan-pelan kalo ngomong, Ra,” bisik Fla.
Ara hanya mengangguk paham, memahami ucapan Fla.
Ara dan Fla hanya diam, sampai orang yang baru saja masuk ke dalam toilet, pun keluar dari toilet itu.
Ara sudah bisa menghela napasnya sekarang.
“Aman,” lirih Ara dan Fla secara bersamaan, sembari mengelus dada.
Fla menoleh ke arah Ara, “tadi sampai mana kita?” tanya Fla membuat Ara sedikit berpikir.
“Oh ya, kan loe tau gue pacaran sama Morgan. Gak mungkin dong … gue berbuat macem-macem sama cowok lain? Apa lagi sama cowok yang gak sendiri gue kenal itu siapa,” bentak Ara dengan tegas, membuat Fla menghela napasnya dengan panjang.
“Ya … gimana?” lirih Fla, yang sepertinya masih tidak percaya.
“Fla, harus gimana lagi gue ngejelasinnya, sih?” Ara sudah hampir putus asa berbicara pada Fla.
Fla mendelik, “lagian, ada-ada aja itu orang. Terus, cepet amat dia nge-print fotonya, terus ditempel di mading? Gila itu orang! Gue yakin sih, pelakunya gak sedikit. Lebih dari 2 orang,” cerca Fla, mengubah sudut pandang Ara.
Aku tak habis pikir dengan mereka yang tega membuat berita hoax seperti ini, pikir Ara.
“Haah ... udah lah, gue capek. Liat aja, gue gak akan lepasin mereka yang udah nyebar hoax,” ucap Ara, membuat Fla agak merinding.
“Ke kelas aja yuk. Siapa tau, dosen Lidya udah ngisi kelas,” ajak Fla.
Ara pun mengangguk, kemudian mereka bergegas untuk menuju ke kelas.
Ara membuka pintu kelas. Seketika semua mata tertuju pada Ara dan juga Fla. Sudah ada dosen Lidya di sana. Dan juga, ada seorang gadis asing, yang baru saja Ara lihat, sedang berdiri di depan kelas.
Gadis yang memiliki tone kulit yang nyaris seperti sawo itu, melihat juga ke arah Ara.
“Dari mana kalian?” tanya dosen Lidya dengan tatapan tajam.
Ara mengubah fokusnya menjadi ke arah dosennya, dan membalas tatapannya dengan tatapan angkuh, sembari melipat kedua tangannya.
Lidya seperti mengerti dengan maksud Ara. Lidya terlihat seperti merasa kesal, karena Ara yang sedamg memegang aibnya, bersama dengan dosen Dicky waktu itu.
__ADS_1
“Emm … ka-kalian boleh duduk,” suruh dosen Lidya dengan terbata-bata, sembari menunduk.
Ara tersenyum jahil ke arah dosen itu, kemudian Ara pun duduk di kursinya, begitu juga dengan Fla.
Lidya kembali mengedarkan pandangannya, “saya ulangi. Hari ini, kalian kedatangan teman baru,” ucap Lidya, “coba, perkenalkan nama kamu,” ujar dosen Lidya, yang terkenal sebagai dosen killer itu.
Gadis manis itu mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman yang lain, “nama saya Farha Putri. Kalian bisa panggil Farha. Hobi saya itu, membaca, menulis, menggambar. Kalian bisa kontak saya di nomor +6289xxxx . Terima kasih dan salam kenal untuk kalian semua,” ucap gadis yang bernama Farha itu, menjelaskan bionarasinya.
Nadanya terdengar sangat imut untuk gadis seusianya. Teman-teman yang lainnya, berusaha untuk mencatat nomor telepon Farha yang ia ucapkan secara cepat.
Aku tidak habis pikir dengan para laki-laki di kelasku. Kenapa mereka bisa dengan mudahnya mendekati wanita yang baru saja mereka kenal? Pikir Ara.
“Baik, Farha. Silakan duduk di belakang Fla,” ucap dosen Lidya, sembari menunjuk ke arah kursi kosong yang berada di belakang Fla.
Kursi itu memang sudah lama kosong begitu saja, karena tidak ada yang mau duduk di barisan tiga terdepan.
Entah kenapa dosen tidak ada yang memarahinya. Jadi, kursi itu dibiarkan saja kosong seperti itu.
Farha mengangguk kecil, “baik, Bu,” ucap Farha.
Farha pun menuju baris ke tiga dan melewati Ara.
“Brukkk ....”
Farha terlihat sengaja menjatuhkan pulpennya, membuat Ara yang melihat benda milik Farha terjatuh, langsung mengambilnya.
Farha menoleh ke arah Ara, sembari melontarkan tersenyum manis padanya.
“Oh, makasih ya ...,” Farha terlihat kebingungan menyebut nama Ara.
Mungkin seperti itu.
“Ara,” lirih Ara, membuat Fla tersenyum.
“Oh ... makasih ya, Ra,” ucapnya.
Ara mengangguk kecil sembari tersenyum kecil pada Farha.
Farha pun berjalan menuju kursinya itu, kemudian ia pun duduk di sana.
Setelah sudah merasa cukup terkendali, Lidya membuka buku pelajaran yang sedari tadi ia bawa, untuk memberikan materi pelajaran.
“Baik semua. Sudah selesai sesi perkenalannya. Buka modul tiga ya,” ucap dosen itu.
__ADS_1
Mereka dengan terpaksa membuka modul, dan memulai pembelajaran kali ini.
***
Jam istirahat pertama pun sudah tiba. Mereka semua sedang bersiap untuk menuju ke kantin.
Ray dan Rafa menghampiri Ara dan juga Fla, yang masih mengemas barang-barangnya yang masih tercecer.
Ray dan Rafa memang duduk di kursi paling belakang, dengan alasan tidak mau bertatapan langsung dengan dosen.
Ya ... namanya juga laki-laki.
“Pada mau makan siang gak nih?” tanya Rafa.
Beberapa teman yang lainnya melewati mereka, “duluan, Bro,” sapa beberapa teman laki-lakinya.
“Oke, Bro,” jawab Rafa dan Ray secara bersamaan.
Satu per satu teman-teman yang lain sudah mengosongkan ruangan. Kini, hanya tinggal Ara and the genk saja.
“Eh gimana, mau pada makan, gak?” tanya Ray menegaskan.
“Gue mau,” jawab Fla yang sedang asyik mempersiapkan headphone-nya.
Ray dan Rafa menoleh ke arah Ara.
“Gue sih mau. Cuma … jangan sampe ketauan Morgan dong ... gue males, dilarang mulu kalau makan makanan kantin. Alasannya, gak steril lah, jajan sembarangan lah ...,” sambar Ara.
Mereka bertiga berekspresi seolah seperti sedang mengejek Ara. Mereka berbisik namun tetap memandang ke arah Ara, membuat Ara yang melihatnya menjadi kesal dengan mereka.
“Eh, ngapain pada ngomongin? Tampol nih!” ancam Ara, sembari mengepalkan tangannya ke arah mereka.
Mereka semua tertawa melihat ekspresi Ara yang bagi mereka sangat lucu.
“Habisnya ... takut banget sih kayaknya sama PACAR,” ledek Ray, yang menekankan kata ‘pacar’.
“Biasa, loe kayak gak tau penganten baru aja sih,” sambar Rafa.
Ara semakin geram saja karena mendengar celotehan mereka, yang tidak disaring lebih dulu.
Ara melepas sepatu yang ia pakai dan mengarahkannya ke arah mereka, “weh bisa diem gak sih?” tanya Ara dengan nada yang sinis, membuat teman-temannya bergidik ngeri.
Seseorang melihat mereka yang sedang asyik bercengkerama di sana. Ia melihat dengan tatapan misterius, yang hanya dia saja yang mengetahui maknanya.
__ADS_1
“Permisi,” sapa seseorang.
Mereka semua terkejut dan langsung mengubah fokus ke arah orang yang baru saja menyapa mereka.