Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Efek Shochu


__ADS_3

Ara bertambah bingung dengan keadaan. Ia tidak bisa jika dihadapkan dengan pilihan. Ia tidak terbiasa memilih. Karena, apa yang ia inginkan, harus ia dapatkan, bagaimana pun caranya.


‘Kalo gue milih jujur, nanti banyak pertanyaan yang macem-macem lagi. Tapi kalo gue milih minum, nanti gue teler!’ batin Ara yang merasa bimbang dengan pilihan yang ada.


Ara mengedarkan pandangannya pada mereka semua yang sedang memperhatikan ke arah Ara, ‘semoga gak teler banget lah ya,’ batin Ara yang berusaha memantapkan pilihannya.


“Dare,” jawab Ara dengan penuh keraguan.


Seketika semua orang bersorak. Hanya Morgan saja yang diam dengan sikap khasnya itu.


“Gue dulu ya yang ngasih tantangan,” ujar Fla, membuat Ara gugup dengan pilihan tantangan yang Fla pilihkan.


Mata Fla menyipit jahil, ia mempunyai rencana yang akan membuat Ara mengakui perasaannya kepada kakaknya. Karena rasa penasaran Fla, yang masih menghantuinya sampai saat ini. Apalagi Fla juga beberapa kali melihat Ara bersama Morgan, melakukan hal-hal intim yang membuatnya selalu salah paham.


“One shoot atau ...,” ucapnya terpotong, membuat Ara semakin penasaran, “pilih satu laki-laki untuk loe tembak!” ucap Fla sontak membuat Ara terkejut.


“Deg!” Jantung Ara terguncang seketika, setelah mendengar lanjutan ucapan Fla.


Mana bisa seperti itu? Pikir Ara.


Ara sudah mencium sesuatu yang aneh di sini. Sepertinya, pertanyaan dari Fla memang sudah diatur supaya bisa membuat Ara malu di hadapan teman-teman lainnya, dan juga kakaknya.


Ara mendelik, “Gila kali ya!” bentak Ara kesal.


Mereka semua tertawa geli, kecuali Morgan.


“Ayo ... pilih,” suruh Rafa, membuat Ara bingung untuk memilih.


Ara menoleh ke arah kakaknya, “gue pilih Kak Arash!” ucap Ara tiba-tiba, membuat semua orang melontarkan pandangan kesal ke arahnya.


“Kak Arash itu kakak loe, mana mungkin loe nembak dia, Arasha ...,” gumam Ray dengan sikap yang slengean.


“Tau nih, gimana kali!” sambar Rafa.


“Yang serius ah!” lanjut Fla.


“Yeh ... mana ada permainan yang serius? Kalo serius tuh gak main-main! Lagian kan gak ada peraturannya, kan? Fla cuma bilang suruh milih laki-laki yang pengen gue nyatain perasaannya, ya gue pilih kakak gue lah!” ucap Ara sembari tetap membela dirinya.


Ray dan yang lainnya terdiam mendengar perkataan Ara.


“Bener juga sih ...,” lirih Rafa.


“Iya sih,” ucap Ray.

__ADS_1


Fla yang melihat respon Ray dan Rafa, menjadi kesal karena tidak mendukung sepenuhnya dirinya.


“Woy ah, kenapa pada labil gini, sih?” sinis Fla pada Ray dan juga Rafa, Fla langsung menoleh ke arah Ara, “gak bisa gitu lah, harusnya logikanya dimainin, jangan ditelan bulat-bulat perkataan gue tadi,” protes Fla pada Ara.


“Lho, justru gue gak telen mentah-mentah, gue ayak dulu, makanya gue bisa mikir begitu,” Ara masih tidak mau kalah dengan Fla.


Fla memelototi Ara dengan sinis, “Ya gak bisa gitu dong, Ra ....”


“Apanya yang gak bisa, coba?” sanggah Ara.


Arash yang melihat ada bau-bau keributan, merasa gemas sekali.


“Eh, udah-udah, gak usah pada ribut bisa gak, sih?” tanya Arash dengan sinis, membuat Fla dan Ara menjadi terdiam seketika.


Ara menatap sinis ke arah Fla, “loe sih!” ucap Ara dengan kesal.


Fla menatap Ara tak kalah sinisnya, “loe tuh!” balas Fla.


“Apan, loe duluan ngasih pertanyaannya yang gak jelas!” sambung Ara, membuat Fla kembali jengkel.


“Loe lagian terlalu brilian, mana ada adek nembak kakaknya sendiri?” timpal Fla, semakin menyulutkan api kemarahan Ara.


“Ya ada lah! Kan permainan, gak beneran!” Ara masih bersikukuh dengan pemikirannya.


“Masih mau ribut?” tanya Arash, Fla dan Ara menyedekapkan tangan mereka, dan membelakangi satu sama lain.


“Tinggal pilih aja sih, Ra. Ini juga cuma permainan aja, kok,” tukas Rafa.


“Tau nih!” sambung Ray yang membenarkan perkataan Rafa.


Dengan berat hati, Ara mempersiapkan dirinya.


“Minum aja lah!” Ucap Ara agak sedikit berteriak.


Mereka menyoraki dan memberikan minuman itu pada Ara. Ara menerimanya dengan berat hati, kemudian meminumnya dengan ragu. Namun pada akhirnya, Ara bisa menenggaknya dalam satu tenggakan.


Rasanya tenggorokan Ara tidak cocok untuk meminum minuman yang seperti ini. Jangankan Shochu, soft drink pun, Ara tidak sanggup untuk melakukan one shoot.


“Ahh ....”


Ara menahan rasa terbakar yang dahsyat di tenggorokannya. Mereka semua tertawa puas melihat ekspresi Ara seperti itu. Napas Ara agak sesak, karena terburu-buru menenggaknya.


“Ayo puter lagi!” teriak Ray yang sangat bersemangat.

__ADS_1


Ara yang kesal, melihat ke arah Morgan yang juga sedang memandang ke arahnya. Tiba-tiba saja Ara bertambah kesal setelah melihat Morgan yang berada di sebelahnya.


‘Apaan sih? Bukannya kayak di film-film gitu kek, yang menyelamatkan ceweknya buat minum bir, biar si cewek gak ngerasain minum. Gak peka banget si Morgan! Malah diem aja!’ batin Ara yang kesal dengan Morgan yang hanya diam, saat Ara dipaksa minum alkohol.


Botol Shochu pun kembali diputar. Entah siapa yang kedapatan minum kali ini. Beberapa saat mereka menunggu botol itu berhenti.


Seketika mata Ara membulat, lagi-lagi botol itu berhenti tepat di hadapan Ara, membuat semua orang bersorak ke arahnya.


“Ah Ara lagi!”


Mereka semua sangat bersemangat. Ara mendadak bingung, kenapa selalu ia yang kena imbasnya?


Inginku berkata kasar, pikir Ara.


“Huah ....” Ara menjerit lirih, karena harus kena lagi tantangan dari mereka. Tawa mereka pecah seketika.


“Truth or dare?” tanya Rafa yang semakin on fire.


Kali ini aku harus memilih apa? Kenapa situasi menjadi horor seperti ini, sih? Pikir Ara.


“Ayo dong, pilih,” desak Fla.


“Pilih woy, pilih,” sambar Ray dan Rafa bersamaan, membuat Ara semakin tidak bisa berpikir dengan jernih.


Ara menatap mereka dengan tatapan sinis, “ah! Minum aja,” Ara memilih demikian.


Mereka semua tertawa, dan Arash menuangkan minuman kepada Ara.


“Jangan malu-malu ah!” ucap Arash, yang ternyata senang jika adiknya menderita seperti ini.


Ara menatap Arash dengan tatapan kebencian.


Beberapa waktu berlalu, kini semua orang sudah benar-benar mabuk, termasuk Ara.


Morgan merasa kasihan, melihat Ara yang sudah mabuk tak sadarkan diri, dan tidak keruan seperti itu.


Terlihat Ara yang sedang menuangkan minuman lagi ke dalam gelasnya, membuat Morgan sangat benci melihatnya.


“Lagi!!” teriak Ara, membuat teman-temannya, termasuk adik Morgan dan Arash bersorak gembira, padahal mereka semua sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran.


Morgan mendecap sembari menggelengkan kecil kepalanya. Ia tidak bisa membiarkan Ara minum lebih banyak dari ini.


Walaupun Morgan juga meminum begitu banyak shochu, tapi dirinya masih mempunyai kesadaran yang lebih baik daripada Ara, bahkan Morgan masih sanggup untuk berpikir seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2