
Melihat Ilham yang sudah tersulut emosi, Ara pun mendelik kaget melihat ekspresi Ilham yang baru pertama kali Ara lihat. Dengan sangat terpaksa, Ara berusaha melepaskan tangannya dari Morgan, membuat Morgan dan Dicky menjadi sangat terkejut melihatnya.
"Maaf, aku mau ke kelas," ujar Ara dengan sangat sendu, membuat Morgan mendelik kaget mendengar Ara berkata demikian.
Ilham seketika mengubah mimik wajahnya menjadi ceria kembali, membuat Morgan dan Dicky tak percaya dengan apa yang Ilham lakukan.
Mereka pun pergi meninggalkan Dicky dan juga Morgan, membuat Morgan merasa sangat kesal dibuatnya.
"Sialan!!" teriak Morgan yang dianggap aneh oleh orang-orang yang melewatinya.
Dicky mendelik sinis ke arah mereka yang melewati Morgan, "Hey, lihat apa? Masuk!" bentak Dicky pada mereka, membuat mereka ketakutan mendengar ucapan Dicky.
"Kamu gak apa-apa, Gan?" tanya Dicky yang sedikit khawatir dengan keadaan temannya itu.
"Sia-sia usaha saya melupakan dia selama 4 bulan ini!" teriak Morgan, dengan mengusap wajahnya dengan kasar, membuat Dicky memandangnya dengan sendu.
"Gan ... di sini ramai orang lewat," tegur Dicky, sebisa mungkin mengingatkan Morgan tentang keadaan sekelilingnya.
Di sana, Ilham pun mengantarkan Ara masuk ke dalam kelasnya, membuatnya menjadi terpikir akan Morgan yang ternyata sudah kembali ke negara ini.
Sepanjang jalan menyusuri koridor, mereka semua hanya memperhatikan Ilham yang berada di sebelah Ara. Mereka sangat takjub melihat sosok Ilham yang sangat manis mereka pandang.
"Gila, cowoknya ganteng banget," gumam seseorang yang melewati mereka.
"Mereka pacaran?" tanya teman sebelahnya berbisik, yang masih tetap terdengar di telinga Ilham.
Ara sudah tak bisa lagi berkata apa-apa. Ia hanya bisa menunduk, karena terlalu shock melihat kedatangan Morgan yang sangat tiba-tiba itu, sama seperti ia melihat Reza kala itu, di rumah sakit.
Mereka pun masuk ke dalam suatu ruangan, yang merupakan ruang kelas Ara. Di sana, sudah ada teman-teman Ara yang sudah lebih dulu sampai di kelasnya.
Mereka melihat arah dan juga Ilham yang datang, membuat mereka tiba-tiba menghampiri Ara.
"Ra, loe kenapa?" tanya Fla yang agak khawatir dengan keadaan Ara.
"Iya, Ra. Loe kenapa?" sambar Rafael yang juga khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalau lagi nggak enak badan nggak usah ke kampus, Ra," ujar Ray, yang walaupun dirinya akhlakless, tetapi juga sangat memedulikan kesehatan Ara.
Ilham tersenyum melihat reaksi teman-teman arah yang sepertinya sangat peduli dengannya, "Ara nggak apa-apa kok, cuma mungkin agak sedikit nggak enak badan," jawab Ilham yang mewakili Ara, "oh ya, bisa tolong belikan air mineral untuk Ara?" pinta Ilham pada Rafa.
"Gak usah, Kak. Aku bawa air minum, kok," bantah Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.
Ilham memandang ke arah Ara, "Kamu nggak pulang aja?" tawar Ilham, yang sangat khawatir dengan keadaan istrinya tersebut.
"Gak, Kak. Aku bisa kok," tolak Ara, "jemput aku jam 5 sore, ya," pinta Ara, membuat Ilham memandangnya dengan tatapan yang kurang percaya.
"Benar gak apa-apa?" tanya Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Ilham terpaksa melontarkan senyuman ke arah Ara, kemudian meletakkan tangannya di puncak kepala Ara, "Kalau ada apa-apa, kabarin aja, ya?" gumam Ilham, membuat Ara kembali mengangguk kecil.
"Ciee ...."
Mereka semua meledek Ara, karena sikap Ilham yang terlalu romantis baginya. Karena masih terlalu shock dengan kehadiran Morgan, Ara menjadi sangat tertutup dari biasanya.
Ilham pun pergi meninggalkan Ara dan yang lainnya, membuat Ara menjadi bertambah sedih karena kepergiannya.
Ilham memandangnya dengan tatapan datar, sama sekali tidak takut dengan kehadiran mereka di hadapannya.
Ia melangkah ke arah kiri, namun Dicky menghalanginya. Ilham pun akhirnya melangkah ke arah kanan, tetapi Morgan juga ikut menghadang jalannya, membuat Ilham menghela napas panjang karena kelakuan mereka.
"Mau apa kalian?" tanya Ilham dengan dingin, membuat Morgan menatapnya dengan tajam.
Dicky menyeret Ilham menjauh dari area kampus, dengan Morgan yang berjalan di hadapan mereka. Ilham hanya pasrah mengikuti keinginan mereka, karena dirinya sudah tahu pasti kejadiannya akan seperti ini.
Setelah dirasa cukup jauh, akhirnya Ilham memberontak, "Lepasin!" bentak Ilham, yang berusaha melepaskan diri dari Dicky yang membelenggunya.
Dicky pun melepaskan Ilham, kemudian mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Apa-apaan ini?" tanya Ilham dengan nada yang geram.
Morgan menatapnya dengan tajam, "Apa maksud kamu bercumbu dengan Ara seperti tadi?" tanya Morgan dengan sinis, membuat Ilham memandangnya dengan tatapan remeh.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu ... cemburu--"
"Bukk!!"
Belum habis Ilham menyelesaikan ucapannya, Morgan sudah lebih dulu meninju wajah Ilham dengan serangan yang membabi buta, membuat Ilham seketika tergolek di atas aspal.
Dicky memandangnya dengan sangat kaget, sembari berusaha memisahkan antara keduanya.
"Gan, stop--"
"Diam!" tunjuk Morgan dengan pandangan yang sinis ke arah Dicky, membuat Dicky hanya bisa diam tak bergeming setelahnya.
Morgan kembali menoleh ke arah Ilham.
"Bukk!!"
Tak tinggal diam, Ilham membalas pukulan Morgan dengan sangat keras, membuat Morgan sampai harus terpental dan jatuh tersungkur beberapa meter ke belakang.
Ilham memandang ke arah Morgan yang sepertinya sudah kesakitan itu, "Jangan kamu pikir saya lemah. Waktu itu, saya sengaja hanya diam dan pasrah, karena tidak mau membuat Ara khawatir jika terjadi sesuatu dengan kamu. Saya juga gak mau Ara sampai membenci saya, karena saya menyakiti kamu. Saat ini, saya gak akan mengalah tentang itu!" ujar Ilham, membuat Morgan mendelikkan matanya karena kaget dengan ucapannya.
Dicky yang hanya bisa menonton, merasa kalau Ilham jauh lebih brilian daripada Morgan.
'Bahkan, di saat terdesak seperti waktu itu, dia masih bisa memikirkan perasaan Ara?' batin Dicky yang tercengang dengan perkataan Ilham.
Ilham memandang dingin ke arah Morgan, "Kenapa diam? Kaget? Jangan pernah merasa sok paling hebat!" bentak Ilham, membuat Morgan mendelik tak percaya dengan yang Ilham katakan.
Walaupun sudah sama-sama babak-belur, mereka masih tetap bersikukuh untuk saling melempar pandangan.
Ilham menunjuk ke arah Morgan yang masih tergeletak di atas aspal, "Jangan pernah kamu ganggu Ara lagi!" gumam Ilham, membuat Morgan semakin tercengang dibuatnya.
"Seharusnya saya yang bicara seperti itu. Jangan pernah kamu ganggu dia lagi!" bentak balik Morgan yang tak terima dengan perlakuan Ilham padanya.
Ilham memandangnya dengan tatapan kasihan, "Saya berhak segala-galanya atas Ara, karena dia adalah istri saya!" bantah Ilham.
Duarrrrrrrrrrr
__ADS_1
Betapa hancur hati Morgan mendengar ucapan Ilham yang tak berlandaskan fakta itu.