Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Kita putus saja."


Kata-kata itu selalu terngiang di benak Ara, sampai rasanya kepalanya ingin pecah. Ara merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri, saat ini.


"Jangan pernah kamu temui saya lagi."


Seketika, Ara melihat Morgan yang ada di hadapannya, dengan tatapan yang menyorot ke arah dirinya. Morgan melangkah pergi, setelah mengatakan hal itu. Perlahan Morgan pun menghilang pergi entah ke mana.


Saat ini, Ara seperti berada di ruangan yang sangat luas, dan hanya sendirian. Batinnya terasa sangat sakit, ketika perkataan Morgan selalu terngiang di pikirannya.


"Arghh!"


Ara meremas kencang rambutnya. Ia merasa ingin sekali dirinya berteriak, tetapi seperti ada sesuatu yang menahannya agar ia tidak bisa mengeluarkan seluruh isi hatinya. Semuanya tertahan, dan perlahan membuat kepalanya semakin sakit.


"Awww ...."


Ara menunduk sembari memegangi kepalanya.


Cahaya itu pun menghilang, dan berganti menjadi kegelapan.


Ara menyadari perubahan yang signifikan itu. Ara yang penasaran, langsung melihat keadaan sekitarnya.


Di hadapannya saati ini, ada sebuah jalan yang membentang lurus, dari arah timur ke barat dari hadapan Ara. Di seberang jalan sana, terdapat seekor kucing yang sangat menarik perhatiannya. Walaupun keadaan sangat gelap, Ara masih tetap bisa melihat dengan jelas kucing tersebut, karena kucing itu memiliki cahaya yang keluar dari tubuhnya.


Dengan perasaan heran, Ara pun menghampirinya. Di saat ia hendak menyeberang jalan, terlihat sebuah mobil yang tak asing baginya. Sorot lampu mobil tersebut, membuat matanya sangat silau. Namun Ara masih bisa melihat orang-orang itu di dalamnya.


Di dalam mobil itu, ada Dicky dan juga Morgan yang sedang mengemudikan mobil dengan sangat cepat. Ara mendelik, merasa takut karena mobil itu dengan cepat bergerak ke arahnya.


"Hah!" gumam Ara, yang bingung harus berbuat apa.


Ara terkejut, tetapi ia tidak bisa melangkahkan kakinya untuk menghindari mobil itu. Seperti sedang membawa beban yang berat di kakinya. Hal itu membuat Ara merasa sangat panik.


"Gimana ini!" pekik Ara yang pasrah dan takut dengan keadaannya.


Morgan yang sedang mengemudikan mobil itu, seketika menoleh ke arah Ara, dengan tatapan seperti orang yang sangat terkejut. Morgan gelagapan, berusaha menghentikan laju mobil.


Ara semakin takut, karena mobil itu semakin lama semakin mendekat ke arahnya, dengan kaki Ara yang masih tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


Ara kembali menoleh ke arah mobil yang melaju kencang itu, dan sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindar.


"Ahhh ...."


"Ngiikk ...."


"Brukk ...."


"MORGAN!!" pekik Ara dengan sangat keras.


Ara bangkit dari tempat tidurnya, membuat napasnya menjadi sangat pendek. Ara terus-menerus menghela napasnya yang tersengal, dan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.


Ia menoleh ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Morgan dan juga Dicky. Namun dilihat dari keadaan sekitar, Ara merasa sepertinya ia hanya mimpi saja.


"Cuma mimpi," gumam Ara lirih, sembari meremas rambutnya.


Mengetahui kejadian itu hanyalah mimpi belaka, Ara pun berusaha menenangkan dirinya sendiri, agar sesuatu yang buruk tidak terjadi dan semakin merusak akal sehatnya.


Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Ara. Ia sampai tak habis pikir dengan mimpi yang ia lihat itu.


Melihat Ilham yang baru saja sampai di kamarnya, Ara pun berlari dengan sangat cepat ke arah Ilham, kemudian dengan segera ia memeluk Ilham dengan erat.


Ilham mendelik, tak tahu apa yang Ara rasakan. Ini adalah pelukan pertamanya dengan Ara, sehingga dirinya sangat merasa terguncang.


Ara tak bisa menahan dirinya lagi. Ia benar-benar sudah depresi sekarang. Bahkan, dirinya sampai melihat Morgan dan Dicky kecelakaan seperti itu dalam mimpinya. Keadaan itu terasa sangat nyata baginya.


Apa Morgan baik-baik saja? Pikir Ara yang tangisnya tiba-tiba saja pecah, dan tak terkendali.


Ilham masih tidak habis pikir dengan Ara, apa dia menghawatirkan keadaanku? Pikir Ilham, yang masih diam tak bergeming, saking senangnya Ara memeluknya dengan erat seperti ini.


Ara menangis sesegukan di dalam pelukan Ilham saat ini. Bagi Ara saat ini, pelukan Ilham adalah pelukan ternyaman. Ara sampai tidak ingin melepaskan pelukannya itu.


Ilham menguatkan dirinya, dan membalas pelukan Ara dengan sangat lembut, "Jangan khawatir, Ra. Saya baik-baik aja kok," ucap Ilham dengan nada yang sangat lembut.


Ara mendelik, karena ia tersadar, semalam Ilham dihajar habis-habisan dengan Morgan.


Mungkin Ilham berpikir, aku telah menghawatirkan dirinya. Padahal saat ini aku justru sedang menghawatirkan diriku sendiri. Tapi Ilham malah salah tangkap seperti ini, pikir Ara.

__ADS_1


Ara meregangkan pelukannya pada Ilham. Terlihat wajah Ilham yang sudah sangat memprihatinkan. Ara sampai tak tega melihatnya.


"Kak Ilham beneran nggak apa-apa? Kayaknya Kak Ilham butuh diobatin deh," ucap Ara dengan nada tak tega, tetapi dia masih saja tersenyum manis pada Ara dengan kondisi yang sudah separah ini.


"Sebenarnya, memang agak sakit sih," lirihnya.


Ara tersadar dan menangkap sinyal darinya, itu tandanya, dia memang ingin mendapatkan perhatianku bukan? Dia pasti ingin aku bertanggung jawab dengan semua ini, pikir Ara yang tersadar dengan kemauan Ilham.


"Ya udah, ayo kita ke rumah sakit," ajak Ara.


Ilham semakin menambah senyumannya itu. Seperti ada yang aneh dari gelagat Ilham.


Ara mengerenyitkan dahinya, "Kenapa malah senyum-senyum? Kakak tuh sakit, dan itu semua salah aku. Aku harus tanggung jawab, kan?" tanya Ara yang sudah sedikit putus asa.


"Ke rumah sakit, dengan kondisi wajah kamu seperti ini?" tanya Ilham, membuat Ara mendelik.


Ara segera melihat ke arah cermin, dan melihat wajahnya yang sudah tak keruan karena terlalu lama menangis. Ara jadi malu sendiri dibuatnya.


"Oh tidak!" gumam Ara, yang merasa takut dengan wajahnya saat ini.


Ara memandang ke arah Ilham, "Tapi, luka Kak Ilham lebih penting dari ini," ucap Ara, membuat Ilham kemudian mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya sedikit pun.


"Ya udah ayo!" bentak Ara dengan kesal, sembari menarik tangannya.


Ara membawanya menuju kamar Arash. Ia melangkah cepat menyusuri tangga, dan akhirnya mereka bertemu dengan Arash.


Arash menatap adiknya dengan tatapan yang penuh dengan keheranan.


"Lho, Ra?" gumam Arash bingung sesaat setelah melihat kearah tangan Ara yang sedang menggandeng tangan Ilham.


Ara yang mengetahui hal itu, langsung saja menghempaskan tangan Ilham dari tangannya.


"Keadaan Kakak baik-baik aja kan sekarang?" tanya Ara tetapi Arash tidak merespon dan malah menoleh ke arah Ilham.


"Lho, Ham? Muka kamu kenapa? Kok bonyok gitu sih?" tanya Arash yang sangat terkejut melihat wajah Ilham yang penuh luka.


Ara mendelik, "Jadi Kakak belum tau keadaan Kak Ilham?" tanya Ara dengan heran, membuat Arash menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2