Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Cemburunya Morgan


__ADS_3

Suara Morgan terdengar sangat datar dan tanpa ekspresi, membuat Ara agak sendu melihatnya.


Ara juga sama sekali tidak menyangka, kalau Bisma akan menghubunginya lagi, di waktu yang tidak tepat seperti ini.


Kenapa di saat aku sudah mulai melupakan Bisma, dan mulai menerima Morgan sepenuh hati, ini semua harus terjadi? Apa yang harus aku katakan pada Morgan? Apa aku harus mempertahankan perasaannya, atau mempertahankan emosi dan harga diriku? Lagi pula kalau dipikir kembali, aku lah yang salah karena sudah salah paham dengannya, pikir Ara.


“Gan, aku bisa jelasin--” ucap Ara terpotong, karena tangan Morgan yang di hadapkan ke arah Ara.


Ara yang melihatnya, merasa sangat kesal saat Morgan berusaha memotong pembicaraannya.


Tapi Ara berpikir kembali, ini semua adalah salahku. Aku harus berusaha menahan amarahku padanya.


“Maaf ya, saya mau sendiri dulu,” ucap Morgan dengan nada yang datar, kemudian segera pergi meninggalkan Ara.


Ara merasa dadanya terasa sangat sesak, karena sudah mendengar perkataan Morgan tadi.


Ara merasa secara tidak langsung, dirinya telah menyakiti hati Morgan.


“Kenapa bisa begini, sih?” lirih Ara, yang tidak mengerti dengan keadaan.


Ara mencoba untuk melihat Morgan di ruang depan. Ara melewati ruang makan dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat romantis.


Lilin yang menyala, dengan setangkai bunga mawar di tengah meja, menambah kesan romantis pada ruangan ini.


Apa lagi, saat ia melihat berbagai hidangan yang merupakan makanan kesukaannya. Semakin menambah kesan romantisnya.


Apa ini semua Morgan yang menyiapkan? Aku sangat terharu dan tersentuh dengan semua yang telah ia siapkan ini, pikir Ara.


“So sweet banget,” lirih Ara, yang terharu dengan semua yang ia lihat.


Tapi, kemana perginya Morgan? Aku ingin sekali memeluknya. Aku ingin sekali berterimakasih kepadanya karena telah menyiapkan hal yang sangat romantis ini, pikir Ara, sembari mencari keberadaan Morgan.


Ara menoleh ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan keberadaan Morgan.


Ara berjalan menyusuri setiap ruangan di rumah ini. Namun, ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Morgan.


“Ih … Morgan ke mana sih?” lirih Ara bertanya-tanya dengan keberadaan Morgan, yang hilang bak ditelan bumi.


Dari sana, terlihat Morgan yang tengah merenungi keadaanya. Ia merasa sangat sedih, mengetahui kekasihnya yang masih berhubungan dengan masa lalunya.


“Hari ini mood kenapa jelek sekali? Gagal manja-manjaan sama dia deh,” lirih Morgan.


“Drtt ….”

__ADS_1


Handphone Morgan bergetar, ia pun segera melihat isi pesan singkat yang baru saja masuk.


“Aku sudah sampai dan gak akan pergi, sebelum kamu datang ke sini.” Isi pesan singkat dari orang misterius itu, membuat Morgan terdiam beberapa saat, memejamkan matanya, sembari memikirkan situasinya.


Ara berjalan menuju ke dekat kolam renang. Ia melihat Morgan yang sedang tidur di atas kursi dekat kolam renang.


Perlahan, Ara pun menghampirinya.


“Gan ...,” pekik Ara lirih, sembari duduk di sampingnya.


Morgan membuka matanya, dan melihat ke arah Ara.


“Ada apa lagi?” tanya Morgan dengan nada yang masih terdengar kesal.


Ara mengerutkan dahinya, “kenapa sih, marah-marah terus?” tanya Ara dengan nada bersalah.


Morgan memandang dengan tatapan yang dingin.


Sepertinya memang ia masih marah padaku. Aku merasa suasana saat ini menjadi sangat canggung. Bagaimana caranya agar ia tidak terlalu marah denganku? Pikir Ara.


“Saya gak tau lagi ya harus gimana menghadapi kamu. Saya sudah berusaha sabar hadapin kamu yang terlalu seperti anak kecil. Terlebih lagi, kamu ternyata masih sering berhubungan dengan laki-laki itu ...,” tukasnya.


Mendengar hal itu, Ara merasa agak tersinggung dengan perkataan Morgan.


Aku memang masih seperti anak kecil, aku belum dewasa, tapi bukan berarti aku belum melupakan masa laluku, pikir Ara yang agak kesal dengan tuduhan Morgan.


Ara memegang tangan Morgan yang dingin, karena terkena embusan angin malam.


Walaupun Ara sudah menggenggam tangan Morgan, tapi ia sama sekali tidak menghiraukan Ara.


Ara merasa sangat bersalah kepada Morgan.


“Maaf,” lirih Ara.


Morgan mendelik, “saya pergi dulu,” ucapnya yang seperti mengalihkan ucapan Ara.


Morgan pun melepaskan tangan Ara yang tadi mencengkeram tangannya, kemudian segera pergi meninggalkan Ara di sana.


“Morgan!” pekik Ara yang tak dihiraukan olehnya.


Morgan sudah pergi dari hadapan Ara sekarang. Ara merasa kesal sendiri dengan apa yang sudah terjadi malam ini. Kini hanya ada ia seorang diri di sini.


Aku merasa seperti sesak. Awalnya, perasaannya tidak terlalu penting bagiku. Tapi semakin ke sini, diriku semakin sesak dengan kelakuannya yang menyulitkan diriku. Aku jadi takut kehilangan dirinya. Aku terlalu bodoh karena sudah menyia-nyiakan perasaan seseorang yang sangat menyayangiku, pikir Ara yang berusaha merenungi nasibnya.

__ADS_1


Morgan berlari menuju ke arah mobilnya. Ia sama sekali tidak menyangka, akan terjadi kekacauan seperti ini.


Yang aku inginkan malam ini adalah hal yang romantis. Sia-sia aku mempelajari semuanya untuk mempersiapkan malam ini, pikir Morgan yang kesal dengan keadaan.


“Brukk ….”


Ia menutup pintu mobilnya, dan menghela napas dengan panjang.


“Drrtt ....”


Handphone Morgan kembali bergetar.


Morgan segera membuka pesan yang baru saja masuk, dan terkejut dengan yang ia lihat saat ini.


“Aku sudah nunggu di sini selama satu jam. Ternyata benar dugaan aku, kamu gak bakal dateng.” Isi pesan singkat darinya.


“Sebetulnya saya masih ragu,” lirih Morgan.


“Apa saya ke sana aja yah?” Morgan kembali berpikir sejenak.


Sebetulnya, Morgan tidak ingin menyia-nyiakan waktu, hanya untuk masalah sepele seperti ini.


Tapi jika terus seperti ini, aku akan terus tersiksa dengan rasa penasaran, pikir Morgan yang mulai bimbang.


Morgan menghela napasnya, “saya harus ke sana sekarang,” lirih Morgan.


Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ada sedikit perasaan gelisah dan khawatir, kalau saja terjadi sesuatu pada gadis itu, saat ia menunggu Morgan di sana.


Morgan tidak bisa menjamin keselamatan gadis itu. Meskipun ia sama sekali tidak ingin bertemu dengannya, tapi Morgan merasa bersalah jika sampai terjadi sesuatu padanya.


Morgan seketika menurunkan kecepatan laju kendaraannya, dan berusaha melihat ke arah tangan kirinya.


Morgan mendelik kaget, “Oh sh*it!” teriak Morgan.


Ia mendadak kesal, karena ia meninggalkan jam tangannya di rumah Ara. Morgan sama sekali tak sengaja meninggalkannya di sana.


Di mana aku meninggalkan jam tanganku? Apakah mungkin, jam tanganku tertinggal di atas meja makan, saat aku berusaha memasakan makanan untuk Ara? Pikir Morgan.


Morgan mendelik, “kenapa bisa ketinggalan, sih?” lirihnya.


Morgan melirik ke arah layar mobilnya, dan melihat jam yang tertera di sana.


Saat ini, sudah pukul delapan lewat lima belas malam.

__ADS_1


Aku tidak bisa menjamin, apakah dia akan tetap menungguku di sana atau tidak, pikir Morgan, sembari menambah kecepatan laju kendaraannya kembali.


...***...


__ADS_2