Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Sahabat Atau Pacar?


__ADS_3

Ara berjalan bersama dengan Farha untuk menuju hotel tempat dirinya dan Morgan menginap.


Sesampainya di sana, Ara pun duduk di atas ranjang, kemudian disusul oleh Farha yang juga duduk di sampingnya.


"Eh, Morgan mana?" tanya Ara.


Ara yang sedari tadi hanya berfokus ke Farha, sampai lupa dengan keberadaan Morgan.


"Gue gak lihat ...," ucap Farha dengan nada terdengar seperti nada bersalah.


Ara mengalihkan fokusnya, "hmm ... loe mau makan gak? Gue bawa mie instan," tawar Ara padanya.


"Gila ya, gak di mana-mana tetap mie instan yang paling the best," ledek Farha, membuat Ara tertawa kecil mendengar ucapannya.


"Gue minta air panas dulu," ucap Ara, sembari menuju ke arah telepon kamar.


Ara meminta air panas pada pihak hotel. Sembari menunggu, ia terus memperhatikan Farha. Farha mungkin saja risih, karena Ara memperhatikannya dengan tatapan yang aneh.


"Kenapa loe?" tanya Farha yang sedikit menyeleneh.


Ara tersenyum miring ke arahnya. Tak disangka, Farha bisa sampai ke Jepang secara diam-diam.


"Ke Jepang, jalan diam-diam, gak ngasih kabar, tiba-tiba minta sehotel, aneh deh!" ucap Ara yang mulai asal.


Farha terlihat tegang sekali ketika mendengar ucapan Ara yang asal.


Farha menunduk, "ya ... itu semua di luar kemampuan gue," lirihnya yang terdengar seperti sedang membela diri.


Ara mulai menatapnya dengan tajam, "terus, kok bisa loe sampai tujuan yang sama kayak gue?" tanya Ara lagi, yang kembali menyelidiki yang Farha maksudkan.


Farha mulai tak tenang, dan memainkan jemarinya, "niatnya tuh gue emang mau ke Jepang. Tapi gue gak tau daerah sini tuh kayak gimana. Makanya gue cuma asal terbang aja. Yang penting mah gue sampe sini. Eh di jalan tadi ada yang hampir nyopet gue. Ya bagusnya gue bisa kabur dan menuju keramaian dan akhirnya, gue ketemu sama loe tadi. Gue baru aja sampe 2 jam sebelum ketemu sama loe," ucap Farha menjelaskan pada Ara.


Mendengar penjelasannya, Ara jadi merasa iba sendiri dengannya.


"Kok bisa sih? Gue ngerasa kasian banget ngeliat loe. Ya udah, rencana loe mau tinggal di Jepang sampai berapa lama? Kita bareng-bareng di Jepang, Oke?" tanya Ara.


Fla mendadak bersemangat sekali mendengarnya.


"Okey!"


Spontan Farha mengangguk dan merasa sangat bahagia mendengarnya.


"Tapi, gue gak bisa nih hubungin Morgan. Kartu gue masih kartu Indonesia," lirih Ara.

__ADS_1


Farha terlihat sedang menyodorkan sesuatu pada Ara.


Ara mendelik, "apa ini?" tanya Ara bingung, karena Farha yang tiba-tiba saja menyodorkan handphone-nya ke arah Ara.


"Kabarin lewat handphone gue aja," lirihnya.


Aku rasa, itu bukan ide yang buruk, pikir Ara.


Ara pun mengambil handphone-nya untuk sekedar menanyakan keberadaan Morgan.


"Gak perlu!" ucap Morgan yang tiba-tiba datang, lalu merebut handphone Farha dan melemparkannya ke atas ranjang.


Melihat kejadian itu, Ara sampai terkejut, melihat kelakuan Morgan terhadap Farha yang sangat kasar menurutnya.


Ara mendelik, "Gan, gak bisa gitu dong!" cela Ara.


Tatapan Morgan itu saat ini, sudah seperti binatang yang siap menerkam mangsanya.


Liar.


"Bisa! Lagian, kalau kamu mau hubungi saya, kamu bisa kan pakai WiFi? Gak perlu pakai handphone orang lain?" ucap Morgan yang tetap kukuh pada pendiriannya.


Astaga, benarkah yang dikatakan Morgan? Aku hanya harus membuka WiFi untuk bisa mengakses internet? Dari mana saja aku? Pikir Ara yang baru menyadari tentang hal itu.


Morgan seketika menoleh ke arah Farha dan menatapnya dengan tajam, membuat Farha ketakutan dibuatnya.


Melihat emosi Morgan yang sudah tak terkendali, Ara tidak bisa melarangnya terlalu jauh, sebab dirinya yang diajak Morgan untuk berlibur di sini. Ara jadi tidak punya wewenang apa pun untuk menentukan semuanya.


Farha mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar, "ternyata, Pak Morgan orangnya seperti ini yah," imbuh Farha.


Morgan terlihat santai dan tidak mempedulikan ucapan Farha.


"Lagian, hubungan kalian berdua sebenarnya apa sih?" tambahnya, membuat Ara sampai terkejut saat ia berkata demikian.


Ara mendelik, apa aku tidak boleh dekat dengan Morgan? Pikir Ara, yang mulai tidak percaya diri.


Morgan yang mengetahui sikap Ara, segera mengambil sikap tegas, "kami berpacaran. Dan kami di sini sedang berlibur," jawab Morgan enteng, membuat Farha menatapnya dengan tatapan yang aneh.


Farha mendelik, "apa boleh, dosen dan mahasiswa memiliki ketertarikan masing-masing?" tanyanya sedikit tajam.


Ara kembali mendelik, Farha sedang membicarakan apa? Apa tidak boleh seperti itu? Pikir Ara yang hanya bisa diam.


"Kenapa tidak? Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Tak pandang usia, tak pandang jabatan. Kalau suka sama suka, mengapa tidak?" Morgan menjawab dengan sangat sempurna.

__ADS_1


Terlihat sangat jelas kegelisahan yang terukir di wajah Farha. Ara jadi ingat, wajah terkejut Farha saat mengetahui dirinya dan Morgan yang sedang menjalin hubungan, kala itu.


Morgan mendekat ke arah Farha, "apa kamu ... iri?" tanya Morgan seperti sedang menyerang balik Farha.


Farha terlihat seperti orang yang gelagapan.


"Sa-saya? Gak sama sekali!" tepis Farha.


Ara hanya diam sembari memperhatikan mereka berdua dengan saksama.


Apa maksudnya? Pikir Ara yang masih belum mengerti dengan keadaan.


"Kalau begitu, tinggalkan tempat ini, sekarang!" suruh Morgan.


Farha seperti tidak bisa berkata lagi. Ia segera mengambil semua barang-barangnya dan segera meninggalkan mereka di sini.


Ara mendelik karena merasa Morgan sudah keterlaluan dengan semua yang ia lakukan.


Bisa-bisanya dia mengusir temanku, pikir Ara yang geram dengan perbuatan yang Morgan lakukan.


Tapi kembali lagi, aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak berhak, pikir Ara kembali, yang sudah pasrah dengan yang Morgan lakukan pada temannya itu.


Morgan menatap ke arah Ara, yang juga sedang menatap ke arahnya, "loe keterlaluan tau gak!" bentak Ara.


Morgan hanya memandangnya dengan tatapan dingin, membuat Ara menafikan pandangannya dari Morgan.


Morgan menajamkan pandangannya, "yang keterlaluan itu sebenarnya saya, atau dia?" tanya Morgan, membuat Ara menoleh spontan ke arahnya.


"Ya loe lah!" bidik Ara.


Morgan membuang pandangannya dan segera melihat ke arah Ara kembali.


"Mulai sekarang, jauhi dia!" ucap Morgan memperingati Ara dengan keras.


Ara mendelik, aku bingung, kenapa dia sampai hati berbuat seperti itu pada temanku sendiri? Pikir Ara yang masih saja memikirkan perasaan Farha.


"Gak bisa gitu dong, Gan!" bentak Ara, membuat Morgan mengarahkan telapak tangannya, meminta Ara untuk diam.


Morgan langsung membuka kemeja yang ia kenakan, dan segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Ara yang emosinya sedang meluap di sana.


Morgan selalu bersikap seenaknya sendiri, membuatku selalu kesal, pikir Ara.


"Ish apaan sih! Kok kesel yah jadinya?" gumam Ara dengan lirih, sembari memukul-mukul bantal yang baru saja ia ambil.

__ADS_1


Kalau seperti ini terus, kapan waktu yang tepat untuk bisa memberikan kado yang sudah aku siapkan untuk Morgan? Pikir Ara yang tiba-tiba saja teringat dengan kado yang akan dia berikan pada Morgan.


...***...


__ADS_2