Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Efek Shochu 3


__ADS_3

“Frontal, ya,” lirih Morgan.


Ara tersenyum menyeringai. Ternyata, ada untungnya juga kejadian seperti ini untuk Morgan. Ia jadi mengetahui isi hati Ara yang sebenarnya.


Ara melingkarkan lengannya ke leher Morgan. Ia menatap Morgan dengan tatapan yang terasa sangat lucu bagi Morgan.


“Eh om, janji ya, gak bakal ninggalin gue?” tanyanya lirih, membuat Morgan seketika terkejut, dan tak sengaja menelan salivanya.


Apa yang harus aku katakan padanya? Pikir Morgan.


“Emm ....” Morgan berpikir sejenak dengan jawaban apa yang akan ia katakan, pada gadis yang tengah mabuk dan tak sadarkan diri itu.


Morgan menatapnya dengan senyuman, “oke, saya berani ngomong seperti ini, karena kamu lagi mabuk,” tegas Morgan.


Ara seperti tertawa kecil setelah mendengar ucapan Morgan.


Sepertinya, kejadian ini sangat langka untuk Morgan. Ia terdiam sejenak, karena terpikir dengan suatu hal.


Morgan bergegas bangkit dari atas tubuh Ara, menarik meja kecil yang digunakan untuk meletakkan lampu tidur, ke arah hadapannya, kemudian mengedarkan pandangannya ke segala sudut yang ada di ruangan ini. Pandangan Morgan tertuju pada buku-buku Ara yang ada di atas meja belajar. Ia dengan cepat mangambil setumpuk buku, dan menyusunnya dengan tinggi.


Morgan meletakkan handphone-nya dan disenderkan pada tumpukan buku tersebut. Morgan berniat untuk merekam kejadian langka ini.


‘Maaf, ini semua harus saya rekam, supaya kamu gak punya alasan lagi untuk menolak perasaan kamu terhadap saya,’ batin Morgan seraya melontarkan senyuman ke arah Arasha.


Tidak ada niat buruk di hati Morgan. Semua ini ia lakukan, hanya karena ia ingin Ara mengakui perasaannya pada Morgan dari lubuk hatinya. Itu pasti akan membuat Ara marah, tapi … Morgan tidak bisa lagi menahan semua ini.


‘Maaf ya, saya cuma gak pengen nahan rasa ini sendirian. Saya butuh kejujuran kamu, dan sebetulnya juga, saya sudah muak dengan emosi kamu yang sudah terlalu parah itu,’ batin Morgan.


Setelah mengatur handphone-nya untuk dijadikan kamera perekam, Morgan kembali membaringkan dirinya di sebelah Ara. Dengan perasaan canggung, Morgan menoleh ke arah Ara yang sudah kembali memejamkan mata.


“Jadi ... malam ini, milik kita?” tanya Morgan dengan perasaan canggung.


Ara tersenyum, dengan tetap memejamkan matanya, “milik gue,” jawabnya yang tetap saja membuat Morgan terkekeh.

__ADS_1


Jawaban demi jawaban dari dirinya, lantas membuat Morgan sedikit kesal.


‘Jadi seperti ini rasanya, kesal mendengar jawaban dari lawan bicara yang selalu kesal dengan semua jawaban dari saya?’ batin Morgan, yang tiba-tiba teringat tentang dirinya yang selalu membuat Ara kesal dengan semua jawaban yang ia lontarkan pada Ara.


Morgan tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Ara, karena memang kondisi Ara yang memang sedang tidak sadarkan diri, membuat Morgan memaklumi semua yang terjadi padanya.


“Kita pacaran, ya?” tanya Ara tiba-tiba.


Morgan terkejut, dan tak tahu harus menjawab apa. Memang benar, lama-kelamaan, ucapannya semakin tidak jelas saja.


Untungnya sudah aku rekam, pikir Morgan.


Ara memaksa Morgan untuk mendekat ke arahnya, dengan lengan yang masih melingkar di leher Morgan, membuat Morgan terpaksa harus mendekatkan diri ke arahnya.


“Gue gak suka ya sama perasaan yang gue alami sekarang,” lirihnya.


Morgan menatap bingung Ara dengan dalam. Matanya sudah kehilangan cahayanya, dan berubah menjadi redup, akibat terlalu banyak minum alkohol.


Lama-kelamaan Ara malah menjadi semakin mabuk. Ara mendadak menjadi mual, seperti sedang menahan muntah. Morgan khawatir dengan keadaan Ara saat ini. Sepertinya, bukan saat yang tepat untuk Morgan berbicara serius padanya.


Ia tersenyum jahil, dan meraba ‘milik’ Morgan yang masih terbungkus rapi dengan celana. Seketika Morgan menjadi bergairah, karena Ara yang terus-menerus memainkan jarinya.


Morgan berpikir kembali tentang kejadian yang Ara alami, saat bersama dengan Bisma. Ia tidak ingin, Ara marah dengannya lagi hanya karena hal seperti ini. Morgan tidak ingin disamakan dengan pria brengsek yang sudah membubuhkan obat perangsang ke dalam minuman Ara, dan berusaha berbuat yang tidak baik dengannya.


“Saya sayang kamu. Saya gak seharusnya menyentuh kamu, di saat kamu tidak sadar begini. Saya gak mau, kalau kamu menganggap saya sama seperti saat kamu menganggap laki-laki tidak bertanggung jawab itu,” lirih Morgan.


Ara masih saja berkutik pada ‘milik’ Morgan, tak menghiraukan apa yang Morgan ucapkan. Sekuat hati, Morgan menahan diri untuk tidak terbawa suasana yang rancu ini.


‘Kalau mabuk seperti ini, kamu frontal banget,’ batin Morgan yang agak sulit mengendalikan Ara, bahkan ia pun tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, jika Ara terus-menerus seperti ini.


Tapi, Morgan malah terbawa suasana karenanya. Dinding yang ia buat untuk menghalau gairahnya itu, kini retak dan hancur. Morgan sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya.


Morgan menyentuh pipi Ara dengan lembut. Ara seperti reflek, karena berusaha menahan rasa geli akibat sentuhan Morgan yang tiba-tiba.

__ADS_1


Haruskah aku melakukan ini padanya lagi? Jika seperti ini terus, aku tak akan tahan berlama-lama menahannya, pikir Morgan.


Napas Morgan memburu, dan mulai tidak beraturan. Ara lagi-lagi berhasil membuat Morgan kehilangan kendali.


“Kamu gak keberatan, kalau saya ngelakuin ini lagi ke kamu?” tanya Morgan memastikan, sembari mengelus pipi lembut Ara menggunakan hidungnya.


Morgan juga mendengar desah napas Ara yang sudah mulai tidak beraturan. Mereka sepertinya sudah terbawa dengan suasana yang rancu ini.


Ara mendelik sinis, “terlalu banyak bicara--”


Ara menyambar bibir Morgan tiba-tiba, membuat Morgan tak kuasa untuk mendesah nikmat di hadapannya.


Perlahan mereka terbawa dengan suasana gelora cinta yang menggairahkan itu. Morgan terus menggerayangi tubuh Ara yang indah, bak gitar Spanyol.


Jika sudah seperti ini, apa boleh buat? Pikir Morgan.


Morgan terdiam, menghentikan aktivitas panasnya itu. Ia masih tidak percaya dengan kelakuan Ara yang liar ini.


Morgan menatap Ara dengan tatapan bingung, “kamu yakin akan menghabiskan malam ini dengan saya?” tanya Morgan lagi, memastikan keadaan agar tidak salah di mata Ara.


Ara hanya diam saja mendengar perkataan Morgan. Nampaknya, Ara terlihat sangat bingung, ketika Morgan mengatakan demikian.


‘Sejujurnya, saya rindu …,’ batin Morgan yang ragu-ragu melakukan ini pada Ara.


Tak bisa dipungkiri, Morgan pun tak bisa meredam hasratnya lagi. Ia sudah rindu cumbu mesra Ara.


Perlahan, Morgan membuka pakaian dalam yang Ara kenakan. Morgan merasa senang, melihat bongkahan kenyal itu akhirnya sudah lepas dari sangkarnya.


Melakukan hal ini bersama Ara, membuat imajinasi fantasi Morgan melayang drastis. Mereka sudah mabuk dalam cinta satu malam kali ini.


Biarlah malam ini menjadi malam milik mereka.


“Argh ....”

__ADS_1


__ADS_2