Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terlalu Bahagia


__ADS_3

Fla pun datang menghampiri Ara. Ia melihat keadaan Ara yang terlihat sangat sedih. Dengan inisiatif yang tinggi, Fla pun memberikannya sekotak tissue, membuat Ara seketika menoleh ke arahnya.


"Masa udah dandan cantik, nangis sih? Kenapa sedih?" tanya Fla, membuat Ara mengambil tissue yang Fla sodorkan.


Ara menempelkan tissue itu pelan, khawatir menghapus riasannya, "Gue gak sedih, Fla. Gue cuma ... terlalu bahagia," ujar Ara, yang sebisa mungkin menahan perasaannya di hadapan Fla.


Fla yang memang tidak ingin Ara terpuruk lebih lama, membuatnya memandang Ara dengan sendu, "Harus dong! Loe harus bahagia, Ra," gumam Fla, membuat Ara memaksakan senyuman ke arahnya.


Sang perias pun telah selesai menyulap rambut Ara memakai riasan terindah yang dipilihkan Ilham untuknya. Ia tak sengaja melihat ke arah wajah Ara, yang sepertinya sudah luntur akibat terkena derai air mata Ara.


"Oh ya ampun, ini kok luntur lagi, sih?" ucap sang perias, membuat Ara dengan segera mengusap air matanya, sehingga riasannya menjadi bertambah rusak.


Sang perias pun mendelik, "Ya ampun ... semakin rusak deh. Anak cantik ... jangan nangis lagi, ya. Nanti luntur lagi, dong," gumam sang perias membuat Ara mengangguk kecil.


"Maaf," gumam Ara, membuat sang perias menggeleng kecil ke arahnya.


"Ya sudah, kita touch up lagi, ya," ujar sang perias, membuat Ara mengangguk kecil.


"Ra, Ilham udah datang," pekik Arash yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Ara, membuat sang perias menjadi panik mendengarnya.


"Mempelai pria sudah datang? Ya ampun ... masih harus touch up lagi!" ucap sang perias, membuat Fla menjadi tertawa kecil karena tingkahnya yang bagi Fla sangat lucu.


"Fla ...," pekik Ara, membuat Fla menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Ra?" tanya Fla.


"Emm ... apa Morgan tahu soal ini?" tanya Ara, yang belum sempat lagi bertanya pada Fla.


Fla melemparkan pandangannya ke arah Arash, saking terlalu bingung ia menjawabnya.

__ADS_1


Fla pun kembali melihat ke arah Ara, "Kak Morgan gak tahu soal pernikahan ini, Ra. Karena, sejak kepergian dia, handphone-nya selalu gak aktif. Entah gimana kabar dia sekarang di sana, kita juga lagi nunggu kabarnya," jawab Fla, membuat Ara menjadi sendu kembali.


'Dengan kata lain, gak ada kesempatan seperti di film-film itu, yang dia datang sebelum aku menikah?' batin Ara, yang sudah sangat putus asa dengan semua yang terjadi padanya.


Arash memandang Ara dengan sendu, "Harusnya, kalau kamu belum bisa lupakan Morgan, jangan kamu ambil keputusan seperti ini, Ra. Jangan malah kamu permainkan perasaan kamu dan juga perasaan Ilham!" gumam Arash sedikit membentak adiknya itu, membuat Ara semakin sendu mendengarnya.


'Kalau aku gak hamil, aku juga gak akan ambil keputusan ini, Kak!' jerit Ara dalam hati, yang pastinya tidak akan mungkin berani berbicara hal ini pada Arash.


Arash sama sekali tidak mengetahui tentang hamilnya Ara, membuat dirinya sedikit banyaknya hanya bisa menyalahkan Ara, atas keputusan besar yang Ara ambil ini.


Fla memandang sendu ke arah Arash, "Udah ... ini hari bahagia mereka. Jangan buat keributan," ucap Fla, sembari mengelus pelan bahu Arash, berusaha menenangkan hati Arash.


Arash memandang Ara dengan sendu, tidak habis pikir dengan keputusan besar yang Ara ambil. Bukan karena tidak menyetujui Ilham, tetapi justru karena ia tahu bahwa adiknya sama sekali belum bisa melupakan Morgan. Sedikit banyaknya, Ilham akan terluka kalau Ara seperti ini.


"Huft ...."


"Ayo cepat, biar kita bisa sambut dia," gumam Arash, membuat sang perias segera merias wajah Ara kembali.


Setelah beberapa lama, Ara pun sudah selesai berhias. Ara berdiri di hadapan Arash dengan canggung, membuat Arash menatapnya dengan sangat dalam.


Arash tersenyum, "You're beautiful girl," gumam Arash, yang mampu membuat Ara tersipu.


Dari arah balkon kamar Ara, ia melihat di depan rumah Ara, sebuah mobil berhiaskan pita dengan bunga khas pernikahan, yang ternyata sudah terparkir rapi di sana. Ara sampai tercengang, karena baru merasakan rasanya menikah.


Baru memandang mobil di luar sana saja, Ara sudah tercengang. Ara pun kembali menatap ke arah Arash.


"Aku takut," gumam Ara, membuat Arash tersenyum padanya.


"Walaupun Kakak belum pernah menikah, tapi tenang aja ... Kakak akan selalu ada di samping kamu," gumam Arash, membuat sedikit banyaknya butiran air mata menetes kembali dari pelupuk mata Ara.

__ADS_1


Arash mengerenyitkan dahinya, "Hey ... jangan nangis lagi, dong. Come on, ini hari bahagia kamu," gumam Arash, membuat Ara berusaha sebisa mungkin menghentikan air matanya.


Arash menyodorkan lengannya ke arah Ara, yang sedang memegang sebuah bucket bunga. Dengan perasaan haru, Ara pun menyambar lengan Arash, dan segera berjalan anggun keluar kamarnya.


'Selamat tinggal, Morgan. Semoga kita bisa berjodoh di kehidupan berikutnya,' batin Ara yang sudah sangat pasrah menerima semuanya, karena ia sudah tidak bisa menghindari pernikahan ini lagi.


Ini adalah titik akhir kisah cintanya bersama Morgan.


Sesampainya di tangga, semua mata seketika memandang ke arah Ara dan Arash, yang baru saja sampai di sana. Ilham memandangnya dengan sangat tercengang, karena melihat calon istrinya yang sangat cantik di hadapannya.


Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Ilham. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari biasanya, ketika melihat kecantikan Ara yang tiada tara di matanya.


Dengan menggandeng lengan Arash, Ara sangat berhati-hati menuruni anak tangga, dan melangkah melewati karpet merah yang membentang luas ke arah Ilham berdiri.


Mereka berjalan beriringan di atas karpet merah tersebut, dengan sangat anggun. Para tamu yang merupakan teman-teman dari kedua mempelai, dan juga teman dari Arash, pun menyambutnya dengan sorakan yang sangat meriah, tanpa mengurangi rasa haru mereka menatap ke arah sang pengantin.


Di altar, Ilham sudah bersiap untuk melaksanakan janji suci. Ilham terharu, sungguh ia tak bisa berkata apa-apa lagi.


'Wanitaku memang sangat cantik, hari ini ia terlihat lebih cantik lagi,' batin Ilham yang sangat terharu dengan momen yang sakral ini.


Ayah Ilham pun hanya bisa menahan haru menyaksikan pernikahan putranya, karena ini adalah impian terbesar ayahnya untuk sang putra.


Mereka pun sudah bersama di atas altar, dan segera mengucap janji suci sehidup semati.


Tangis haru pun menetes dari tiap-tiap tamu undangan, menyaksikan acara sakral yang menguras air mata ini.


Kini, mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, karena sudah mengikuti serangkaian pengucapan janji suci.


Ilham dan Ara pun kini saling bertatapan, karena harus saling memasangkan cincin. Ilham tersenyum sembari memasangkan cincin di jari manis Ara, begitu juga Ara, yang dengan ragu memasangkan cincin di jari manis Ilham.

__ADS_1


__ADS_2