
“Kamu mau makan apa?” tanya Morgan pada Ara, yang menghiraukan ucapan Gemi.
Ara hanya diam dan menatap Morgan dengan tatapan kesal.
‘Kenapa sih Morgan gak sopan banget sama orang lain? Boleh sih dingin, tapi ya gak harus sampai hati begitu dong,’ batin Ara yang kesal dengan sikap Morgan.
“Oh ... aku udah makan tadi. Jangan repot-repot, Gan. Aku tadi makan di kafe sebelah, ternyata makanannya gak kalah enaknya lho sama yang di sini,” sambar wanita itu.
Ara semakin tidak nyaman dengan orang aneh ini. Ucapannya selalu terdengar ingin akrab dengan Morgan.
Ara sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Aku merogoh handphone-nya dalam saku tasnya. Ara mengirim pesan pada Rafa untuk segera menelepon Ara.
Tidak bisa seperti ini terus. Aku kesal kalau harus terus-menerus melihat pemandangan membosankan ini, pikir Ara yang berada dalam keresahan.
“Dringg ....”
Tak berapa lama, handphone Ara berdering. Ara melihat nama Rafael di layar handphone-nya. Ara pun kemudian mengangkat teleponnya.
“Halo, Raf,” sapa Ara dengan keras, bertujuan agar Morgan bisa mendengar ucapannya itu.
Ara bergegas pergi dari sana, sembari membawa tasnya dan tetap menelepon Rafael.
Ara meninggalkan mereka karena dirinya tidak ingin hanya menjadi pengganggu di sana. Belum lagi sikap cemburu dirinya yang tidak akan bisa ditahan jika terus-menerus di sana, melihat pemandangan yang hanya akan membuatnya kesal.
Ara sudah berada di lantai dasar kafe. Ara menuju parkiran dengan cepat.
Ara berusaha menelepon kakaknya, karena ini masih jam istirahat, Ara berpikir mungkin kakaknya sedang makan siang di luar.
“Tuuuuutttt ....” Ara menunggu telepon terhubung.
“Tuuuuutttt ....”
“Halo,” ucap Arash.
Ara merasa senang karena Arash menjawab teleponnya dengan cepat. Biasanya, Arash sangat sulit menerima telepon saat sedang di kantor.
“Halo, Kakak. Di mana?” tanya Ara.
“Di kafe Ellumia,” jawab Arash membuat Ara tersenyum.
“Kebetulan. Aku juga di sini. Mau bareng pulang,” ujar Ara, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.
“Lho ... kamu ngapain di sini?” tanya Arash yang bingung dengan keadaan.
“Nanti aku ceritain yaa ....”
__ADS_1
“Yaudah. Kakak di parkiran nih. Kamu tunggu depan aja,” pinta Arash.
“Oke kak.”
“Tuuuttt ....”
Ara mengakhiri teleponnya. Ia langsung menuju halaman parkir untuk mencari mobil Arash.
Ara mencari ke sana dan ke mari.
“Mana sih,” lirih Ara, sembari tetap mencari keberadaan kakaknya itu.
Akhirnya Ara menemukannya di ujung sana.
Ara berlari menghampiri mobil Arash dan langsung masuk ke dalamnya. Ara pun sudah duduk di samping kakaknya saat ini.
“Lho, kamu ngapain di sini? Kenapa gak kuliah?” tanya Arash dengan heran.
Ara berusaha mengolah napasnya yang hampir habis karena berlarian tadi.
“Jalan dulu,” ucap Ara dengan napas yang sudah terengah-engah.
Perlahan, Ara mengatur napasnya yang masih tersendat.
Arash melirik ke arah Ara dengan tatapan heran, tapi Ara hanya memandang malas ke arah hadapannya sembari menekuk wajahnya.
“Kenapa sih? Kayaknya lagi bad mood ya?” tanya Arash dengan heran.
Ara langsung menoleh ke arah kakaknya yang sedang mengemudi itu.
“Iya kesel! Tau nggak? Masa tadi itu aku lagi makan siang kan sama Morgan, terus tiba-tiba ada cewek yang nyamperin kita, kayak sok kenal gitu sama Morgan. Terus tiba-tiba nimbrung duduk di samping aku sama Morgan. Gimana orang nggak kesel coba?” Ara menjelaskan dengan panjang lebar.
Ara hanya melihat Arash tersenyum ke arahnya. Ara yang mengetahui hal itu langsung saja kesal dan memukul dadanya tanpa ragu.
“Brukkkkk ....”
“Adaw ...,” rintih Arash sembari mengelus dadanya yang baru saja terkena pukulan maut dari Ara.
“Aku lagi gak bercanda kak!” bentak Ara padanya, tapi Arash masih saja tersenyum.
“Cie cemburu,” ledek Arash, membuat Ara semakin kesal mendengar ledekannya itu.
“Aku serius kak! Tadi ada cewe namanya Gemi kalau ga salah. Dia kayak sok kenal gitu sama Morgan,” bentak Ara.
Arash kembali menatap arah hadapannya.
__ADS_1
“Oh Gemi,” gumam Arash, membuat Ara mendelik kaget.
“Kakak kenal sama Gemi?” tanya Ara.
“Pasti kenal, dia kan teman kampus kakak dulu,” jawab Arash, membuat Ara menepuk keras dahinya.
Ara melupakan hal itu.
“Oh. Terus kenapa sikap si Gemi begitu ke Morgan?” tanya Ara yang penasaran dengan kisahnya.
“Dia begitu tuh karena suka sama Morgan. Dia emang udah lama suka sama Morgan. Tapi ya ... Morgan emang dingin banget sama semua orang. Susah banget komunikasi sama Morgan. Apa lagi, sejak si Putri meninggal. Dia jadi lebih seneng sendiri,” jawab Arash yang menjelaskan dengan panjang lebar.
Ara membulatkan matanya.
Teringat ucapan Morgan tadi malam, mengenai masa lalunya dengan wanita yang bernama Putri itu.
Ara juga sampai lupa, kalau kakaknya itu sudah berteman sejak SMA dengan Morgan. Jadi mungkin, kakak tahu sedikit banyak tentang masa lalu Morgan dan juga Putri.
Aku harus menggali lebih banyak informasi, pikir Ara.
“Hah? Terus, gimana?” tanya Ara yang berusaha mengorek informasi lebih dalam tentang Gemi dan juga Putri.
Arash membanting stir ke arah kiri. Saat ini, mereka sudah berada di depan komplek perumahannya. Sudah tidak banyak waktu untuk Ara bertanya-tanya mengenai hal yang ingin ia ketahui.
“Singkat cerita ya gitu,” ucap Arash yang masih fokus untuk mengendarai mobilnya, karena ia mereka saat ini sedang melewati pos satpam.
Arash menghentikan laju kendaraannya, dan membuat kaca jendelanya.
Arash kemudian mengeluarkan kartu penghuni, yang harus ditempelkan pada sensor yang berada di pos satpam.
Arash menutup kembali kaca jendelnya kemudian melajukan kembali kendaraannya.
“Gimana?” tanya Ara, membuat Arash menoleh seketika ke arah Ara.
“Kamu kenapa sih? Kepo banget,” lirih Arash, kemudian kembali melihat ke arah hadapannya.
Ara mengerenyitkan dahinya, “biarin sih!” bentak Ara, membuat Arash tersenyum bangga karena sudah berhasil menjahili adiknya itu.
“Gemi udah dari semester satu, bahkan dari pas masa MOS, udah mulai ngincer Morgan. Karena Morgan pernah nolong dia waktu rok dia nyangkut di lift. Dulu Morgan belum sedingin sekarang. Sejak kenal sama Putri, Morgan jadi beda. Jadi lebih tertutup sama perasaannya,” jelas Arash membuat Ara menjadi miris mendengarnya.
“Apalagi pas Putri meninggal. Dia jadi jarang banget dia ke kantin bareng kakak. Yang ada, malah baca novel terus di kelas. Dia juga jarang makan. Mungkin karena masih mikirin Putri, ditambah lagi bokap dan adiknya yang terus-menerus ngejaga jarak sama dia karena satu kesalahpahaman yang kakak sendiri gak tau ceritanya gimana,” jelasnya panjang lebar.
Ara membulatkan matanya, setelah mendengar penjelasan dari Arash.
Ternyata Morgan bisa se-miris itu, pikir Ara.
__ADS_1