Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kepoanisme Arasha


__ADS_3

Mereka sudah sampai di rumah Ara.


Ara dan Morgan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu rumahnya. Ara masih saja merasa tegang dengan keadaan yang memaksanya untuk bisa mengemudi, ditambah lagi kondisi jalanan yang licin, membuat Ara sulit untuk mengendalikan laju mobil.


“Aduh ... pegel tangan,” lirih Ara, membuat perhatian Morgan tertuju padanya.


“Mau dipijitin?” tanya Morgan, membuat Ara sangat bersemangat karenanya.


“Mau, emangnya kamu bisa?” tanya Ara, membuat Morgan tersenyum jahil mendengar perkataannya.


“Bisa, bahkan sampai kamu lemas,” ucap Morgan membuat wajah Ara seketika menjadi panas.


Ara mendelik, “ngadi-ngadi aja loe! Ada juga loe kali noh yang lemes,” bantah Ara, membuat Morgan tertawa kecil mendengarnya.


“Sepanjang malam pun, saya sanggup,” ucap Morgan, yang semakin membuat wajah Ara merasa panas.


Ara mengalihkan pandangannya, “huh ... sok kuat,” ucap Ara, membuat Morgan tersenyum.


“Sudah pernah saya buktikan,” celetuk Morgan yang lagi-lagi menambah panas wajah Ara.


Tidak bisa dipungkiri, Ara ternyata masih kesal dengan kelakuan wanita yang berada di kafe tadi siang.


Ara menoleh ke arah Morgan, berusaha mencari waktu yang tepat untuk membahas bersamanya.


Terlihat ia sedang asyik menonton televisi, sampai tidak sadar kalau Ara sudah sejak tadi memandanginya.


“Gan ...,” pekik Ara lirih.


Morgan menoleh ke arah Ara dengan sangat cool.


“Ada apa, Ra?” tanyanya.


Ara mulai berusaha untuk bersikap serius. Ara hanya ingin bertanya tentang Gemi lebih jauh, dan ia tidak mau sampai membawa emosinya kali ini.


“Emm ... soal wanita itu ...,” gumam Ara ragu.


Morgan menatap ke arah Ara dengan datar. Sepertinya, Morgan tahu apa yang Ara maksudkan.


“Tadi saya tinggalin dia. Terus saya langsung ke toko bunga bawain kamu bunga. Oh ya, bunganya sudah bibi taruh di kamar kamu,” ucap Morgan dengan singkat padat dan jelas, tentu saja dengan ekspresi yang datar.


Ara harus tahan dengan ekspresi Morgan yang mudah berubah itu.


“Glekk ….”


Ara menelan salivanya.


“Lalu--”

__ADS_1


“Lalu saya masakin khusus buat kamu, karena kamu belum sempat makan tadi di kafe,” potong Morgan, kemudian Morgan pun terkejut, sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Ara menahan tawa saat Morgan mengatakan hal yang sebenarnya dengan jujur.


Ara menatapnya dengan tajam, “katanya bibi yang masak?” ledek Ara.


Morgan langsung menggelitiki perut Ara. Ara menggelinjang karena menahan rasa geli.


Ara tertawa lepas saat ini, melupakan sejenak permasalahan yang ada. Beberapa saat.


Morgan berhenti menggelitik Ara, membuat Ara menatapnya dengan lekat.


“Apa sih, hubungan kamu sama Gemi?” tanya Ara dengan nada serius.


Morgan memandang Ara dengan tatapan serius juga.


Pandangan mereka pun bertemu, membuat gejolak di hati Ara mulai bereaksi.


Morgan yang melihat ekspresi wajah imut Ara, kemudian membuang pandangannya itu.


Aku rasa, ia malu, pikir Ara.


Morgan kembali melihat ke arah Ara, “saya sama Gemi, gak ada hubungan apa pun. Kami hanya sebatas teman sekelas biasa. Memang tingkahnya agak berlebihan sih, untuk seukuran teman. Tapi, saya sama sekali gak tertarik sama dia. Meskipun banyak orang yang mengincar dia, saya lebih tertarik sama Putri dibandingkan dia,” jelas Morgan.


Perasaan Ara mulai mellow kembali ketika mendengar Morgan menyebutkan nama Putri.


Seketika jantung Ara terasa seperti berhenti berdetak. Per sekian detik, ia tidak bisa merasakan tubuhnya.


“Uhuuukkkk ... uhuuukkkk ....”


Ara memukul-mukul pelan dada sebelah kirinya.


Aku harus bisa membuat jantungku memompa darah kembali. Mungkin, aku terlalu dalam memikirkannya sehingga memperburuk keadaanku, pikir Ara.


Morgan mendelik, “kamu kenapa, Ra?” tanya Morgan yang panik dengan keadaan Ara.


Ara berusaha mengatur napasnya sesegera mungkin.


Ara menahan tangan Morgan, yang ingin menyentuh tubuh Ara, “gak apa-apa. Mungkin cuma tersedak,” tepis Ara.


Morgan segera menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Ara.


“Minum dulu,” ucapnya dengan panik, Ara segera mengambil gelas yang Morgan berikan, lalu menenggaknya hingga tetes terakhir.


Ara kemudian meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


Ara masih berusaha mengatur napasnya, membuat Morgan tak tega melihat ekspresi Ara.

__ADS_1


“Udah agak mendingan?” tanya Morgan, Ara mengangguk pelan.


Sampai detik ini, Ara masih memikirkan tentang Putri.


Apa yang membuat Morgan sampai jatuh cinta dalam sekali pada wanita itu? Ingin sekali aku bertanya. Tapi, aku tahu itu hanya akan menambah luka. Jika aku pendam saja, rasa penasaran ini tak kunjung reda. Aku haus akan segala sesuatu yang menyangkut Morgan, pikir Ara.


Ara memandangnya lekat, “kamu masih sayang sama Putri?” bidik Ara dengan tegas.


Ara harus mengetahui isi hati Morgan. Ia tidak ingin menjalani hubungan yang semu seperti ini.


Morgan menghela napasnya panjang, “rasa sayang itu pasti masih tersimpan ...,” ucap Morgan menggantung.


Ara merasa terpukul mendengar pengakuan Morgan itu, sampai-sampai Ara membuang pandangannya dari Morgan.


Morgan menundukkan kepalanya, “tapi semuanya sudah gak sama,” lanjutnya.


Mendengar hal itu, Ara mulai menahan air matanya yang hampir keluar dari pelupuk mata. Ia tak kuasa menahan tangisannya.


Aku, lemah, pikir Ara.


“Rasa sayang itu sudah berubah, menjelema menjadi sesuatu yang tidak boleh saya sia-siakan lagi ke depannya. Saya gak akan mau kehilangan orang yang saya sayangi lagi,” jelas Morgan.


Ara hanya menunduk saja, mempersiapkan diri untuk mendengar lebih jelas tentang masalah yang akan Morgan ungkapkan.


“Saya pasti akan jaga kamu ... sampai saya benar-benar sudah tidak sanggup lagi menjaga,” jelas Morgan membuat Ara spontan menoleh ke arahnya.


Penjelasannya rancu! Tapi, aku sudah tahu beberapa point dari yang ia jelaskan. Sedikit banyaknya, aku sudah paham dengan maksudnya, pikir Ara.


Air mata bercucuran seketika, Ara sudah tidak sanggup lagi menahan semua perasaan yang hampir meluap.


Melihat Ara menangis, Morgan pun terkejut akan hal itu.


“Hey ... udah dong. Jangan nangis,” lirih Morgan sembari menghapus air mata Ara yang bercucuran di sekitar pipi.


Ia sangat manis saat ini, pikir Morgan.


“Putri itu cinta pertama saya. Saya sayang sama dia. Tapi, cuma dia yang terus-menerus menolak saya. Maka dari itu, saya jadi terpacu untuk mendapatkan dia,” jelas Morgan, membuat Ara menoleh ke arahnya.


“Terus, kamu dapetin dia?” tanya Ara, Morgan hanya menggeleng kecil.


Ara mengerenyitkan dahinya, “lho, bukannya kamu cinta banget sama putri?” tanya Ara.


“Ya, kamu benar. Saya cinta sama dia, tapi … di malam kita nonton bioskop, saya belum sempat nyatain perasaan saya ke dia, dan … dia sudah pergi begitu saja,” jelas Morgan, membuat Ara terenyuh dengan setiap perkataannya.


Masih tersimpan gejolak yang mengganjal hati Ara.


“Lantas, apa yang membuat kamu jatuh cinta sama dia?”

__ADS_1


__ADS_2