
“Deg ….”
Jantung Ara terus terpacu dengan kuat, membuatnya kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan Morgan yang sangat rancu baginya.
Ara tidak tahu harus menjawab apa. Perasalahannya saat ini, Ara juga sudah terlanjur terbawa dengan suasana yang membuat dirinya merasa sebahagia ini.
Tapi, aku belum siap untuk merasakan hal itu lagi, pikir Ara.
“A-aku belum siap,” lirih Ara dengan gugup.
Morgan hanya diam, dan malah menciumi pipi Ara. Suasana jadi nampak canggung sekali.
Ara tak berani berbicara sepatah kata pun. Ara khawatir jika Morgan sampai nekat untuk memaksanya melakukan hal bodoh itu lagi.
Morgan memandangi wajah Ara dari sudut samping.
“Gak masalah. Kamu boleh nolak kok,” ucap Morgan dengan nada seperti orang yang sedang kecewa, tapi berusaha untuk menerima semuanya dengan lapang dada.
Ara tersenyum, dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk sekedar memberinya hadiah karena sudah mengerti dengan keadaannya saat ini.
Ara berbalik menghadapnya. Ia melingkarkan lengannya ke leher Morgan, membuat Morgan terdiam.
Ara berusaha mendekati wajah Morgan.
“Cuppp ....”
Ara mengecup pipi kirinya lumayan lama. Morgan hanya diam, sembari menerima ciuman yang Ara daratkan tepat di pipinya itu.
Ara merasa senang, karena Morgan yang terus belajar untuk memahami keadaan dirinya.
Ara pun memandang wajahnya, yang mampu membuatnya terpesona.
“Makasih ya, udah mau ngerti,” lirih Ara, lalu melontarkan senyum pada Morgan.
Morgan mengangguk kecil, sembari menaruh tangannya di kedua sisi pipi Ara.
Morgan lalu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, “di sini, enggak?” tanya Morgan, membuat Ara menjadi malu karenanya.
Apa salahnya? Hanya sekedar kecupan singkat di bibir kekasihku, tidak akan membuat diriku kehilangan harga diri seperti sebelumnya, pikir Ara yang tersenyum memandangi Morgan yang ada di hadapannya.
“Mau kamu yang mulai, apa aku?” tanya Morgan, yang mampu membuat Ara senyum-senyum tidak keruan.
Tanpa basa-basi, Ara segera mencium bibir Morgan dengan sangat lembut dan menjiwai.
Ara sangat menikmati masa-masa indah di awal pacaran ini. Meskipun, dirinya masih belum sepenuhnya bisa untuk menerima Morgan sebagai orang yang ia sayangi, setidaknya Ara sedang berusaha untuk terus belajar menerimanya.
***
Ara dan Morgan berangkat menuju kampus mereka.
__ADS_1
Mereka sekarang sudah hampir tiba pada tempat tujuan.
Di sepanjang jalan, Morgan terus menggenggam tangan Ara, dan tidak melepaskan genggamannya sama
sekali.
Ara merasa bahagia, karena hal kecil yang sudah Morgan lakukan. Ia mengerti dengan apa yang Ara butuhkan.
Ara hanya butuh kehangatan dari seseorang yang ia sayangi. Sudah lama Ara tidak merasakan hal semacam ini. Bahkan dengan Bisma pun, Ara hampir tidak pernah merasakan hal sebahagia ini.
Mungkin karena kisah cinta mereka yang terbilang cukup singkat, jadi mereka belum sempat merasakan indahnya bermesraan dengan orang yang ia cinta.
“Mentang-mentang mobilnya pinter, jadi megangin tangan aku mulu?” ledek Ara, membuat Morgan menatapnya dengan sinis.
“Biarin aja,” ucapnya dengan sinis, yang tetap memegang tangan Ara.
Ara tertawa kecil melihat responnya bak anak kecil itu.
“Oh ya, kamu beneran gak ada jam ngajar?” tanya Ara.
Mendengar pertanyaan Ara, Morgan pun segera memeriksa handphone-nya.
Tak sengaja, Ara melihat wallpaper di handphone Morgan, yang memakai foto mereka berdua.
Ara sangat senang karena Morgan yang menjadikan dirinya sebagai prioritasnya.
“Saya lupa, hari ini ada jadwal rapat dengan Kaprodi dan Wakaprodi. Tentang agenda yang mewajibkan seluruh mahasiswa untuk mengikuti minimal satu jenis ekstra kulikuler,” jelasnya.
Morgan terlihat sangat bingung. Terlihat jelas dari ekspresinya.
“Lho, kenapa kamu ketawa?” tanyanya.
Ara berusaha menghentikan tawanya.
“Udah kayak jaman SMA aja, harus banget ikut satu ekskul,” gumam Ara, yang langsung melanjutkan tawanya.
“Udah lah, kalian kan masih ada bawaan SMA-nya, kalian juga kan baru semester satu,” ucap Morgan dengan nada seperti meledek.
Ara yang sedang tertawa, tiba-tiba langsung saja berubah mood menjadi kesal, karena Morgan yang meledeknya seperti itu.
Ara memelototinya sembari komat-kamit sendiri. Morgan yang sudah memaklumi tingkah dan sikap Ara, hanya bisa memandang Ara dengan tatapan bangga, karena sudah berhasil membalikkan keadaan.
Morgan langsung mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya.
Ara sudah sampai di parkiran khusus untuk dosen di kampusnya. Ara berusaha meyakinkan dirinya untuk ke luar dari mobil Morgan.
Ara tidak bisa terima kalau para fans Morgan nantinya, akan mencari dirinya dan mem-bully Ara habis-habisan, karena Ara terlalu dekat dengan Morgan.
Ara belum siap dengan semua itu.
__ADS_1
Morgan menatapnya, yang hanya diam, tidak bersiap-siap untuk masuk ke dalam kelas.
“Lho, kenapa?” tanya Morgan yang bingung dengan keadaan Ara.
“Aku gak mau ya, sampai semua orang di kampus ini tahu kalau kita berdua sekarang udah pacaran,” ancam Ara padanya.
Morgan yang mendengar itu, langsung saja mengalihkan fokusnya pada handphone-nya.
Morgan mengerti, kalau ia meladeni Ara yang sedang kerasukan seperti ini, itu tidak akan baik nantinya.
Ara bingung karena Morgan yang sama sekali tidak menjawab perkataannya. Ara menoleh ke arah Morgan.
Matanya membulat, karena Ara melihat Morgan yang sedang berfokus pada handphone-nya, membuat Ara sangat kesal karena merasa Morgan tidak menghiraukan ucapannya tadi.
Ara yang kesal, segera merebut paksa handphone-nya dari tangan Morgan.
Morgan menoleh ke arahnya karena merasa terkejut, “eh ... apa sih?” tanya Morgan dengan nada yang sedikit kesal.
Ara tak menghiraukannya dan malah memeriksa isi chat dari handphone-nya.
Banyak sekali nomor orang yang tidak dikenal, yang Morgan sendiri pun tidak menyimpannya. Hanya ada beberapa nomor dosen, dan juga nomor keluarga Morgan yang Ara kenal.
Ada juga beberapa kontak yang sudah ia beri nama, namun Ara sama sekali tidak mengenalnya. Ara melihat sekilas pesan yang Morgan abaikan, tapi hanya dari luar saja, tidak membacanya dari dalam.
Ara sangat terkejut dengan semua isi pesan dari mereka. Semua nomor yang tidak Ara kenal, ternyata semuanya adalah nomor wanita. Ara berusaha menahan dirinya, agar tidak meluapkan emosinya secara cuma-cuma.
“Apa-apaan nih?” tanya Ara dengan sinis, sembari terus membaca isi pesan singkat dari mereka semua.
Morgan hanya diam, tak bergeming dan ia sepertinya membiarkan Ara untuk melihat semua isi pesannya.
“Pak Morgan, apa kabar?”
“Pak Morgan, Nomornya kok baru lagi?”
“Pak Morgan, ini aku silvi.”
“Pak Morgan, bisa ketemu gak nanti siang di cafe xxxx?”
“Bapak ganteng, kok ganti nomor gak ngabarin aku sih?”
“Pak Morgan kok gak bales chat saya sih? Kan rindu..”
“Bapak, i miss u.”
Ara mendelik, sembari terus-menerus membaca isi chat dari mereka tanpa melihatnya dari dalam chat room.
Ara tidak ingin, kalau sampai mereka mengira, Morgan lah yang sudah membaca isi pesan singkat dari mereka.
“Apa nih maksudnya?” tanya Ara dengan nada yang lebih sinis lagi, dari sebelumnya.
__ADS_1
Aku terus-menerus membaca dari awal pesan, dengan nomor telepon yang berbeda-beda.