Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Plester Keramat


__ADS_3

Ia melontarkan senyuman, yang terlihat palsu, ke arah Arasha.


‘Senyumnya aja fake gitu!’ batin Ara, merasa sangat gondok padanya.


“Wah ganteng ...,” lirih kasir tersebut, yang sepertinya tidak sadar, sambil tersenyum ke arah Morgan.


Ara mendadak merasa kesal dengan ucapan kasir itu.


‘Apa katanya? Ganteng?’ batin Ara, masih tidak terima dengan pernyataannya.


“Woy, ah, Mbak! Gak usah sok gatel deh, yaa!” Ara membentak tiba-tiba secara kesal, kemudian meletakkan uang pecahan seratus ribu, sebanyak dua lembar di hadapan sang kasir.


Ara dengan cepat mengambil belanjaan yang ia beli tadi, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka. Morgan yang melihat sikap Ara yang tidak jelas, hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


“Maaf, ya, Mbak. Dia memang begitu,” gumam Morgan yang merasa tak enak padanya, “orangnya cemburuan banget,” sambungnya sembari tersenyum manis pada kasir itu.


“Wah, seru banget dong pasti yah, dicemburuin setiap saat sama pacar tercinta,” ucap kasir itu yang terdengar seperti sedang meledeknya.


Morgan hanya bisa tersenyum, lalu memberikan barang-barang yang ia ambil tadi, untuk segera dibayarkan.


Sementara itu, Ara tidak peduli dengan ucapannya. Ia bergegas pulang untuk memberikan pesanan yang sudah kakaknya minta.


Apa mungkin karena jarak yang lumayan jauh, dan Ara yang selalu menarik urat, Ara merasa dirinya sangat lelah kali ini?


“Huft … capek juga!”


Akhirnya, Ara melewati rumah Bisma lagi. Ia memandang gang kecil tempat mereka memulai hubungan yang singkat itu.


Ah.


Ara terlihat masih tidak percaya.


Walaupun terkesan agak aneh, tapi kenyataannya tadi Bisma menyatakan cintanya pada Ara.


Manis sekali.


‘Bis, gak nyangka gue bisa pacaran sama loe,’ batinnya yang tak sadar sudah tersenyum dan juga melupakan kejadian yang terjadi di mini market tadi.


Tanpa sadar, Ara hanya diam mematung di jalan depan rumah Bisma.


“Tiinn ....”


Ara terkejut bukan main, karena mendengar suara klakson mobil yang mendadak. Sepertinya, gendang telinganya pecah karena suara itu.


Ara langsung melihat ke belakang. Di sana, sudah ada mobil berwarna hitam dengan cup terbuka. Terlihat jelas di dalamnya, ada seseorang yang Ara tahu jelas itu siapa.


“Morgan?” Pekiknya tak percaya.


“Deg ....”


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang. Kehadiran Morgan berpengaruh sekali damage-nya di dalam hati Ara.


‘Dia sebenarnya lumayan, sih,’ batinnya, sembari melihat ke arah Morgan yang sedang memakai kacamata hitam itu.


Ara sejenak berpikir kembali.


‘Tapi idiot! Malem-malem kok pake kacamata hitam!’ batinnya yang baru sadar dengan kejanggalan itu.


Ara tidak jadi terbuai oleh ketampanannya, karena melihat penampilan dirinya bak orang yang idiot.

__ADS_1


“Mau bareng?” tanya Morgan.


Ara mengerenyitkan keningnya, lalu membuang pandangannya dari Morgan.


“Sorry, gue lebih baik jalan kaki!” tolak Ara mentah-mentah.


Morgan melontarkan senyum padanya.


“Oke, saya gak akan maksa kamu, kok,” ucapnya singkat, kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat, dan bergerak mendahului Ara.


Ada perasaan kesal terhadapnya, ada juga perasaan suka karena ketampanannya itu, yang membuat Ara meleleh.


Andai Morgan bisa bersikap lebih normal.


“Haaaaa udah, gak usah ngebayangin yang enggak-enggak. Gue udah punya Bisma,” ucap Ara kemudian bergegas untuk kembali ke rumah.


Ara tahu, kakaknya pasti sudah lama menunggu.


Ara berjalan gontai, sembari membawa belanjaannya yang cukup berat.


Sesampainya di rumah, ia melihat mobil yang tak asing baginya.


Seperti pernah melihatnya.


“Eh ... kayaknya pernah liat?” lirihnya, sembari berpikir.


“Udahlah,” ucapnya lagi, mengindahkan.


Dengan santainya, ia masuk ke dalam rumah. Ia melewati kakak, yang sedang bercengkrama dengan seseorang, tapi Ara tak menghiraukannya.


“Eh, Ra, lama banget? Kakak nunggu lho ...,” pekik kakaknya, membuat Ara menoleh ke arahnya.


“WHAT?”


Terlihat Morgan yang sedang duduk di hadapan Arash, sembari melontarkan senyumannya. Ara sangat terkejut dengan kehadirannya.


‘Jadi, mobil itu punya Morgan? Kenapa gue bisa lupa, ya? Padahal, baru aja gue ngeliat tadi,’ batin Ara tercengang, ‘mau ngapain sih dia di sini?’ sambungnya yang merasa penasaran.


“Why? Kamu kenal sama dia?” tanya Arash, membuat Ara sangat malu untuk mengakuinya.


“Gak tuh!” bantah Ara dengan sinis.


“Hmmpp!”


Ara berlalu pergi menuju dapur.


“Ra, tolong siapin minuman, ya.”


Terdengar lirih suara Arash, yang meminta Ara untuk menyiapkan minuman, untuk tamunya yang terhormat itu.


“Duh ... benci banget gue jadinya!” lirihnya kesal, sembari menuangkan minuman bersoda ke dalam gelas yang berisi es.


Ara bergegas untuk mengantarkan minuman kepada kakak dan orang yang menyebalkan itu. Langkahnya terhenti, karena ia mendengar percakapan kakaknya dengan Morgan, yang sepertinya sangat menarik.


Ara sangat ingin mendengarnya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk mendengarkan secara diam-diam pembicaraan mereka.


“Itu tangan loe, kenapa?” tanya Arash, sembari menunjuk ke arah tangan Morgan yang masih terbalut dengan plester.

__ADS_1


Ara tidak menyangka, kalau Morgan masih mengenakan plester itu.


“Oh, ini? Gak sengaja kena kaca tadi,” jawab Morgan.


Ara benci sekali mendengar ucapan bodoh Morgan, yang memilih berbohong untuk menutupi semuanya.


‘Jelas-jelas karena nonjok tembok! Gue heran, kenapa tuh orang hobi banget boong si?’ batin Ara merasakan gejolak amarah itu timbul kembali.


Ara memperhatikan kembali Morgan yang masih mengelus tangan kanannya.


Oh, bukan.


Mengelus plesternya.


Ara merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Tapi, ia berusaha untuk menenangkan dirinya.


‘Kenapa sih? Itu kan ... cuma plester!’ batinnya, merasa tertekan.


“Hati-hati dong, Gan,” ucap Arash, yang membuat Ara hampir ingin muntah mendengarnya.


Bisa-bisanya kakaknya memperhatikan orang lain seperti itu.


“Gak apa-apa kok, Rash.”


“Oh ya, ngomong-ngomong, gimana hubungan loe sama dia? Udah berjalan sampai mana?” tanya Arash.


Nampaknya, Morgan mulai malu.


‘Kenapa gue jadi ngerasa sakit ya pas denger obrolan mereka?’ batin Ara.


Ara baru mengetahui, kalau Morgan sudah mempunyai wanita yang ia cintai. Tapi anehnya, mengapa dia selalu bersikap seolah-olah Ara adalah orang yang paling dia cintai?


‘Dasar morgan buaya!’ batin Ara yang tak terima kalau Morgan berusaha mendapatkan hati kedua orang secara bersamaan.


“Masih pendekatan. belum ada yang berubah di antara kami.”


“Oke ... gue harap sih, bisa secepatnya ke jenjang selanjutnya yang lebih serius lagi.”


“Santai, dia juga masih kuliah, kok,” jawab Morgan, seraya tertawa kecil.


‘Ternyata, ceweknya seumuran sama gue,’ batin Ara yang masih memperhatikan percakapan mereka.


“Kali ini, perjodohannya gak boleh sampai gagal, ya. Gue berharap sih, loe bisa secepatnya nakhlukin hati dia. Gue juga berharap, loe bisa jagain dia sama seperti gue ngejaga dia,” ucap Arash panjang lebar, yang langsung membuat Ara tersenyum jahil.


“Jadi orang yang mau dijodohin sama Morgan itu, masa lalunya kakak? Wah ... seru sih,” lirih Ara sembari tertawa kecil.


Akan ada senjata yang bisa Ara pakai, kalau suatu saat kakaknya mengancamnya ini dan itu.


“Btw, minuman ga sampe-sampe yaa?” tanya Arash pada Morgan yang pikirnya nampak sudah kehausan.


Ara terkejut, kemudian bergegas mempersiapkan dirinya agar terlihat lebih natural, lalu mengantarkannya.


Ia meletakkan minuman di hadapan mereka. Morgan tiba-tiba saja menatap Ara dengan tatapan dingin, tapi Ara tidak peduli dengan pandangan Morgan terhadapnya.


Ara tidak pernah mau memandang ke arah Morgan. Ia hanya memandang kakaknya saja.


“Sini, Ra, duduk,” pinta Arash, dengan lembut, tapi ia membelalak ke arah Arash.


“Gak usah, Ara berdiri aja,” tolaknya ketus, Arash hanya menggeleng saja.

__ADS_1


“Kenalin, Ra, ini temen kakak. Namanya Morgan,” ucap Arash.


Arasha menatap Morgan dengan terpaksa.


__ADS_2