Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Gadis Asing


__ADS_3

Nampaknya Morgan benar-benar memikirkan jawaban yang tidak ingin menyakiti hati Ara. Ia memilih bahasa yang baik.


“Lho ... ada niat apa dia?” tanya Ara yang ingin memastikan jawabannya.


“Dia … ya … mau tidur sama kamu,” jawab Morgan dengan lirih, membuat Ara tak habis pikir.


Ara mendelik setelah mendengar jawaban darinya.


“Tunggu, gue gak ngerti deh! Semalem sih ... emang bener gue sama dia. Tapi kenapa jadi loe yang ada di samping gue?” tanya Ara sinis.


Morgan terlihat memakai kaos polosnya dengan cepat.


“Soal itu, kamu gak usah pikirin. Yang penting, saya senang karena tidak terjadi apapun sama kamu,” jawab Morgan, membuat Ara semakin sangat penasaran.


Bisa-bisanya dia merahasiakan sesuatu hal yang menyangkut diriku, pikir Ara.


“Jangan bilang, loe sama gue ...,” ucap Ara menggantung, sembari memperhatikan respon Morgan.


Morgan hanya terdiam, sepertinya tebakan Ara benar.


Ara menjadi tak tahan, emosinya meledak-ledak.


“Plak ....”


Satu tamparan mendarat di pipi halusnya. Morgan lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa. Nampaknya, Morgan menahan emosinya kali ini. Ara sudah tidak peduli lagi dengan apa pun. Yang Ara ingin sekarang hanyalah mengetahui kebenaran tentang dirinya saja.


“Loe bilang kalau Bisma punya niat jahat sama gue, tapi loe sendiri yang udah nidurin gue, apa bedanya sama Bisma? Ha?” teriak Ara, membuat Morgan tidak bisa berkata apa pun lagi.


Morgan hanya ingin menolong Ara dari pengaruh efek obat yang Ara derita. Tak disangka, itu justru membuat Ara marah padanya.


Morgan mengelus pipi kirinya. Ia menatap Ara tiba-tiba. Rasa canggung melanda mereka saat ini.


Sial, aku mati kutu, pikir Ara.


“G-gue mau pulang!” ucap Ara ragu, kemudian bangkit dari tempat tidur.


Morgan tiba-tiba saja menarik tangannya, membuatnya terkejut setengah mati.


Ara menoleh ke arah Morgan, yang juga sedang menatap ke arahnya. Pandangan mereka pun bertemu di satu titik.


“Saya antar kamu pulang--”


“Enggak!” Ara memangkas ucapan Morgan.


Ia tidak ingin berurusan lagi dengan maniak ini.


Morgan menatap Ara dengan tatapan yang tajam, membuat Ara tidak bisa berbuat apa pun lagi.

__ADS_1


“Pokoknya, kalau saya bilang antar, ya saya antar!” bentak Morgan.


Ara terdiam sejenak. Tak disangka, Morgan berbuat kasar padanya lagi.


Ara menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Bagaimana bisa, orang ini selalu bersikap lembut, dan kadang pun bersikap kasar seperti ini.


Seperti tidak punya pendirian.


Ara membelalak, tak percaya dengan kejadian ini. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil tasnya, kemudian segera lari ke luar ruangan.


“Ra, tunggu, Ra!”


Terdengar suara Morgan yang lama-kelamaan semakin terdengar lirih. Ara hanya ingin dia bersikap baik padanya, itu saja.


Sial, padahal wajahnya tampan sekali. Tapi, Ara sama sekali tidak suka dengan sikap kasarnya itu.


Wanita mana pun itu, pasti tidak akan suka jika ada seorang pria yang menyakiti dan berbuat kasar terhadapnya.


I believe it!


Ara menyeka air matanya yang mulai bercucuran, membasahi pipinya. Ia bergerak menuju lift, lalu menekan tombol lift secara cepat. Ia tidak mau melihat orang itu lagi.


“Hah, lantai 30?” lirih Ara, setelah mengetahui kalau ia sedang berada pada lantai paling atas gedung ini.


Kenapa bisa?


“Bruk ....” Morgan melompat ke dalam dan menabrak Ara.


“Gila, ya!”


Morgan memojokkan Ara di sudut lift, membuatnya merasa risih.


“Awas!” bentak Ara sembari berusaha mendorong tubuh Morgan yang mengunci tubuhnya itu.


Tapi tubuhnya sangat berat, untuk seukuran gadis mungil seperti Ara. Ara sudah tidak memiliki banyak tenaga untuk itu, tapi ia terus berusaha untuk memberontak.


Ara tidak mau kalah dengannya.


“Awas!”


“Stop, Ra!” ucap Morgan yang sama sekali tidak Ara hiraukan.


Ara malah semakin mendorongnya dengan kasar.


“Gue gak suka! Sumpah gue gak suka sama loe!”


Morgan terdiam, dan seketika menarik dagu Ara.

__ADS_1


“Mau apa loe, ha?” sinis Ara.


Ara menghempaskan dagunya dari tangan kotor Morgan itu.


“Gue gak sudi, sumpah. Jangan sentuh gue!” Ara berteriak kasar di hadapan Morgan, yang hanya diam saja.


Morgan tampak mengindahkannya. Ia mendekati wajah Ara, membuatnya terdiam sembari menatap Morgan dengan penuh kebencian.


“Ting … nong ....”


Lift terbuka tiba-tiba. Ara melihat ke arah pintu. Terlihat segerombolan “Wanita Malam” yang sedang melihat adegan Ara dan Morgan. Mereka semua tersenyum jahil pada Ara dan Morgan. Morgan menoleh ke arah kiri tanpa melihat ke arah mereka. Sikapnya yang sok dingin itu, benar sudah membuat Ara mual dan ingin muntah.


Pintu lift tertutup kembali. Morgan melihat ke arah Arasha lagi.


“Puas loe udah bikin malu gue, ha?” tanya Ara dengan jutek.


Morgan terlihat mengerutkan dahinya. Mereka menunggu lift menuju lantai dasar dengan posisi Morgan yang masih menempel di hadapan Ara. Ara sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena tubuhnya sudah terkunci olehnya.


“Ting nong ....”


Kini mereka sudah tiba di lantai dasar.


Morgan melepaskan belenggunya, dan menggandeng Ara dengan lembut. Ara sama sekali tidak ingin membuat masalah di tempat orang lain. Yang ia lakukan, hanyalah menuruti apa mau Morgan.


Mereka melangkah menuju lobby hotel. Terlihat seorang wanita cantik sedang berdiri di hadapan mereka. Morgan menghentikan langkahnya, setelah melihat wanita itu. Tatapannya itu, mengandung banyak arti yang tidak Ara ketahui dengan jelas.


“Morgan?” pekik wanita itu.


Di situasi ini, Ara seperti merasa sedang tertangkap basah oleh istri sah dari laki-laki yang telah bersamanya semalaman di hotel. Ara merasa harga dirinya kali ini akan benar-benar hilang. Bukan hanya hilang di mata Morgan, tapi juga di mata wanita yang sama sekali tidak ia kenal ini.


“Who is she?” Wanita itu menunjuk ke arah Arasha.


Seorang wanita asing, yang memiliki kulit putih bersih, sedang mendelik di hadapan Ara. Terlihat dari aksen ia berbicara tadi, sepertinya dia bukan orang asli pribumi. Ditambah lagi dengan wajahnya itu yang memang tidak ada aksen oriental. Ara tidak menyangka, akan bertemu dengan orang asing ini.


Siapa sebenarnya dia? Pikir Ara.


Ara menatap Morgan dengan tatapan penuh kebencian. Ia dijebak pada situasi sulit, di mana ia sama sekali tidak mengerti alurnya.


Morgan bodoh.


Dia hanya diam saat ada orang yang bertanya padanya.


“Gan jawab, Gan! Dia itu siapa?” tanyanya yang semakin memaksa Morgan.


Ara sudah risih dengan sikap Morgan, ditambah juga ia risih dengan sikap penasaran wanita asing yang satu ini.


Emosinya sudah tak terbendung lagi.

__ADS_1


“Gue Ara. Gue gak ada apa-apa sama cowok ini. Silakan selesaikan masalah kalian berdua, dan jangan pernah bawa-bawa gue. Gue pamit,” tegas Ara.


__ADS_2