Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Maniak 3


__ADS_3

Ara lagi-lagi hanya diam lemas sembari menangis. Morgan membelai halus rambut Ara dengan penuh perhatian.


“Kamu laper?” tanya Morgan lembut.


Ara tetap diam, tak menghiraukannya.


“Kamu kenapa--”


“Jangan tanya gue kenapa! Ini semua gara-gara loe, ya!” Ara spontan mendelik, sembari membentak kasar, dan memotong ucapan Morgan.


Morgan terlihat hanya diam. Ara sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Ingin dirinya memaki Morgan dengan kasar.


“Tenang aja ... kamu gak akan hamil--”


“Enteng banget loe ngomong gitu! Loe udah ngerebut keperawanan gue tau gak!” Ara memotong kembali ucapannya.


Apa otaknya terbuat dari jelly? Lunak sekali cara berpikirnya.


“Sama. Saya juga baru kali ini melakukan, bareng kamu, Ra. Sebelumnya sama sekali saya gak pernah--”


“BOHONG!” pangkas Ara spontan, dengan mata mendelik.


Suasana nampak canggung saat ini. Ara menangis kembali. Terdengar jelas Morgan yang sedang menghela napasnya.


“Gue gak mau tau, ya, anterin gue balik, sekarang!” bentak Ara dengan air mata yang masih membanjiri pipi.


“Tapi, Ra--”


“SEKARANG!” Ara memotong lagi ucapannya itu.


Ara tak tahu lagi harus melakukan apa. Rasanya, ia tak ingin hidup lagi di dunia ini. Ara sudah terlalu malu dengan keadaan dirinya yang sudah ternodai ini.


Tidak munafik, Ara pun ingin melakukan hal semacam ini. Tapi, kenapa harus dengan Morgan? Kenapa harus dalam situasi seperti ini?


Ara membatin, sakit sekali Ara menahannya. Seperti tertancap tujuh belas bilah pedang di jantungnya. Ara sudah gagal mempertahankan kesuciannya. Harus bagaimana lagi ia menjalani kehidupan setelah ini?


“Baiklah. Saya antar kamu pulang,” ucap Morgan, sembari memberikan Ara tasnya yang tertinggal kemarin di rumahnya.


Tak lama kemudian, Morgan mengantarkan Ara kembali ke rumahnya.


Sejak saat itu, Ara berusaha menjauhi Morgan. Ia tidak pernah mau menatapnya sekali pun. Jika berpapasan di kampus, Ara selalu menghindarinya dengan berbagai macam cara.


Namun, Morgan tak pernah kehabisan akal, dan selalu ada di mana pun Ara berada.


Itu membuat Ara menjadi sangat jengkel!


Sudah satu minggu sejak kejadian itu. Harusnya Bisma sudah menyelesaikan apa yang Ara pinta padanya. Apakah hari ini, sudah boleh Ara memberinya kabar?


Ara tak tenang, jiwanya terus merasa seperti ada yang mengusik. Entah karena masalah Morgan, atau masalah Bisma. Keduanya selalu saja bisa membuat naik pitamnya.

__ADS_1


“Apa Bisma masih mau nerima gue yang keadaannya udah begini?” lirih Ara, merasa khawatir dengan pemikiran Bisma.


Ia terlalu kolot.


Padahal, di zaman seperti ini, hal semacam itu sudah tidak dianggap tabu. Tapi Ara malah khawatir setengah gila karena memikirkan kejadian malam itu bersama Morgan.


Tapi, apa benar yang Morgan bilang waktu itu? Aku tidak akan hamil? Kenapa bisa? Pikirnya.


“Duh ... jadi gak tenang lagi,” lirih Ara, sembari tetap mondar-mandir tak tenang.


Ara meraih handphone-nya yang berada di atas ranjang. Sudah tidak ada waktu lagi, Ara harus meminta kepastian pada Bisma. Masalahnya, Ara sudah tidak virgin lagi. Apakah Bisma mau mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak ia lakukan?


“Tuut ....”


“Halo?” Telepon terhubung dengan Bisma.


Sempat merasa kaku, karena Ara yang menghubunginya lebih dulu. Seumur hidupnya, Ara tidak pernah menghubungi laki-laki lebih dulu.


Ah.


Sudahlah.


Ara juga sudah tidak punya harga diri lagi.


“Halo, Bis.”


Ara menyuruh Bisma untuk menemuinya malam ini di sebuah caffee. Ara memasuki caffee tersebut dengan perlahan.


Terlihat sosok laki-laki yang duduk pada meja nomor 13. Ia memakai setelan jaket kulit dan celana jeans, serta mengenakan headset di telinganya. Langsung saja Ara menghampirinya, dan duduk di hadapannya. Ia sepertinya terkejut dan segera melepas headset yang ia pakai.


“Ra!” pekiknya.


Ara hanya diam.


Suasana menjadi canggung sekali saat ini. Ara grogi, tidak habis pikir dengan apa yang harus Ara katakan nanti pada Bisma.


“Gue udah putusin Jess dan udah kasih keterangan soal perasaan gue sama Fla, seperti yang loe mau,” jelasnya.


Ara merasa, tak ingin berbicara apa pun padanya. Mood-nya tiba-tiba saja lenyap.


Entah kenapa.


Bisma menggenggam tangan Ara dengan erat, sembari sesekali mengelusnya.


“Balik lagi ke gue ya, Ra,” pinta Bisma dengan nada memelas.


Ara tidak bisa berbuat apa pun, karena tidak tahu respon Bisma seperti apa jika ia mengetahui tentang kebenaran ini.


“Ra, jawab dong, Ra,” pinta Bisma dengan lemas.

__ADS_1


Ara mempersiapkan dirinya, untuk mengutarakan perasaan ini. Ia tidak mau menyembunyikan semua ini dari Bisma. Lama-kelamaan, pun akan ketahuan juga. Jadi lebih baik, Ara mengutarakannya sekarang.


Ara menghela napas, sekali lagi untuk mempersiapkan dirinya.


“Meskipun gue udah gak virgin lagi?” ucap Ara asal.


Bisma terlihat membelalak ke arahnya.


Ara sudah menduga, Bisma pasti akan memberikan respon yang demikian. Untung saja, ia sudah mempersiapkan sedikit dirinya akan jawaban yang akan Bisma berikan.


Ara harus bisa menghadapi ini semua.


Harus.


“Apa, Ra?” tanya Bisma, yang sepertinya tak percaya dengan ucapannya.


Ara sudah pasrah dengan perasaannya pada Bisma. Jika memang tidak bisa, ia akan siap menerimanya dengan hati yang lapang.


“Huft ... ya, apa loe masih mau nerima gue?” tanya Ara yang sudah pasrah.


Terlihat Bisma yang kesal setelah mendengar ucapan Ara. Di luar dugaan, sepertinya nanti akan ada sesuatu.


‘Dia udah gak virgin? Apa sekalian aja gue rusak juga?’ batin Bisma mulai membuat siasat buruk tentang Ara.


Sudah seperti ini, apa iya tidak ia ambil tentang kesempatan ini? Bisma juga ingin merasakan tidur bersama dengan Ara. Biar bagaimana pun juga, Ara terlihat sempurna, dari ujung rambutnya hingga ujung kaki. Siapa pun pasti tidak akan bisa menolaknya.


Di sisi lain, Morgan sudah menunggu Ara di luar caffee itu. Morgan khawatir dengan keadaan Ara di dalam sana.


‘Gak bisa gini terus! Dia nemuin siapa di sini?’ batin Morgan yang tak bisa berhenti memikirkan Ara.


Nampaknya, Ara akhir-akhir ini, sudah membuat jarak di antara mereka menjadi renggang. Ara selalu menghindari Morgan, setiap tak sengaja berpapasan dengannya. Morgan sudah merasakan itu, sejak terakhir bertemu dengannya.


Sejak kejadian itu, semua berbeda.


Seharunya, sebagai wanita yang sudah dirugikan, ia tidak akan pernah meninggalkan laki-laki yang sudah menodai kesuciannya.


Tapi mengapa Ara berbeda?


Itu yang Morgan sukai darinya.


‘Saya gak bisa ngeliat orang yang saya sayang, jadi benci sama saya. Gak akan pernah bisa,’ batin Morgan yang terus-menerus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.


Morgan tak sengaja membuntutinya sampai ke caffee ini. Ternyata, ia hendak menemui seseorang di sini.


Morgan tidak bisa menunggu di sini sementara Ara ada di dalam sana, tak tahu sedang bercengkerama dengan siapa. Tak terlalu jelas terlihat jika dilihat dari jarak seperti ini.


Tiba-tiba, ada seseorang yang datang dari balik pintu. Morgan berusaha menunduk agar tak terlihat oleh siapa pun. Per sekian detik, ia menunduk kemudian perlahan Morgan mengintip kembali ke atas.


‘Dia ternyata lagi sama laki-laki brengsek itu,’ batin Morgan merasa kesal dengan yang sedang ia lihat.

__ADS_1


__ADS_2