Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Manfaat Wejangan Arash


__ADS_3

"Duh, ini mahal banget. Kakak malah makin bingung jawabnya," ucap kasir tersebut, yang tidak berani mengambil barang yang bukan merupakan haknya.


Melihat hal itu, Ares segera mengeluarkan uang yang diberikan Arash untuknya, dan segera menyodorkannya ke arah kasir.


"Ini," gumam Ares sembari meletakkan selembar uang di hadapan sang kasir, dan segera mengambil belanjaannya.


Lian mendelik, "Ares," gumam Lian, membuat Ares menyeringai ke arahnya.


Sang kasir pun mengembalikan kalung itu pada Lian, dan mengambil uang yang memang seharusnya ia ambil.


"Terima kasih," gumam sang kasir.


Ares pun menarik tangan Lian, dan mengajaknya berlari ke arah luar mini market.


Mereka pun memperlambat langkahnya, karena sudah keluar dari mini market tersebut.


Lian menoleh ke arah Ares, "kamu kenapa sih? Kok mau bayarin es krimnya? Padahal kan aku yang ajak," tanya Lian, membuat Ares tersenyum.


"Kata kakakku, kalau ada orang yang kesulitan, harus dibantu," ucap Ares, membuat Lian mendelik tersentuh dengan ucapannya.


"Aku juga punya kakak. Tapi, kakak sibuk banget sama urusannya," gumam Lian, yang mendadak sendu, mendengar ucapan Ares tadi.


Ares yang memang dasarnya adalah orang yang sangat perasa, ia menjadi tersentuh mendengar ucapan Lian.


Ares pun tersenyum, "nanti kapan-kapan, aku ajak ke rumah ya, biar ketemu sama kakak aku. Kita main bareng sama kakak aku," ucap Ares, membuat Lian tersenyum seketika.


"Wah, oke deh," ucap Lian yang senang mendengar perkataan Ares.


Tiba-tiba saja, Lian mengingat kalung yang ia pegang tadi. Ia memandangnya sejenak, lalu menyodorkan ke arah Ares, membuat Ares mendelik bingung melihat perlakuannya.


"Ini, buat kamu aja," gumam Lian, membuat pipi Ares seketika memerah karena diberikan sebuah kalung oleh orang yang ia incar.


Dengan senang hati Ares mengambilnya, tak lupa ia tersenyum pada Lian setelahnya.

__ADS_1


"Terima kasih," gumam Ares, membuat Lian tersenyum tipis ke arahnya.


"Terus, kita jadi teman sekarang?" tanya Lian, membuat Ares menggeleng.


"Enggak," jawab Ares membuat Lian mengerenyitkan dahinya karena bingung.


"Kenapa enggak?" tanya Lian lagi.


"Kita jadi sahabat aja," ucap Ares, membuat Lian tertawa kecil, karena merasa Ares berbeda dari kebanyakan anak yang ia temui.


"Aneh," gumam Lian sembari menafikan pandangannya.


Ares pun hanya tertawa melihat Lian yang salah tingkah di hadapannya.


"Kita jadi ke rumah Aziel?" tanya Ares.


"Jadi," jawab Lian.


Mereka pun pergi bersama-sama menuju rumah Aziel untuk menjenguknya.


"Huft ...."


Morgan menghempaskan dirinya di kursi ruangannya. Dicky pun tiba-tiba saja duduk di hadapan Morgan.


"Tadi itu, kelihatan jelas banget dia untuk ngejatuhin kamu," ucap Dicky sembari membuka minuman ringan yang ia pegang.


Morgan pun mengambil minuman ringan itu di hadapannya, kemudian ia membukanya juga.


"Ya, saya juga tahu kok. Tapi pada akhirnya dosen Ardi yang punya maksud terselubung itulah yang menolong saya," respon Morgan, Dicky terlihat sangat kesal.


"Ya bagus deh ada untungnya," lirih Dicky, Morgan jadi sedikit penasaran dengan hubungan Dicky dan juga Lidya.


"Eh ngomong-ngomong hubungan kalian itu gimana sih? Apa masih main-main kayak yang kamu bilang waktu itu, atau sekarang malah sudah muncul benih-benih cinta?" tanya Morgan, yang sangat penasaran dengan hubungan mereka.

__ADS_1


Dicky memandang Morgan dengan datar, "gak ada benih-benih cinta. Saya sama dia cuma lagi pengen aja. Kamu juga tahu kan, bagaimana keadaan tubuh seksinya dia?" ucap Dicky, Morgan hanya diam tidak merespon ucapannya itu.


Morgan mendelik, "terus kamu sudah sejauh mana berhubungan sama dia?" tanya Morgan, yang masih penasaran dan juga untuk mengalihkan ucapannya yang tadi.


Dicky menenggak minuman ringan yang sudah ia buka sebelumnya.


"Glekk ... glekk ... glekk ...."


"Ahh ... seger banget," gumamnya.


Morgan pun menenggak minuman ringan itu.


"Saya sama dia sudah pernah ngelakuin semuanya. Jarang sih, cuma pas lagi pengen aja," jawabnya dengan polos.


Ya, memang untuk orang seperti Dicky itu memanglah hal yang sudah biasa. Apalagi kalau dia bertemu dengan seseorang seperti Lidya. Sudah pasti akan terjadi hal seperti itu.


Tidak salah dulu aku menolak Lidya. Aku sangat tidak suka wanita yang terlalu berinisiatif tinggi, kecuali orang yang aku sukai, pikir Morgan yang lega karena sudah mengambil langkah yang tepat.


"Perasaan kamu saat melakukan itu sama Lidya gimana? Apa kamu merasakan suatu kebahagiaan yang nggak bisa dijelasin?" tanya Morgan, Dicky menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Gan. Nafsu sama yang bener-bener pakai hati itu jauh banget bedanya. Sampai sekarang, saya nggak pernah ngerasain lagi setelah hubungan saya dengan mantan dulu. Saya nggak bisa merasakan bercinta dengan pakai hati lagi. Padahal saat pertama kali saya melakukannya sama mantan pertama saya waktu itu, saya ngerasain kebahagiaan yang tak tertahan. Saya enggak tahu jelasin ini gimana, intinya perasaan itu selalu muncul dan selama saya masih terus bareng sama dia, perasaan bahagia dan ingin melakukannya lagi pun terus-menerus ada. Rasa bahagianya itu terus-terusan menghantui saya. Saya jadi pengen lagi, lagi dan lagi," ucapnya menjelaskan, membuat Morgan tersenyum tipis ke arahnya.


Ternyata bukan cuma aku saja yang merasakan hal demikian, tapi Dicky juga merasakan kan hal-hal yang bahagia juga, pikir Morgan.


"Oh ya, terus gimana kamu sama cewek itu? Kamu udah ngelakuin apa aja sama dia?" tanya Dicky, membuat pipi Morgan terasa panas saat ia bertanya demikian.


Morgan menghela napas, "kamu sudah tahu semuanya, kenapa masih bertanya?" ucap Morgan, membuat Dicky tersenyum kecil.


"Siapa tahu gitu kan kamu bercanda aja jawabnya," ucap Dicky yang terkekeh dengan ucapan Morgan.


Morgan menghela napas lagi, "sebelum saya bertemu dan menjalin hubungan sama Ara yang sekarang, saya lebih dulu kenal sama dia. Bahkan kita udah pernah ketemu dan ngobrol bareng. Bisa dibilang, cinta pandangan pertama saya, dan satu-satunya gadis yang baru pertama kali saya suka yaitu Ara. Tapi saat itu, saya nggak pernah ketemu sama Ara lagi. Malah bodohnya saya berpindah hati sama Putri," ucap Morgan, membuat Dicky mendelik.


"Terus sama Putri, kamu juga berbuat seperti itu?" tanya Dicky yang penasaran dengan Morgan yang tumben sedang terbuka dengannya.

__ADS_1


"Enggak. Saya sama sekali nggak ngelakuin apa pun sama dia. Saat lari ke Jepang, saya juga nggak ngelakuin hal yang lebih sama Meygumi. Walaupun dia sering sekali ngajak saya hal-hal yang nggak bener. Cuma saya nggak suka dan saya menolak. Saya nggak bisa kalau dipaksa," jawab Morgan.


Sepertinya aku merasa sudah terlalu terbuka pada Dicky. Aku tidak seharusnya seperti ini, pikir Morgan yang menyadari dirinya yang sudah terlalu terbuka.


__ADS_2