
Morgan menyetir dengan keadaan marah. Emosinya karena sisa kejadian tadi, masih saja membekas di hati Morgan. Ia jadi tidak bisa berpikir dengan jernih.
Morgan mendelik, ingin sekali aku melampiaskan semua ini. Tidak peduli Dicky berkata apa, pikir Morgan.
Merasa kecepatan mobil terlalu cepat, Dicky pun menoleh seketika ke arah Morgan, yang ia tahu saat ini sedang meluap-luap.
"Gan, pelan-pelan aja," ucap Dicky, namun tak dihiraukan oleh Morgan.
Sebagai seorang sahabat, Dicky sangat prihatin dengan hubungan Morgan dan Ara yang baru saja kandas. Namun, Dicky sama sekali tidak bisa berbuat apa pun.
"Kamu baik-baik aja kan, Gan?" tanya Dicky, tetapi seperti biasa, Morgan sama sekali tak menghiraukannya.
Dicky mendelik, "Apa keputusan kamu sudah tepat, untuk mengakhiri hubungan itu, Gan? Ingat semua kenangan yang sudah kalian lalui," ucap Dicky, membuat Morgan kembali mengingat sepenggal kisahnya bersama Ara.
Jauh di lubuk hati Morgan, ia juga tak rela jika hubungannya berakhir dengan Ara begitu saja. Namun, Morgan sudah mengingatkan pria itu, untuk menjauhi Ara, tapi ia tetap saja nekat dan malah berbuat hal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Hati Morgan sudah terlalu sakit, karena terlalu kesal dengan kesalahan yang dilakukan Meygumi, yang juga dilakukan oleh Ara. Hatinya sudah tidak bisa lagi menerima semuanya dengan mudah.
"Jangan membuat saya gentar. Keputusan saya sudah bulat. Saya sudah gak mau lagi berhubungan sama dia," gumam Morgan, membuat Dicky mendelik kaget mendengarnya.
Morgan pun berbelok ke arah kiri, menjauhi arah rumahnya, yang seharunya berbelok ke kanan. Hal itu membuat Dicky mendelik kaget.
"Lho, Gan. Rumah kamu ke arah sana, kan? Kenapa belok ke arah sini?" tanya Dicky.
Benar saja, Dicky pasti akan terus melakukan sesuatu untuk menghentikan Morgan. Morgan tidak menghiraukannya, dan malah menambah laju kecepatan mobil yang sedang ia kendarai.
Dicky mendelik, "Gan, pelan-pelan!" ucap Dicky sedikit berteriak.
Hati Morgan terlalu keras, sampai ia sama sekali tidak ingin mendengar kata apa pun dari Dicky. Morgan semakin membawa laju mobilnya.
Karena jalanan yang sudah sangat sepi di malam itu, Morgan menjadi bertambah lepas kendali. Ia memanfaatkan keadaan, agar bisa melepaskan rasa kesal yang ia alami saat ini.
Tak sengaja, Dicky melihat seseorang di hadapannya, "Gan, awas!" Dicky berteriak kencang sekali.
Mendengar Dicky yang berteriak seperti itu, langsung menoleh ke arah depan dan melihat ada seseorang yang sedang menyebrang jalan. Dengan cepat, Morgan langsung membanting stir ke arah kiri, dan juga menginjak rem dengan keras.
__ADS_1
"Ngikk ...."
"Braakk ...."
Kejadian yang tak diinginkan pun terjadi. Morgan menabrak pohon tak jauh dari tempatnya menginjak rem. Kepalanya terbentur dengan stir yang ada di hadapannya. Benturan itu cukup membuat kepala Morgan sakit.
Morgan memegangi kepalanya,.dan tak sengaja memegang sesuatu cairan yang kental. Morgan yang penasaran pun langsung menyentuh kemudian melihatnya.
"Hah!!"
Morgan terkejut karena yang ada di tangannya saat ini adalah darah yang keluar dari pelipis kanannya.
Pantas saja aku merasa sakit yang lumayan di bagian pelipis, pikir Morgan.
Morgan teringat dengan Dicky, lantas seketika menoleh ke arah Dicky yang terlihat lemah dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sepertinya benturan keras itu terlalu berefek padanya.
Namun syukurlah, Dicky masih sadarkan diri.
"Dik, kamu nggak apa-apa?" tanya Morgan yang merasa khawatir padanya.
"Uhuuukkk ... uhuuukkk ...."
Dicky terus-menerus batuk hingga lagi-lagi mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya, membuat Morgan menjadi tak kuasa melihatnya.
Morgan mendelik, 'Gimana ini, sepertinya masalahnya serius!' batin Morgan yang mulai menyesal dengan perbuatannya.
Morgan terlalu termakan dengan emosinya, sehingga larut dengan keadaan. Ia sampai tidak berpikir dengan jernih, sehingga membuat mereka berdua terluka seperti ini.
Dengan tubuh yang sudah sangat gemetar karena melihat darah yang keluar dari hidung Dicky, Morgan pun terpikir untuk menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
"Saya harus menghubungi siapa?" gumam Morgan lirih.
Morgan berusaha menggerakkan tangannya, tapi ternyata, benturan yang cukup keras itu, membuat tangannya tidak bisa bergerak.
Morgan tiba-tiba saja teringat dengan Ara.
__ADS_1
Morgan mendelik, "Saya harus hubungi Ara, biar dia tidak khawatir," gumam Morgan dengan lirih, yang berusaha mengambil handphone-nya, yang terjatuh akibat terkena benturan tadi.
Morgan pun seketika berhenti karena teringat sesuatu, aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Ara. Aku sudah mengakhirinya dan tidak penting baginya untuk tahu keadaanku saat ini, pikir Morgan, yang langsung mengepal erat tangannya yang tadinya hendak mengambil handphone.
Morgan teringat keadaan Dicky yang sekarat, gak ada waktu untuk mikirin yang lainnya, pikir Morgan.
Morgan menoleh ke arah Dicky, "Dicky, kamu nggak papa?" tanya Morgan sekali lagi untuk memastikan keadaan Dicky benar baik-baik saja.
"Iya, saya nggak apa-apa, Gan, tapi sepertinya kamu harus antar saya ke rumah sakit, atau ke klinik sekarang. Pandangan saya agak kabur," ucapnya sembari berusaha membenarkan pandangannya.
Morgan merasa menyesali perbuatannya, karena ia yang sudah mengabaikan keselamatan dirinya, bahkan mengabaikan keselamatan orang lain.
Morgan memandang Dicky dengan miris, aku terlalu gegabah dan bertindak seenaknya. Aku tidak akan memberitahu Dicky tentang kondisiku saat ini, yang tidak bisa menggerakkan tanganku, pikir Morgan.
Morgan tersadar dari lamunannya, "Oke, kita ke klinik sekarang. Bertahan ya Dik," ucap Morgan yang menyetujui permintaannya.
Sekuat tenaganya, Morgan menggerakkan tangannya untuk mencoba menyetir mobilnya kembali. Ada sedikit keraguan dan rasa trauma untuk mengendarai mobil. Namun untuk saat ini, itu tidak boleh menghalangi Morgan untuk membawa Dicky ke rumah sakit.
Morgan tidak tahu harus menghubungi siapa. Karena selain Dicky, teman terdekatnya yang lain hanya ada Arash.
Morgan berusaha mengembalikan mobil ke jalan raya, dan melajukan mobil dengan kecepatan standar. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Morgan pun bisa kembali menggerakkan tangannya, walau harus dipaksa sedemikian rupa.
Morgan bergerak menuju klinik atau rumah sakit terdekat, untuk memberikan pertolongan pertama pada Dicky yang mengalami benturan yang cukup keras.
'Maafin saya, Dik,' batin Morgan, yang merasa sangat bersalah dengan sahabatnya itu.
Tak butuh waktu lama, Morgan pun sampai di rumah sakit terdekat.
Sesampainya di sana, Morgan meminta tolong pada staf yang sedang bertugas, untuk mengantarkan Dicky mendapatkan penanganan.
"Tolong," gumam Morgan, beberapa orang yang berjaga segera menghampiri Morgan.
Dicky sudah dibawa untuk mendapatkan penanganan. Sekarang, Morgan juga harus melakukan penanganan terhadap lukanya, karena terbentur tadi.
Morgan dengan segera menuju ke ruangan untuk memeriksakan keadaan dirinya, dan menerima pengobatan dari dokter.
__ADS_1
Aku akan menjadikan semua ini pelajaran agar kelak, aku tidak mengulanginya lagi, pikir Morgan.
...***...