Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Meminta Izin 2


__ADS_3

Ilham terlihat melontarkan senyum ke arah Arash, "Mungkin terlalu bikin kamu kaget, ya? Ada sesuatu yang membuat saya jatuh cinta sama dia. Kalau saya boleh jujur, sampai sekarang pun saya masih menyimpang perasaan itu untuk dia," ucap Ilham menjelaskan.


Ara mendelik, ternyata pemikiranku salah. Ilham bukan sedang memanfaatkan keadaan, tapi dia sudah menyukai aku sejak lama. Namun, aku tidak merasakan bahwa dia menyukaiku? Biasanya kalau seseorang suka dengan orang lain, dia pasti akan melakukan hal-hal yang membuat orang itu menjadi simpati dengannya. Namun aku tidak melihat dia melakukan hal-hal yang lebih dari pekerjaannya waktu itu, pikir Ara yang larut dalam emosinya.


Arash mengerenyitkan dahinya, "Tapi kan Ara sudah sama--"


"Morgan?" ucap Ilham memotong pembicaraan Arash.


Ara mendelik, ternyata perbincangan mereka sudah sampai sejauh ini. Namun, aku masih penasaran dengan perbincangan mereka selanjutnya, pikir Ara.


"Iya, kan kamu tahu," ucap Arash yang masih bersikeras, tapi Ilham hanya tersenyum.


Ilham menghela napasnya, "Kemarin, Morgan mengakhiri hubungannya dengan Ara," ucap Ilham menjelaskan.


Mendengar kalimat itu kembali, Ara menjadi semakin sesak. Bahkan sampai sekarang, dirinya sendiri pun masih belum percaya kalau hubungan ini telah berakhir.


Arash mendelik kaget, "Hah? Serius?" tanya Arash terdengar seperti tidak percaya.


Tak sadar, Ara pun kembali menangis. Ia sengaja tidak memberitahu hal ini pada Arash, tapi Ilham sudah memberitahunya lebih dulu.


Mau bagaimana lagi?


Dengan segera, Ara pun mengusap seluruh air mata yang keluar, karena takut Arash atau Ilham melihatnya menangis nanti.


"Kok bisa? Apa gara-gara masalah kemarin?" tanya Arash lagi.


Ilham hanya mengangguk. Arash terlihat seperti orang yang masih tidak percaya. Dia masih kelihatan bingung.


"Ya ampun, saya gak nyangka. Kenapa Morgan masih bertindak gegabah begitu, sih? Harusnya bisa dibicarakan baik-baik," gumam Arash lirih, tapi Ilham tak merespon ucapannya kali ini.


Ilham menghela napas dan mempersiapkan dirinya, "Jadi gimana, soal pertanyaan saya yang tadi? Apa ... saya boleh mendekati Ara?" tanya Ilham.


Ara mendelik khawatir, aku tidak boleh membiarkan kakak mengatakan apa pun tentang pertanyaannya itu! Pikir Ara yang segera bergegas menghampiri mereka untuk memotong percakapan mereka.


"Kalau saya sih--"


"Kakak!" pekik Ara memotong ucapan Arash seketika.

__ADS_1


Ara tidak ingin membahas soal perasaan lagi saat ini. Hatinya masih sangat sakit karena menjalin hubungan dengan Morgan. Ia masih ingin menata kembali perasaannya yang berantakan.


Seketika, seluruh fokus mereka pun berubah ke arah Ara.


"Kenapa, Ra?" tanyanya Arash, Ara kini berdiri di hadapannya.


"Handphone aku kayaknya ketinggalan deh, di mobilnya kak Ilham," jawab Ara.


Mendengar hal itu, Ilham pun langsung bangkit dari tempat duduknya, "Biar saya yang ngambil ya, Ra," ucap Ilham tiba-tiba, membuat Ara tersenyum.


Bagus sekali kodeku itu. Aku memang sengaja agar Ilham tidak berada di sini dulu untuk sementara. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kakak, pikir Ara.


"Makasih, Kak Ilham," ucap Ara dengan nada terimut yang ia miliki, tetapi Ilham seperti terdiam, sesaat setelah melihat respon Ara.


"Ya," Ilham menjawab Ara dengan singkat, kemudian segera menuju ke tempat mobilnya diparkir.


Kini hanya ada Ara dan kakaknya saja. Ara melirik ke arah Arash dengan sinis. Kakaknya yang menyadari itu, langsung membalas tatapan Ara dengan tatapan yang sama.


"Kenapa kamu kayak gitu?" tanya Arash dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


Ara melipat kedua tangannya, dan menyedekapkan di dadanya.


Arash mengerenyitkan dahinya, "Kenapa? Apa kamu belum bisa move on dari Morgan?" tanyanya dengan sinis, membuat Ara menatapnya dengan tatapan malas.


"Siapa yang belum bisa move on? Lagian juga aku nggak cinta-cinta banget tuh, sama Morgan. Biasa aja tuh!" ucap Ara sembari membuang pandangannya dari Arash.


Tujuannya berkata seperti ini, karena ia tidak mau terlihat lemah di mata Arash. Namun, perasaannya pada Morgan itu sangat nyata. Ara benar mencintai Morgan.


Arash memandang Ara dengan tatapan meremehkan, "Sok kuat sekali wanita ini," ucap Arash yang meledek Ara kali ini.


Arash benar-benar tidak percaya dengan perkataan yang tadi Ara katakan.


"Ya kita lihat aja nanti," ucap Ara yang menerima tantangan dari Arash.


Semoga saja, perasaanku pada Morgan bisa hilang dengan cepat, pikir Ara yang sangat cemas dengan perasaan yang ia miliki.


"Ini handphone kamu, Ra," ucap Ilham yang tiba-tiba saja datang sembari menyodorkan handphone ke arah Ara.

__ADS_1


Seketika layar handphone-nya menyala dengan sendirinya. Terlihat wallpaper foto Ara dan juga Morgan saat makan di mall waktu itu.


Ara memandangnya dengan sendu, jujur saja, hatiku agak mellow saat melihatnya, pikir Ara.


Arash memandang Ara dengan jahil, "Cie ... ada yang sok kuat, padahal mah belom move on. Wallpaper aja belum diganti," ledek Arash.


Mendengar ledekan Arash itu, Ara dengan segera merampas handphone-nya dari tangan Ilham, dan meletakkannya dikantong jaketnya.


Ara menatap Arash dengan sinis, "Apaan si, gak lucu!" bentak Ara yang lalu segera pergi meninggalkan mereka di sana.


Matanya mendelik, hidungnya pun sudah kembang-kempis, aku kesal! kenapa kakak harus meledekku di depan Ilham? Padahal aku sudah mengatakan untuk jangan mengatakan apa pun yang menyangkut perasaan di depan Ilham. Kakak tidak bisa memegang omongan! Pikir Ara yang kesal sendiri dengan yang kakaknya lakukan.


Ara menuju kamarnya dengan perasaan kesal. Ia sama sekali tak bisa mengendalikan perasaan kesalnya selama ini.


"Dringg ...."


Di sana, handphone Arash pun berdering dengan sangat kencang, membuatnya segera mengangkatnya dengan cepat.


"Tuuuuttt ...."


"Halo?" sapa Arash.


"Kak Arash, kenapa gak ngehubungin aku dari semalem!" bentak gadis cantik bernama Fla, secara tiba-tiba.


Arash tak sadar menelan salivanya sendiri dengan kasar, karena merasa bingung dengan yang harus ia jelaskan pada kekasihnya itu.


"Emm ... maafin kakak ya, Fla. Kakak semalam gak bisa hubungin kamu. Maaf sudah bikin kamu khawatir," ucap Arash, membuat Fla menjadi sedih mendengarnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Fla dengan nada yang masih tinggi, sama seperti nada awal.


Arash mendelik, "Gak apa-apa. Kakak gak berbuat macam-macam, kok. Kamu jangan khawatir, ya. Gak ada apa pun yang terjadi sama kakak juga," ucap Arash, membuat kemarahan Fla agak mereda.


"Syukur deh kalau gitu," gumam Fla yang sudah mulai menurunkan sedikit egonya.


"Fla, nanti kakak kabarin lagi, ya," ucap Arash.


"Iya, bye."

__ADS_1


"Bye."


Arash mengakhiri teleponnya dengan Fla, dan segera menoleh ke arah Ilham.


__ADS_2