
"Ah tidak masalah. Silakan dicicipi," ucap Naoki sembari menyodorkan makanan ringan dan minuman kepada Morgan dan Ara.
Pramugari itu terlihat mengeluarkan tatapan itu lagi ke arah Morgan, membuat Ara menjadi sedikit kesal terhadapnya.
"Bukankah seharusnya kamu memperkenalkan saya?" tanya wanita itu, yang berbicara pada Morgan dengan kosa kata yang tidak Ara pahami.
Ara mulai menyipitkan pandangannya pada wanita itu.
"Bolehkah saya meminjam toilet?" tanya Morgan yang tidak mempedulikan ucapan wanita itu.
Naoki pun tersenyum pada Morgan.
"Tentu saja, sebelah sini," jawab Naoki.
Wanita itu terlihat sangat kesal dengan Morgan. Ara hanya tersenyum tipis ke arah wanita itu.
'Mau nyoba ngegoda laki orang? Hah ... gak akan bisa,' batin Ara yang berusaha tenang dengan sikap yang wanita itu buat secara terang-terangan.
Aku seharusnya tidak perlu merasa risau, kalau Morgan belum merespon ucapannya, pikir Ara.
Morgan meninggalkan Ara lama sekali, membuatnya nampak sangat canggung berada pada posisi ini. Ara tidak mengenal wanita ini, dan dirinya juga baru saja mengenal Naoki. Walau kelihatannya Naoki adalah pemuda yang baik, tapi Ara tidak boleh percaya pada wanita ini.
Ara memandangnya dengan tatapan tajam, dia sudah secara terang-terangan menggoda Morgan. Aku tidak bisa tinggal diam, pikir Ara yang mulai mengatur strategi.
Wanita itu menoleh seketika ke arah Ara, yang sedang memperhatikan ke arahnya, "gadis cantik, siapa nama kamu?" tanya wanita itu tiba-tiba.
Ara nyaris saja terkejut karenanya, apa yang harus aku jawab? Bagaimana cara aku bersikap padanya? Pikir Ara.
"Ara," ucap Ara dengan nada ketus.
Ara memperhatikan responnya, yang terlihat tidak senang dengan jawaban ketus dirinya. Ara hanya bisa menunggu Morgan, untuk bisa memastikan wanita ini berbahaya atau tidak.
Setelah menunggu, akhirnya Morgan pun keluar dari toilet. Ia bergerak menuju tempat duduk yang berada di samping Ara.
Morgan terlihat cuek saat menatap ke arah wanita itu. Jadi, apa alasanku untuk bersikap baik pada wanita itu? Pikir Ara yang mencoba membaca keadaan.
"Kami harus pergi sekarang," ucap Morgan tiba-tiba, membuat Ara tercengang.
Apa tidak terlalu kelihatan jelas kalau Morgan tidak menyukai situasi ini? Pikir Ara yang khawatir dengan keadaan.
"Jangan seperti itu, kita sudah lama tidak bertemu," tepis Naoki.
Morgan tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
Morgan menepuk bahu Naoki, "lain waktu ya, Naoki," jawab Morgan.
Terlihat Naoki yang membulatkan matanya sesaat setelah Morgan berkata demikian.
Apa Naoki paham maksud Morgan? Pikir Ara yang memperhatikan gerak-gerik Naoki.
"Baiklah, kirimi aku alamat hotel yang kamu singgahi. Aku akan berkunjung," ucapnya.
Morgan tersenyum tipis sembari mengangguk ke arahnya, kemudian pergi dari hadapan Naoki dan wanita itu, begitu pun Ara.
"Senang bertemu dengan kamu, Ara-chan," lirih wanita itu, membuat Ara terkesiap.
Ara menghentikan langkahnya karena merasa terganggu dengan ucapan wanita itu. Morgan yang mengetahui keadaan Ara, sampai menarik tangan Ara untuk segera menyamai langkahnya.
...***...
Arash dan yang lainnya sudah tiba di salah satu destinasi yang sangat indah pemandangan alamnya.
Arash terpaksa saja duduk bersebelahan dengan Bunga.
Kalau bukan karena Fla, saya juga gak akan mau, pikir Arash sembari berusaha memarkirkan mobilnya.
Arash berhasil memarkirkan mobilnya dengan posisi terbaik. Ia melirik ke arah Fla yang saat ini sudah tertidur bersama Ares.
"Akhirnya kita sampai," gumam Bunga, membuat Arash seketika menoleh ke arahnya.
Arash sampai terlupa, kalau ada wanita itu di sebelahnya.
Mendengar ucapan Bunga, Ares pun membuka matanya dan gak lama Fla juga ikut terbangun karena terganggu dengan suara Bunga yang cukup berisik menurutnya.
"Hoam ...."
Ares memandang ke sekeliling tempat wisata ini, "akhirnya sampai juga ...," lirih Ares, yang masih mengucek matanya karena merasa masih lelah dengan tidurnya yang masih belum cukup.
Arash mengeluarkan handphone-nya, dan segera menelepon seseorang.
Ia pun menunggu teleponnya terhubung.
"Halo," tak lama kemudian telepon pun sudah terhubung.
"Kamu di mana?" tanya Arash.
"Tidak jauh dari tempat kamu parkir," jawab Ilham lirih, yang saat ini sedang bersandar di mobilnya sembari melihat ke arah mobil Arash yang baru saja masuk ke dalam parkiran.
__ADS_1
Walaupun Ilham berangkat sangat akhir, tetapi Ilham ternyata sudah sampai lebih dulu di tempat yang mereka janjikan.
Arash sengaja mengajak Ilham, karena ia pasti akan membutuhkan bantuan Ilham nantinya.
Deburan ombak pada pantai yang berada di selatan Jawa, sangatlah besar, sehingga membuat angin yang berembus juga semakin kuat. Cuaca siang menjelang sore ini, sangat cocok untuk menikmati suasana di selatan pantai Pulau ini.
Arash melirik ke sekitar tempatnya untuk mencari keberadaan Ilham. Tak lama, Arash melihat Ilham yang sudah stay di sana.
"Oke, tolong bantu saya turunin barang, ya?" pinta Arash.
"Oke," jawab Ilham, yang kemudian memutuskan teleponnya.
"Yey ... akhirnya kita malam tahun baruan di pantai!" pekik Ares, membuat Arash mendelik kaget.
"Tahun baru?" gumam Arash, kemudian segera menoleh ke arah jam handphone-nya.
Ia melihat di layar handphone-nya, yang memang benar, saat ini sudah tanggal 31 Desember, membuat Arash melupakan sesuatu.
"Eh, sekarang malam tahun baru ternyata?" tanya Arash, membuat Ares melontarkan tatapan malas ke arahnya.
"Masa Kak Arash gak ingat tanggal, sih? Makanya aku minta jalan-jalan karena sekalian kita tahun baruan," lirih Ares, membuat Arash menepuk pelan keningnya.
"Kita menginap di sini?" tanya Bunga tiba-tiba, membuat Arash melirik ke arah Fla.
Sangat ragu Arash untuk mengatakannya, "gak, kita pulang nanti malam," tepis Arash, membuat raut kecewa muncul di wajah mereka, termasuk juga Fla.
"Yah ... tapi kan Ares mau rayain tahun baruan di sini," rengek Ares, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.
"Ah kamu ... kayak bisa bergadang aja? Nanti juga jam 10 tidur, mana bisa ngerayain tahun baru?" ledek Arash, membuat Ares mengerucutkan bibirnya.
"Ih ... Ares bisa bergadang, kok," rengek Ares, sebisa mungkin untuk membuat Arash menyetujui permintaannya.
Melihat adiknya yang sudah seperti itu, Arash pun kembali melirik ke arah Fla, "gimana?" tanya Arash.
Fla menghela napas panjang, "kita nginep, ya?" rengek Fla juga, yang persis seperti rengekan Ares, membuat Arash mendelik tak percaya.
'Ampun deh ... saya kan lagi pacaran sama bocil,' batin Arash yang melupakan sifat manja dari Fla.
"Tok ... tok ...."
Tiba-tiba saja Ilham mengetuk kaca jendela mobil Arash, membuat Arash mengubah fokusnya ke arahnya.
Arash membuka kaca jendelanya, "Ham," pekik Arash, membuat Ilham tersenyum.
__ADS_1
"Sore banget datangnya? Kalau seperti ini mah ... harus bermalam di sini," gumam Ilham, membuat Arash menganga.