Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Khawatir


__ADS_3

Morgan muncul dari arah belakang Ara, sembari memeluk Ara, membuat Ara agak terkejut dibuatnya.


“Lagi apa sih? Seru banget ketawa-ketawa gitu?” tanyanya.


Ara menyadari bahwa Morgan lah yang sedang memeluknya dengan keadaan tak berbusana.


Seketika jantung Ara terus terpacu karena Morgan memeluknya dengan hangat. Tubuh Morgan yang masih dingin, menyentuh kulit Ara yang sudah berubah menjadi hangat.


Kenapa bisa setegang ini? Kenapa bisa ia terus membuatku selalu merasa deg-degan? Pikir Ara.


Ara terus-menerus menelan salivanya, karena Ara yang merasakan tenggorokannya sangat kering, dan juga lidahnya yang terasa kelu saat Morgan memeluknya. Rambut Morgan yang masih basah itu, sukses menambah dahsyat aura yang terpancar dari diri Morgan.


“Tes ....”


Setetes air dari rambutnya mengenai leher Ara, membuatnya semakin tak keruan oleh setiap sentuhan yang Morgan berikan.


“Eemm ... i-ini ... temen-temen aku di chat pada lucu semua. Jadi, aku ketawa deh,” jawab Ara yang agak terbata-bata dan canggung.


Morgan melepaskan pelukannya, dan segera memakai kaosnya.


Menurutku, dia semakin sexy saja, karena mengenakan kaos yang ketat dan berbahan jatuh itu. Kaos itu menunjang dada bidangnya menjadi semakin terlihat, pikir Ara dengan segala hasrat yang ada.


Morgan memandangi Ara, yang sepertinya sudah kehilangan kesadarannya, karena melihat dirinya yang tidak berbusana dihadapannya.


Morgan tersenyum dan berdeham, membuat Ara tersadar dari halusinasinya dan membuang pandangannya karena merasa malu terhadap apa yang sedang ia pikirkan.


‘Duh … gue mikirin apa sih? Ngeres banget otak gue!’ batin Ara, yang sedang memaki dirinya sendiri.


Morgan yang sudah selesai mengenakan kaosnya, segera duduk di sebelah Ara.


Morgan menoleh ke arahnya, “apa ... kamu pernah tertawa seperti itu, ketika membaca pesan dari saya?” tanya Morgan.


Ara mendadak mellow mendengar pertanyaannya itu. Karena, sudah lama sekali Morgan tidak pernah mengirim pesan apa pun kepada Ara. Padahal waktu itu, Morgan sudah berjanji untuk mengirimkan pesan singkat sebanyak tiga kali dalam sehari.


Ara hanya bertemu Morgan di kampus, atau bertemu secara kebetulan. Bahkan saat Morgan menjemputnya waktu ia diundang makan malam bersama keluarganya, Fla yang telah menghubunginya, kalau Morgan sudah di jalan untuk menjemput Ara.


Morgan hanya menelepon beberapa kali belakangan ini. Jadi, Ara harus menjawab apa kali ini?


“Emm ... bukannya kamu gak pernah nge-chat aku lagi?” tanya Ara, Morgan seperti sedang berpikir.


Morgan memandangnya dengan tatapan bersalah, “betul,” ucap Morgan dengan tegas, secara tiba-tiba.


Ara memasang tampang datar ke arahnya.


Kenapa dia bertanya suatu hal yang bahkan tidak pernah ia lakukan? Pikir Ara.


“Gak usah gaje dah jadi orang,” ucap Ara dengan kesal.


Morgan terlihat tersenyum kecil pada Ara.

__ADS_1


Morgan lalu mengambil handphone-nya yang berada di samping Ara. Sembari mengambil handphone-nya, Morgan berusaha untuk mengecup Ara, tapi Ara dengan segala refleks yang ia miliki, membuat Morgan tidak bisa mengecupnya.


“Gaje,” lirih Ara, membuat Morgan tersenyum kembali.


Ara berusaha fokus kembali dengan handphone-nya.


Morgan mengerenyit, karena menemukan kejanggalan di handphone-nya, “lho ...,” ucap Morgan terdengar kaget.


Ara pun melirik ke arahnya.


“Kenapa?” tanya Ara penasaran dengan respon Morgan.


“Kamu buka handphone saya tadi?” tanya Morgan yang tak menghiraukan ucapan Ara.


Kenapa Morgan bisa mengetahui itu? Pikir Ara.


Ara menunduk malu dengan pandangan Morgan yang datar itu.


“Kenapa gak ngasih tau? Untung aja saya buka handphone. Kalau enggak, bisa rusak acara besok,” lirih Morgan.


Ara yang tak enak, langsung memasang tampang merayu yang seimut mungkin.


Ara tersenyum di hadapan Morgan yang sedang menatap datar layar handphone-nya.


Morgan yang merasa terusik dengan tatapan Ara, langsung menoleh ke arah Ara dengan tatapan penasaran, tapi Ara tak mempedulikannya, dan masih bersikap seperti tadi.


“Kenapa? Mau ngerayu saya?” bidik Morgan, tapi Ara hanya diam dan menyengir.


Morgan tak sengaja melihat pesan dari Dicky. Sepertinya, Dicky sudah bisa meyakinkan Lidya untuk membuka ruangan IT Support, yang di dalamnya terdapat kontrol terhadap CCTV yang ada di koridor.


Morgan membulatkan matanya. Inspeksi untuk kasus bullying Fla, baru saja dimulai.


Morgan bergegas, “saya permisi dulu. Ada urusan,” Morgan berkata dingin pada Ara.


Ara kesal melihat sikap Morgan yang selalu dingin, bahkan juga kepada Ara.


“Terserah!” bentak Ara, kemudian pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Morgan yang sedang membereskan barang-barangnya.


Ara yang sudah terlanjur kesal dengannya, memilih untuk menghindar darinya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


***


Ara sudah sampai di kamarnya. Ia duduk di atas ranjang dan segera melihat handphone-nya.


“Rafa ...,” lirih Ara sembari mencari nomor telepon Rafa.


Beberapa saat berlalu dan Ara sudah menemukan nomor teleponnya. Dengan segera, ia pun menelepon temannya itu.


Dari sudut sana, Rafael tengah asyik bermain game favoritnya.

__ADS_1


“Dringg ....”


“Ahhh ....”


Rafael sangat kesal, karena handphone-nya berdering di saat yang tidak tepat.


Rafa yang sedang bermain game online saat ini, merasa cukup kesal karena harus turun ranking lagi kali ini.


Rafa melihat ke arah layar handphone-nya, dan tertera nama Ara di sana.


Buru-buru ia mengangkat telepon dari Ara. Kalau tidak, mungkin saja Ara bisa memukulnya di saat mereka bertemu nanti.


Menakutkan, pikir Rafa.


“Halo, Ra?” sapa Rafa.


“Raf! Pokoknya, loe harus tolongin gue!” ucapnya tiba-tiba dengan tegas.


Rafa sampai bingung dengan Ara yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu.


Aku bisa saja menolongnya, tapi aku tidak tahu dengan permasalahannya, pikir Rafa.


“Emm ... pelan-pelan, Ra. Coba jelasin permasalahannya di mana. Biar gue bisa tau jelas,” ucap Rafa yang berusaha menenangkannya.


Rafa dengar dari nadanya, Ara amat tergesa-gesa.


“Tarik napas ...,” suruh Rafa.


Deru napasnya terdengar jelas di telinga Rafa.


“Embuskan,” lanjut Rafa, Ara mengikuti sugestinya.


“Gimana? Udah tenang?” tanya Rafa yang memastikan keadaannya.


Ara hanya berdeham padanya.


“Jadi gimana?” tanya Ara untuk memulai percakapan mereka.


Ara berhenti sejenak tak bersuara. Mungkin, dia sedang mengatur kata-kata.


“Jadi gini ....”


Ara memulai pembicaraan lalu menarik napas kembali. Rafa sangat sabar menunggu ia berbicara.


“Besok ada acara orientasi guru ekskul. Gue gak ada di sana ... gue khawatir tentang Morgan, jadi--”


“Intinya loe takut kalo nanti Pak Morgan gimana-gimana sama guru baru? Jadi loe minta tolong gue supaya gue nyelidikin acara besok?” potong Rafa.


Ara terdiam beberapa saat.

__ADS_1


“Tepat sekali,” ucap Ara tiba-tiba, yang membuat Rafa jadi terdiam.


Tidak kusangka, cinta membuat akal sehatnya hilang, pikir Rafa yang agak kasihan melihat keadaan sahabatnya itu.


__ADS_2