Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Sahabat Yang Posesif


__ADS_3

"Oke deh Pak Dicky dan Pak Morgan, sebentar ya," ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka.


Dicky pun membuka semua kancing jasnya, membuat Morgan tersadar dengan kancing jasnya. Setelah ia menoleh, ia lupa membuka kancing jasnya. Dengan cepat, Morgan pun membuka kancing jasnya.


"Kayaknya beberapa hari ini, kamu sibuk banget kali sama Ara, sampai-sampai Prof. Handoko marah banget karena kamu susah banget dihubungin," ucap Dicky, namun Morgan hanya diam tak bergeming.


Dicky pun kesal dengan kelakuan Morgan, yang sama sekali tak pernah berubah.


"Eh saya nanya, kamu ke mana aja kemarin? Sampai handphone nggak dipegang?" tanyanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari yang tadi.


Morgan pun menatapnya dengan tatapan datar, "saya di Jepang kemarin, gak sempat pegang ponsel, karena ke rumah Meygumi dan juga minum sama teman-teman," jawab Morgan asal.


Dicky membelalakkan matanya ke arah Morgan, seperti tercengang kaget ketika mendengar jawabannya.


"Hah serius ke rumah dia kemarin? Sama cewek jutek itu? Ngapain kalian ke sana?" tanyanya kaget.


Morgan membuang pandangannya dari Dicky. Ia diam tidak menjawab pertanyaan dari Dicky.


"Terus selain ke rumah dia, ngapain lagi di Jepang?" tanya Dicky, namun Morgan hanya berlagak tuli saja, tak menghiraukan Dicky.


Dicky mendelik, "jangan-jangan, kalian berdua kawin lari ya?" bidik Dicky asal, membuat Morgan memandangnya spontan.


"Jangan ngada-ngada deh!" bantah Morgan spontan, karena ia tidak mau mendengar hal aneh yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"Ya habisan, gak ada kabar. Siapa tau lagi persiapan pernikahan," ucap Dicky asal.


"Apa sih? Lagian kalau beneran juga, ngapain juga saya kembalikan dia ke rumahnya? Dan ngapain juga saya balik lagi ke Indonesia?" ucap Morgan dengan sinis, Dicky hanya diam sembari menyeringai.


"Ya terus kalian berdua ngapain ke sana? Tau nggak, Prof. Handoko tuh marah-marahin saya. Dia nanya kabar kamu ke saya per satu jam sekali. Gimana saya nggak stres coba diteror gitu?" ucapnya menjelaskan rincinya pada Morgan.

__ADS_1


Morgan mendelik, menurutku Dicky juga tidak sepenuhnya salah. Aku yang salah karena sudah mengabaikan komunikasi. Padahal aku tahu aku salah, memaksa meminta cuti 3 hari tapi 2 hari setelah itu aku tidak masuk dan juga tidak memberi kabar pada mereka, pikir Morgan sembari menghela napas panjang.


"Ya, saya tahu saya salah. Tapi salah Prof. Handoko juga, kenapa ngabarin orang malam-malam? Bayangin aja, jam 12 dia nelpon saya. Gak cuman sekali, sampai 57 kali bahkan," bantah Morgan, yang berusaha membela dirinya.


Dicky memandangnya dengan tatapan kesal, "itu karena kamu minta cuti 3 hari, tapi gak masuknya 5 hari. Orang panik nyariin kamu, padahal kamu tahu kita di sini habis ngerjain ujian semester dan banyak jawaban yang harus di-input ke web nilai. Harusnya kamu bisa lebih tanggung jawab sih sama apa yang sekarang jadi pekerjaan kamu. Walaupun kamu di sini dosen ekonomi, tapi kamu juga punya peran ganda buat input nilai mahasiswa setelah mengerjakan ujian. Bukan begitu, Pak Morgan?" bidiknya, sampai Morgan tidak bisa berkata-kata lagi.


Morgan menghela napasnya panjang dan berusaha menerima kesalahannya kali ini.


"Huft ...."


"Ya, mungkin yang kamu bilang benar," gumam Morgan dengan lirih, "sudahlah, nanti saya akan minta maaf secara pribadi kepada Prof Handoko, karena kelalaian saya semua tugas jadi terlantar," sambung Morgan yang mengalah padanya, Dicky pun kemudian menyeringai.


"Nah gitu dong! Ini baru namanya dosen yang berbesar hati untuk menerima kesalahan," ucapnya yang semakin membuat Morgan terkekeh.


Penjual siomay itu datang menghampiri mereka, sembari membawa dua porsi siomay di tangannya. Ia langsung menjajakannya di hadapan Morgan dan Dicky.


"Permisi Pak, pesanannya. Sebentar saya ambil minumannya dulu ya Pak," ucapnya yang kemudian pergi kembali menuju tempatnya semula.


Tak berapa lama kemudian, ia pun datang kembali dengan membawa minuman yang tadi mereka pesan.


"Ini ya Pak minumannya."


Dicky memandang ke arahnya, "makasih ya, mang," ucap Dicky, namun Morgan hanya melontarkan senyuman tipis ke arah penjual itu.


"Ya udah permisi ya Pak," ucap penjual itu lagi, kemudian pergi menuju tempatnya kembali.


Aroma dari makanan ini, sukses membuat perut Morgan meronta.


Morgan mengambil jus kesukaannya, kemudian mencicipinya untuk sekedar membasahi kerongkongannya.

__ADS_1


Dicky memandang ke arah Morgan, "eh Gan, ngomong-ngomong tadi kamu belum jawab pertanyaan saya. Selain ke rumah wanita itu, kalian ngapain berdua ke Jepang?" tanya Dicky yang ternyata masih saja ingat dengan pertanyaan yang ia tanyakan tadi.


Morgan melontarkan tatapan dingin, kenapa dia selalu saja ikut campur dengan setiap permasalahan yang terjadi padaku? Pikir Morgan yang sedikit kesal dengan Dicky.


Morgan menghela napas, "kami ke sana hanya menjenguk ibunya Mey yang sakit. Tidak ada hal lain lagi," jawab Morgan dengan nada yang sangat datar.


"Tapi di sana, kalian berdua nggak ngelakuin hal yang macam-macam, kan? Ayo jujur!" bidik Dicky, membuat Morgan sedikit jengkel padanya.


Ternyata dia sudah tahu semuanya. Apa mungkin, pengalaman dia? Apa hal lumrah jika semua laki-laki dan wanita yang sedang melakukan perjalanan jauh dan menginap di suatu hotel yang sama, pasti melakukan hal demikian? Pikir Morgan.


"Ya, kami melakukan semuanya setiap saat," jawab Morgan dengan asal.


Dicky tercengang, dan langsung mendekatkan wajahnya ke arah Morgan. Dicky terlihat membelalakkan matanya. Tapi Morgan tidak peduli, ia malah mengambil makanan yang ada di hadapannya, dan menghabisinya dalam waktu yang cukup singkat.


Morgan hanya memerlukan waktu 20 detik untuk menghabisi semuanya.


"Ya ampun, Gan! Pelan-pelan kali makannya," bentak Dicky, tapi Morgan sama sekali tidak peduli dengan dirinya.


Morgan mengambil minuman yang tadi ia pesan dan menghabiskannya juga dalam tempo waktu yang sangat singkat. Terasa kenikmatan dan kesegaran jus yang tadi ia pesan.


"Ahhh ...."


Seketika Morgan merasa menjadi sangat segar, saat menenggak habis tak tersisa jus alpukat itu. Dicky sampai melotot kaget melihat cara makan Morgan yang seperti seorang maniak itu.


Morgan menatapnya datar, aku tidak peduli pemikiranmu, pikir Morgan.


"Kamu serius ngelakuin hal itu setiap saat, sama cewek jutek kayak dia?" tanyanya yang masih tak percaya.


Morgan mengeluarkan dompetnya dari saku celana, dan mengambil selembar uang untuk membayar pesanannya. Morgan mempersiapkan dirinya kemudian bangkit dan meletakkan uang itu di bawah piring.

__ADS_1


Morgan menoleh ke arah Dicky, "kepo," lirih Morgan, kemudian pergi sembari membawa tasnya.


Hal itu membuat Dicky melongo kaget, dan segera mempersiapkan barang-barangnya juga, "Gan, tunggu!" pekik Dicky.


__ADS_2