Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Dendam Gadis Bertopeng


__ADS_3

Ilham membantu Ara untuk masuk ke dalam mobil. Namun, Ilham mendengar mobil yang tiba-tiba saja ada melaju dengan sangat cepat, membuat Ilham terkejut sekali.


Ilham menoleh ke arah sumber suara, per sekian detik dirinya bingung karena mobil itu yang nampaknya melaju dengan sangat kencang, membuat Ilham takut karena mobil itu yang sepertinya ingin sekali menabrak Ara.


"Awas!" pekik Ilham, yang langsung menarik Ara dengan sangat cepat, secepat yang ia bisa, membuat Ara terkejut mengetahuinya.


"Ah!" teriak Ara yang kaget dengan Ilham yang tiba-tiba saja menariknya sangat kasar, dan sampai terkena ujung pintu yang baru saja Ilham buka.


Gadis bertopeng itu kemudian melihat ke arah Ara, dari kaca spionnya.


"Mampus, loe!" ucap gadis itu dengan sangat bersemangat, dan tetap melajukan mobilnya.


"Tunggu, tapi kayaknya ... itu bukan Morgan, deh!" ucap temannya, membuat pengemudi bertopeng itu kembali melihat ke arah spion.


Ia memandangi laki-laki yang sedang bersama Ara, dengan saksama. Ia pun mendelik kaget, karena yang ada di sana bukanlah Morgan.


Gadis itu mendelik kaget, "Loe gimana sih, Far! Loe dapat info salah gak? Ara nikah sama siapa itu? Kok gak ada Morgan di situ?" bentak gadis itu pada temannya, yang ternyata adalah Farha.


"Ya gue dapat kabar dari mata-mata gue, Ca!"


Ya! Yang ia sebut Ca itu adalah Callista atau yang lebih akrab disapa Aca. Mereka ternyata sudah bersekongkol untuk membalaskan dendam mereka pada Ara dan juga Morgan.


Perjuangan Aca di dalam penjara sangatlah besar, untuk bisa keluar dari jeruji besi tersebut. Berbagai cara dilakukan olehnya, sampai orang tuanya pun menebus Aca dengan sejumlah uang yang cukup fantastis nilainya.


Alhasil, Aca kini sudah bebas berkeliaran ke mana pun ia inginkan. Kebetulan sekali, Farha sangat menanti keluarnya Aca dari penjara, karena dia mempunyai pikiran untuk bersekongkol, dan membalaskan dendamnya juga pada Ara, yang waktu itu gagal karena Ray yang sudah menyelamatkan Ara dari minuman yang sudah dibubuhi racun oleh Farha.


"Mata-mata loe siapa? Kok bisa meleset?" tanya Ada dengan geram, membuat Farha menatapnya dengan sinis.


"Sebenarnya sih, gue cuma tahu kalo Ara udah nikah. Gue gak nyangka kalau Ara gak nikah sama Morgan, tapi sama orang lain," gumam Farha, membuat Callista menepuk keningnya dengan keras.


"Ya udah, pokoknya kita cari tempat yang aman dulu!" teriak Aca, yang langsung melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.


Di sana, Ilham sangat khawatir dengan keselamatan Ara. Ara terjatuh di atas aspal, dengan darah yang mengalir di kakinya.

__ADS_1


"Ra! Kamu kenapa?" tanya Ilham yang sangat khawatir dengan keadaan Ara.


Ara hanya bisa menangis, karena pendarahan itu sangat membuat dirinya lemas tak berdaya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Ilham yang histeris, melihat Ara mengeluarkan darah sebanyak itu.


Tanpa basa-basi, Ilham segera membopongnya ke dalam mobilnya, berusaha untuk mengantarkan Ara ke rumah sakit terdekat dari kediamannya.


Ilham pun mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, karena tidak mau sampai terjadi sesuatu yang tidak baik pada Ara dan juga kandungannya.


Kini mereka sudah sampai di rumah sakit tempat mereka memeriksakan kandungan Ara, setiap bulannya. Dengan perasaan cemas, Ilham membopong Ara dengan sangat cepat, untuk segera meminta pertolongan pada dokter yang sedang bertugas.


Ara kini sudah mendapatkan pertolongan dari dokter yang bertugas. Ilham hanya bisa menunggu Ara di luar ruangan, sembari terus memanjatkan doa.


Kekhawatiran Ilham pada Ara, membuat Ilham menyalahkan dirinya sendiri, karena tadi dia lah yang mengajak Ara untuk menonton bioskop bersama.


'Kalau aja saya gak ajak dia nonton tadi, pasti Ara gak akan begini,' batin Ilham yang mulai menyalahkan dirinya, atas kejadian yang menimpa istri tercintanya itu.


Ilham menunggu dengan sangat cemas. Sudah setengah jam berlalu, tetapi dokter sama sekali belum keluar dari ruangan Ara.


"Cklekk ...."


Sang dokter yang menangani Ara pun keluar dari ruangan Ara, membuat Ilham segera menghampirinya.


"Gimana keadaan istri saya, dok?" tanya Ilham, yang sedang panik dengan keadaan.


Sang dokter menatapnya dengan tatapan kecewa, "Kenapa tidak dijaga dengan benar? Bukankah waktu itu sudah saya katakan, kalau anda harus menjaga istri anda dengan sangat hati-hati?" tanya dokter yang pertama kali memeriksa keadaan Ara kala itu.


Ilham memandangnya dengan sendu, "Ini sebuah kecelakaan, dok. Di luar dari kemampuan saya," tanya Ilham, membuat dokter menghela napasnya panjang.


"Istri anda, mengalami keguguran," gumam sang dokter, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.


"A-apa dok, gugur?" tanya Ilham tak percaya, dengan wajah yang tercengang.

__ADS_1


Ilham sama sekali tidak menyangka, bahwa kandungan Ara sangatlah rentan, membuat dirinya kini menyesal sekali dengan kejadian yang terjadi di luar kemampuannya itu.


Ilham seketika menangis, meski di hadapan sang dokter sekalipun.


"Janin dan plasenta sudah luruh, jadi tidak perlu dilakukan operasi kuretasi. Jadi, tolong diperhatikan kondisi istri, beristirahat dengan cukup, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi obat yang diresepkan dokter secara teratur, dan ...," ucap sang dokter dengan nada terpotong yang segera mendekati ke arah Ilham, "pantangannya, jangan berhubungan seksual dulu selama 2 sampai 6 minggu ke depan," bisik sang dokter, membuat Ilham merasa menyesal dengan perbuatannya.


Ilham melongo kaget dengan ucapan terakhir sang dokter, "Emm ... dok, saya masih perjaka," gumam Ilham dengan lirih, membuat sang dokter mendelik kebingungan.


"Apa tadi kamu bilang?" tanya sang dokter, yang pendengarannya memang sudah terganggu karena faktor usia.


Ilham menjauh sedikit ke arahnya, "Gak apa-apa, dok. Terima kasih, dokter," gumam Ilham membuat sang dokter menatap ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam.


Sang dokter pun akhirnya pergi meninggalkan Ilham. Dengan sangat kesal, Ilham pun hanya bisa menunggu Ara pulih kembali, di luar ruangannya.


Ia mengusap kasar wajahnya, karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Duh ... harusnya saya gak ajak dia malam ini!" bentaknya pada dirinya sendiri.


Walaupun itu bukanlah anak kandungnya, tetapi Ilham tetap saja menyayanginya dan mau membesarkannya, seperti anak sendiri, seperti Malika.


Kini, Ilham hanya bisa menghela napas panjang, karena sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Dringg ...."


Handphone Ilham berdering, membuatnya terkejut dan segera mengangkat telepon itu.


"Halo," sapa Ilham dengan sendu, membuat Arash di sana menjadi khawatir mendengar nadanya.


"Ham, kenapa?" tanya Arash, membuat Ilham terdiam.


Hal itu yang membuat Arash menjadi lebih khawatir dengan keadaannya.


"Ham, kamu kenapa?" tanya Arash dengan sangat khawatir.

__ADS_1


Ilham mempersiapkan dirinya, "Ara keguguran, Rash," jawab Ilham dengan sendu, membuat Arash mendelik kaget.


"Brakk!!"


__ADS_2