
Arash memutuskan telepon mereka, membuat Ara mendadak menjadi geram dengannya.
"Duh ... terus aku pulang sama siapa dong?" gumam Ara mendadak sebal dengan nada kesal.
Seseorang terlihat sedang berdiri di hadapan Ara sekarang.
"Ara? Ternyata kamu makan di sini?" sapa orang itu.
Ara mendongakkan kepala, dan melihat orang yang menyapanya.
Mata Ara membulat, ternyata orang yang ada di hadapannya itu adalah Ilham.
Hah? Kenapa dia bisa sampai ke sini? Kenapa aku bisa bertemu lagi dengan orang ini? Susah payah aku menghindarinya, tapi sekarang tiba-tiba dia ada di hadapanku kembali. Apa dia membuntutiku sejak tadi? Apalagi, dia tadi melihat aku pergi bersama Bisma. Tindakannya kali ini, benar-benar ketahuan sekali, bukan? Pikir Ara yang mengaduh dalam hati.
Ilham terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari seseorang. Kemudian, ia kembali menoleh ke arah Ara. Sorot matanya, seperti orang yang sedang kebingungan.
"Saya nggak lihat kamu lagi sama teman? Mana teman kamu?" tanya Ilham.
Pertanyaannya adalah jenis pertanyaan menjebak. Ara sudah beberapa kali terkena jebakan pertanyaan semacam itu.
'Rese banget sih nih cowok!' batin Ara yang menatap kesal ke arahnya.
Muncul sebuah ide di benak Ara, untuk mengerjai Ilham.
Ara melihat ke arahnya, kemudian tersenyum hangat padanya, "Kak Ilham ... mau nemenin aku makan, nggak?" tanya Ara dengan nada terimut yang ia miliki.
Melihat sikap Ara yang sangat menggemaskan, Ilham pun langsung membuang pandangannya.
"Baik, jika itu keinginan kamu ...," ucap Ilham terdengar seperti malu-malu, tanpa memandang ke arah Ara.
Wajahnya terlihat memerah, walaupun hanya samar-samar.
Ilham pun kini duduk di hadapan Ara. Ara tersenyum, dan kembali melanjutkan menyantap kudapannya.
Ilham juga menurut pada Ara, dan memakan makanan yang tersedia di meja.
Suasana nampak tenang saat ini. Ilham tidak berani menatap ke arah Ara. Dengan begitu, Ara pun jadi tidak repot untuk mengalihkan suasana yang kaku.
Ilham melirik sedikit ke arah Ara, kemudian berdeham, "Ra, kenapa kamu ngajak saya makan?" tanya Ilham tiba-tiba.
Ara pun meletakkan sendok yang tadi ia pakai, di atas piringnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Habisnya, aku nggak ada temen ngobrol," jawab Ara dengan asal.
Padahal tujuanku mengajaknya makan kali ini, agar Ilham lah yang nantinya membayar semua makanan ini. Jadi, aku tidak perlu memakai uang Bisma, pikir Ara yang jahil.
'Maaf ya Kak Ilham. Kamu aku kerjain. Habisnya bikin orang ilfeel aja sih,' batin jahat Ara, karena dirinya yang kesal terhadap Ilham yang selalu saja mendekatinya.
Ilham terlihat menunduk, sampai Ara tidak bisa melihat wajahnya.
"Emm ... Kak Ilham, aku boleh cerita gak?" tanya Ara.
Ilham yang sedang mengunyah makanannya, seketika menelannya bulat-bulat. Ia terlihat seperti sedang kesulitan bernapas, membuat Ara menjadi bingung, dengan apa yang terjadi.
"Uhukk ... uhukk ...."
Ilham sepertinya tersedak. Ia langsung mengambil minuman yang berada di hadapannya, lalu menenggaknya hingga habis.
Untung saja tadi, Bisma belum sempat meminumnya sehingga airnya masih bersih untuk diminum Ilham.
Ara yang bingung, hanya memandanginya dengan tatapan miris. Ara sebagai orang lain, yang tidak terlalu dekat dengannya, tidak bisa berbuat apa pun.
Ilham masih saja berusaha untuk menghilangkan rasa tersedak itu. Setelah beberapa saat, ia pun akhirnya tenang.
"Ka Ilham gak papa?" tanya Ara sembari memegang lengannya.
"Oh, ma-maaf, Kak," gumam Ara yang salah tingkah, segera melepaskan tangannya dari tangan Ilham.
"Saya gak papa kok, Ra," ucapnya yang sedikit aneh.
Ara mendelik bingung, harusnya aku tidak lancang untuk memegangnya seperti tadi. Tangan ini sungguh tidak tahu batasan, pikir Ara yang kesal sendiri dengan dirinya.
Situasi kini kembali menjadi rancu. Mereka sama-sama membuang pandangannya, tak ingin melihat satu sama lain.
Ilham penasaran dengan Ara, dan memberanikan diri untuk kembali memandanginya.
"Tadi kamu mau cerita apa, Ra?" tanya Ilham, membuat Ara sampai terlupa akan hal itu.
Ara pun memandangnya kembali, "Oh ya, aku punya dosen. Sekarang dia dirawat di rumah sakit, karena kecelakaan. Aku mau minta anter kak Arash tadi untuk jenguk dia. Terus kak Arash gak bisa dihubungin. Terus aku juga tadinya mau minta tolong anterin sama Kak Ilham. Berhubung Kak Ilham tadi batuk, dan pastinya dadanya sakit banget kan. Jadi--"
"Saya bisa kok anter kamu!" potongnya spontan, sampai Ara menjadi terkejut.
Ara mengedipkan matanya dengan cepat, karena merasa bingung dengan ucapannya.
__ADS_1
Ilham terlihat menatap Ara dengan serius. Ara pun sampai takjub melihat kesungguhannya.
Ara jadi teringat dengan ucapan Morgan waktu itu, sesaat sebelum mengerjakan ujian kemarin. Bahkan dia bilang, bahwa ia tidak bisa menjemput Ara. Mengingat hal itu, Ara jadi merasa kesal jika mengingatnya.
'Sial, kok jadi ngebanding-bandingin Ilham sama Morgan, sih?' batin Ara dengan kesal.
"Ra ...," pekik Ilham, membuat Ara tersadar dari lamunannya, Ara pun memandang ke arahnya.
"Hah, iya?" tanya Ara yang kaget dengan pekikan Ilham.
"Saya antar, ya?" tanyanya.
Ara melihat ketulusan darinya. Wajahnya pun terlihat memerah, hampir menyamai warna memarnya. Ara menghela napas panjang, karena ia tidak mempunyai pilihan lain lagi.
"Drriingg ...."
Handphone Ara tiba-tiba saja berdering dengan kencang. Ara yang panik, pun langsung mengangkatnya.
"Tuuuuttt ...."
"Halo, Bis? Kenapa?" tanya Ara.
"Bisa tolong transfer ke rekening tukang bengkel gak, Ra? Motor gue mogok, mungkin karena kelamaan ditinggal jadi gini deh," ucap Bisma.
Ara mendelik, kenapa dia tadi memberikan kartu ATM-nya padaku? Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan menerimanya, pikir Ara.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Lho, emangnya loe gak ada M-banking?" tanya Ara yang bingung dengan Bisma.
"Duh, handphone gue ganti. Jadi belum sempet urusin aplikasi," ucap Bisma, membuat Ara membolakan matanya.
"Ya udah, kirimin aja nomor rekeningnya, nanti gue transfer," ucap Ara.
"Oke deh."
Ara menyudahi teleponnya dan segera mentransfer sejumlah uang ke rekening yang Bisma kirimkan padanya. Ada saja kejadian tidak terduga yang menyulitkan Ara.
Ilham mengerenyitkan dahinya, "Ada apa, Ra?" tanya Ilham bingung.
Ara tetap melihat ke arah ponselnya, sambil sesekali melihat ke arah Ilham.
"Teman aku minta transfer uang, soalnya motornya mogok. Soalnya, kartu ATM dia ada di aku," jawab Ara, membuat Ilham kembali mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
"Lho, kok ATM-nya dia kok ada di kamu, sih?" tanya Ilham, membuat Ara semakin jengkel mendengar setiap pertanyaan Ilham yang terlontar dari mulutnya.