Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Mau Peluk?


__ADS_3

“Gak usah malu lagi sih, kita kan … jadi greget ngeliat kalian selama ini!” sanggah Fla, dengan tatapan yang tidak bisa dimaknai itu.


Ara merasa sangat malu dengan Fla. Biar bagaimanapun juga, dia adalah adik sekaligus saksi hidup, yang sering memergoki Ara dan juga Morgan, yang sedang melakukan hal yang aneh untuk seukuran orang yang baru saling mengenal.


“Diem deh loe!” geram Ara, Fla hanya menganggap amarahnya itu sebagai lelucon saja.


Mereka pun menertawai Ara.


“Lagian, sejak kapan kalian ada di sini?” tanya Ara, yang masih mengganjal.


Mereka memandang satu sama lain.


“Sejak loe dikasih kalung sama Morgan,” jawab mereka semua dengan serempak, membuat Ara semakin mati gaya.


Ara mendelik, “hah?”


“Keasikan romantis-romantisan, sih,” ledek Arash, semakin membuat Ara menjadi malu.


Ara menoleh ke arah Morgan, “ini lagi, loe ngapain sih? Lepasin gue! Loe gak malu apa sama temen-temen gue? Apa lagi ada kakak gue di sini!” bentak Ara sinis, pada Morgan.


Morgan tersenyum jahil, dan mulai bangkit dari posisinya itu.


Morgan pun duduk menghadap mereka semua yang sedari tadi sedang memperhatikanya, dari arah pintu masuk.


Ara pun bangkit mengikuti Morgan, dan duduk menghadap mengarah ke mereka.


Tak disangka, Fla menghampiri Ara dan memeluknya dengan erat.


Ara pun bingung, “eh, kenapa nih?” tanya Ara.


Fla tersenyum, “loe pasti bisa nerima kakak gue dengan tulus kok, Ra,” bisik Fla di telinga Ara.


Ara sampai menganga kaget, karena mendengar ucapan Fla.


Bagi Ara, ucapan Fla terdengar sangat mengharapkan, kalau dirinya bisa bersama dengan kakaknya, sampai menuju ke jenjang yang lebih serius.


Hmm ... mungkin Fla sudah sadar, dan tidak mau berburuk sangka dengan Morgan lagi, pikir Ara.


Hubungan Morgan dengan Fla, sekarang sudah mulai membaik, setelah kejadian masa lalu Morgan itu. Ara jadi teringat dengan ucapan Fla waktu itu, yang baru mengetahui kalau Morgan ternyata normal.


Jadi, ini semua ada sangkut-pautnya dengan masa lalu Morgan bersama dengan gadis jepang itu? Pikir Ara yang masih tidak menyangka dengan semua teka-teki yang baru ia sadari.


Fla lalu melepaskan pelukannya, dan mulai berdiri di hadapan Ara.

__ADS_1


“Ayo, rayain malam ini bareng-bareng!” ajak Rafa, semua orang bersorak, tak terkecuali Morgan.


Mendengar hal itu, Ara malah mendengus kesal, karena tingkah mereka yang sudah membuat Ara menjadi merasa sangat malu.


Kenapa mereka semua bisa ada di sini? Apa Morgan yang telah memberi tahu mereka semua? Atau, ini ada sangkut-pautnya dengan mereka? Dengan kata lain, mereka semua sudah bersekongkol untuk membantu Morgan menjebakku, kemudian menyatakan cinta padaku? Ara masih bepikir dengan keras.


“Males!!” tolak Ara dengan nada yang sangat ketus, lalu Ara langsung saja merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.


Ara tidak mempedulikan ucapan dan ledekan mereka. Ara hanya lelah, dan ingin sekali untuk beristirahat untuk melepaskan semua lelah yang ia rasakan malam ini.


“Yah, kok gitu, sih? Ayo dong, kita bersenang-senang!” ajak Ray.


“Tau nih, masa malam romantis, gak dipakai buat senang-senang!” sambar Rafa, “paling enggak, temenin kita minum shochu dulu, lah,” tambahnya, membuat Ara mendelik.


‘Apa-apaan dia? Baru juga semalem minum sampe teler, sekarang mau minum lagi?’ batin Ara sinis, tapi ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Rafa.


“Tau nih, gak seru ah si Ara mah!” bentak Fla, yang satu suara dengan Ray dan Rafa.


Arash menoleh ke arah mereka bergantian, “dia gak akan mau dengar. Percuma kalian maksa dia juga, gak akan dia dengar. So, kita nikmatin aja malam ini rame-rame! Biar aja si Ara gak usah diajak,” ucap Arash, membuat semua mata membelalak ke arahnya, terkecuali Morgan.


“Siap!” ucap Ray, Rafa, dan Fla, secara serempak.


Morgan hanya menatapnya dengan senyuman tipis. Morgan pun menoleh ke arah Ara yang sudah tenggelam di balik selimutnya.


Meskipun, Fla dan yang lainnya terus-menerus mengganggu Ara, ia sama sekali tidak membuka matanya.


Ara tersadar dari tidurnya yang terlalu nyenyak. Perlahan, Ara mulai membuka matanya.


Ara berdiam diri sejenak, untuk sekadar mengumpulkan energinya yang masih belum terkumpul.


Setelahnya, Ara melihat sekelilingnya.


Ara terkejut, saat melihat Morgan yang ternyata, masih ada di samping Ara. Morgan tertidur pulas tanpa berbusana, membuat Ara kesal karena pemandangan pertama yang ia lihat adalah Morgan dengan tampilan yang seperti itu.


Ara mendelik, jangan-jangan, aku dan dia sudah melakukan sesuatu yang tidak aku sadari? Pikir Ara.


“Bukkkk ….”


“Aws ....”


Ara memukul dada bidang Morgan itu dengan spontan.


Morgan yang kesakitan, langsung bangkit dari tidurnya, dan memegangi dadanya sembari merintih kesakitan.

__ADS_1


“Loe ngapain sih, tidur gak pakai baju? Loe ngapa-apain gue, ya?” tanya Ara dengan sinis.


Morgan memejamkan matanya sembari menepuk keningnya dengan keras.


Morgan mendelik ke arahnya, “aku gak ngapa-ngapain kamu!” jawab asal Morgan.


Kelihatannya, dia masih belum sepenuhnya sadar, pikir Ara.


Tentu saja Ara tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan yang Morgan ucapkan, “jangan bohong deh loe!” sanggah Ara, membuat Morgan menghela napasnya panjang.


“I swear, Ra! I didn’t do anything to you,” ucap Morgan dengan sangat bersemangat, berusaha agar Ara mempercayainya.


Ara menatapnya dengan tatapan bingung, “terus, ngapain loe gak pake baju begitu?” tanya Ara yang semakin sinis padanya.


Morgan berusaha menatap mata Ara, walaupun ia terlihat terus mengucek kedua matanya.


“Semalam, aku mau nyalahin AC, tapi dingin. Aku gak jadi nyalahin. Tapi lama-lama malah jadi gerah. Tapi aku males banget ngambil remot AC. Jadi aku buka saja bajunya,” jelasnya dengan nada yang sangat polos, seperti seorang anak kecil yang sedang menceritakan sesuatu kepada ibunya.


Ara menahan tawanya karena cara Morgan menjelaskan, sudah seperti layaknya bocah berusia lima tahun.


Morgan mengalihkan pandangannya karena malu, “lagipula, aku juga belum cukup kuat untuk melakukannya lagi, setelah tempur semalam sama kamu,” gumam Morgan yang sangat lirih, sampai dipastikan Ara tidak mendengar gumamnya itu.


Ara menatap Morgan dengan bingung, “hah, kenapa?” tanya Ara, yang memang tidak mendengar ucapan Morgan tadi.


Morgan hanya diam, tak bergeming.


Ara mendelik, “yaudah kalo loe gak ngapa-ngapain gue mah,” ucap Ara, “jam berapa ini?” tanya Ara tiba-tiba.


Morgan langsung mengambil handphone-nya yang berada di atas meja, di dekat lampu tidur, kemudian ia melihat jam yang berada di handphone-nya.


“Jam lima,” lirihnya yang terdengar masih sangat mengantuk.


Morgan kembali meletakkan handphone-nya di atas meja, kemudian merebahkan tubuhnya lagi.


Ara sangat santai, karena perkuliahannya yang dimulai pada pukul delapan.


Ara melirik ke arah Morgan, karena ia ingin sekali bermanja-manja sebentar dengan Morgan, untuk sekadar melepas rindu dengannya.


Ara baru saja mulai bisa untuk menerimanya. Ara juga ingin sekali memeluk dirinya itu.


Bagaimana cara untuk melakukannya? Aku sangat kaku memperlakukannya. Aku tidak seromantis wanita di luar sana, pikir Ara.


Ara hanya diam sembari menatapnya, tak berani untuk memulai lebih dulu.

__ADS_1


Morgan yang sudah mengetahui keinginan Ara, segera membuka lebar-lebar lengannya di hadapan Ara.


“Mau peluk?” lirih Morgan, yang masih dalam posisi yang sama.


__ADS_2