Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Muncul Dendam


__ADS_3

Ara ke luar ruangan bersama Morgan, dan melewati ruang UKS.


Pintunya tidak tertutup. Ara yang penasaran, menoleh ke arah ranjang UKS.


Terlihat Aca dan kawan-kawannya, termasuk Jessline yang sedang mengobati luka memar di pipi kiri Aca. Mereka yang menyadari kedatangan Ara, menoleh ke arah Ara yang sedang berjalan bersama Morgan di sampingnya.


Mereka bertiga kecuali Jess memandang sinis dengan tatapan tidak percaya.


“Tuh dia sama Morgan lagi jalan!” geram Aca dengan kesal, yang sedang gelagapan karena harus membagi fokusnya ke pipinya dan juga ke arah Ara.


Ara menatapnya sengit, sembari memberikan jari tengahnya ke arah Mereka. Aca yang melihat tingkah Ara, nampak tidak terima dengan sikap Ara yang sangat kasar itu.


“What?” pekik salah satu teman Aca, membuat Aca semakin geram dengan Ara.


“Apa-apaan tuh, Ca?” satu lainnya membuat Aca semakin kesal dengan keadaan.


“Wah ... parah si!” ucap Yusfira.


“Awas aja dia!” sambung Lisa.


Aca memandang ke arah Ara dan Morgan, yang sudah menjauhi mereka.


“Udahlah, kita bales nanti,” gumam Aca yang masih terdengar samar oleh Ara.


Ara tidak mempedulikannya, dan hanya jalan saja bersama Morgan.


‘Mau main-main sama gue? Boleh. Luka memar ditanggung pribadi!’ batin Ara, yang tersenyum sinis ke arah Mereka.


Morgan mengetahui sikap Ara yang aneh, membuatnya meletakkan tangannya di atas kepala Ara. Ara pun menoleh ke arahnya.


Aca juga melihat sikap Morgan yang sangat manis pada Ara, membuat dirinya tercengang, dan membuat teman-temannya, termasuk Jessline, tidak bisa menerimanya.


“Dia pake pegang-pegang Morgan segala!” geram Fira, membuat Aca semakin tidak terima dengan keadaan.


“Kayaknya Aca yang setiap hari ngebangunin Morgan di pagi hari dan sebelum Morgan tidur, bakalan kalah deh sama Ara sang pel*cur itu,” ucap Lisa secara asal, membuat Aca menarik kerah kemejanya dengan kasar.


“Loe ngomong apa tadi?” tanya Aca sinis, membuat Lisa agak gentar.


Jessline yang melihat emosi Aca yang sedang tersulut, segera melerai mereka.


“Loe gak usah gitu, Ca!” bentak Jess, membuat Aca melepaskan tangannya dengan terpaksa.


Aca masih memandang sinis Lisa, “gue masih punya perhitungan ya sama loe!” bentak Aca, membuat Lisa agak takut melihat ekspresi Aca yang sedang kalang kabut itu.


Memang pertemanan mereka sudah sangat toxic.

__ADS_1


“Dari pada begitu, mending kita atur siasat, supaya Morgan bisa loe dapetin,” ucap Yusfira, membuat suasana agak tenang.


Aca mengatur napasnya, agar emosinya tidak semakin tersulut.


Jessline menjauh dari kerumunan, “gue gak ikut-ikutan,” lirih Jessline, membuat mereka semua menatapnya dengan sengit.


Ara menuju kelasnya untuk sekedar berpamitan dengan teman-temannya, dan juga ingin mengambil tasnya.


Tepat di depan koridor kelas, Fla dan yang lainnya memenuhi koridor depan kelasnya.


Mereka berkumpul mengelilingi Ara dan Morgan, “gimana, Ra?” tanya Fla.


Ara menggeleng padanya. Mereka semua seperti kecewa melihat ekspresi Ara.


“Maksudnya apa tuh, Ra?” tanya Ray yang tidak paham dengan respon Ara.


Ara menghela napas, “gue diskors satu minggu,” lirih Ara.


Mereka memasang tampang tak percaya.


“Hah? Ya kali? Minggu depan kita ujian lho ...,” bantah Fla, tapi Ara hanya diam sembari menatapnya sendu.


“Gimana sih Pak Morgan, harusnya belain Ara dong!” ucap Rafa yang sepertinya tidak bisa menerima ini.


“Tau nih Pak Morgan mah!” ucap Ray membenarkan.


Mereka nampak tidak setuju dan kecewa dengan keputusan Kaprodi yang memutuskan menskors Ara. Tapi, sebetulnya Ara tidak masalah dengan hal itu.


Ara tak sengaja melihat ke arah Farha, yang hanya diam memandang ke arah Morgan. Ara merasa ada yang aneh dari Farha.


Kenapa dia memandang Morgan dengan lekat? Seperti orang yang sudah mengenal Morgan dengan lama. Apa hanya perasaanku saja ya? Ah mana mungkin aku cemburu dengan Farha? Dia kelihatan baik di mataku. Di tambah lagi, Morgan juga sepertinya tidak melihat ke arahnya sejak tadi. Ia hanya melihat ke arah Ray dan Rafa saja karena mereka berdua mengajaknya berbicara tadi, pikir Ara.


“Yah ... kakak mah!” ucap Fla dengan kesal.


Ray dan Rafa tercengang mendengar rengekan Fla, yang mengatakan kalau Morgan itu adalah kakaknya.


“Hah, kok kakak sih?” tanya Ray yang bingung dengan ucapan Fla.


Sadar kalau dirinya keceplosan, Fla langsung memasang tampang tegang saat ini.


Rafa menatapnya dengan lekat, “loe adeknya Pak Morgan, Fla?” bidik Rafael.


Suasana nampak hening, ditambah tatapan Farha yang semakin membuat Ara risih.


Kenapa ia malah semakin memandangi Morgan dengan lekat? Seperti seseorang yang telah yakin dengan tebakannya, pikir Ara yang sedari tadi memperhatikan Farha.

__ADS_1


‘Duh ... kok hati kayak sakit gini yah?’ batin Ara sembari memperhatikan Farha dengan saksama.


Farha terlihat sama sekali tidak menghiraukan orang lain yang ada di sekelilingnya. Dia hanya terpaku dengan Morgan. Tapi, Ara berusaha meyakinkan dirinya sendiri, supaya ia tidak terlalu merisaukan masalah Farha ini.


Mungkin aku terlalu terbawa dengan situasi yang sekarang sedang aku alami ini, pikir Ara sembari menghela napas.


“Iya. Fla adik saya. Memangnya kenapa?” ucap Morgan yang akhirnya membuka suaranya.


Ray, Rafa dan Farha nampak terkejut dengan pengakuan Morgan kali ini.


“Wah ... maafin kita ya pak, waktu awal pertama masuk di sini, kita bikin salah sama Fla,” ucap Rafael dengan nada memelas, begitu pun Ray.


Morgan memandang mereka dengan tatapan bingung.


“Iya ... pantes aja Pak Morgan waktu itu langsung sigap nyuruh kita masuk ruang Kaprodi,” sambar Ray membenarkan ucapan Rafa.


Morgan hanya memandang mereka dengan dingin, tanpa mempedulikannya.


Fla mendelik, “udah ah ... masa lalu itu mah. Sekarang kan kita udah jadi best friend!” ucap Fla membuat mood Ara dan yang lainnya naik kali ini.


Ara tersenyum pada Fla, yang ternyata mempunyai sisi kedewasaan.


“Uchhhh ....”


Mereka semua tersentuh dengan ucapan Fla, kecuali Farha yang hanya diam mematung.


Wajar saja sih, dia kan anak baru. Jadi belum mengerti perjalanan kami bersama selama 1 semester ini, pikir Ara.


“Jadi, loe harus diskors sampai hari senin, Ra?” tanya Farha, membuat Ara mengangguk kecil ke arahnya.


Mereka semua terlihat sedih sekali, karena Ara harus break sejenak sebagai tanda dirinya yang menerima hukuman.


Fla mengelus lengan Ara, “baik-baik ya, senin depan kita kumpul lagi,” ucap Fla membuat Ara nyaman.


Ara yang sudah tersentuh, langsung memeluknya dan juga Farha, diikuti oleh Ray dan Rafa.


Mereka pun berpelukan seperti Teletubbies.


Mereka melepaskan pelukannya dan memandang satu sama lain dengan senyuman.


Morgan berdiri sejajar menghadap ke arah Ara. Pandangan mereka pun bertemu.


Ray, Rafa dan Fla sudah tidak mengejek Ara lagi, karena sebelumnya, Ara sudah minta pada mereka agar merahasiakan hubungan Ara dan juga Morgan.


Masalah di luar kampus, biarlah mereka mau mengejek ku seperti apa. Asal tidak di dalam kampus, pikir Ara.

__ADS_1


__ADS_2