
Ara memandangnya dengan tatapan bingung, "Kak Ilham, aku tuh bingung ya, kenapa Kak Ilham selalu nanya-nanya aku dengan pertanyaan yang gak jelas? Memangnya harus selalu begitu, ya?" tegur Ara, membuat Ilham mendelik bingung karenanya.
'Aku sudah terlalu bersikap jauh, ya? Apa aku sangat over?' pikir Ilham yang mulai tak bisa mengontrol sikapnya pada Ara.
Perasaannya pada Ara sudah tak bisa dibendung lagi. Kini, Ilham malah merasa sudah memiliki Ara, padahal ia sama sekali belum melangkah, untuk mendapatkan hati Ara.
"Maaf," gumam Ilham, yang tidak enak dengan Ara.
Ara menghela napasnya, bingung harus berkata apa lagi.
"Gak apa-apa. Jadi, Kak Ilham mau antar aku ke tempat dosen aku?" tanya Ara, membuat Ilham tersenyum hangat padanya.
"Iya, ayo kita ke sana," ucap Ilham, membuat Ara tersenyum.
"Yuk!" gumam Ara.
"Eh tunggu, Ra," ucap Ilham yang tiba-tiba saja membuat Ara menghentikan langkahnya.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Ada apa, Kak?" tanya Ara.
"Kakak mau bayar makanan dulu," ucapnya membuat Ara terkejut seketika.
'Hah, bahkan gue belum nyuruh dia buat bayar semuanya, tapi dia dengan inisiatif yang tinggi malah mau bayarin semua makanan yang tadi dipesan sama Bisma?' batin Ara yang tak habis pikir dengan yang ada di pikiran Ilham.
Ilham melontarkan senyuman ke arah Ara, "Tunggu sebentar, ya," pinta Ilham, membuat Ara mendelik.
"Kak, tunggu!" pekik Ara, membuat Ilham menghentikan langkahnya.
Ilham pun memandang kembali Ara dengan tatapan heran.
Ilham mengerenyitkan dahinya, "Ada apa, Ra?" tanya Ilham, membuat Ara menunduk sendu.
Ara mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Ilham, "Pakai ini aja. Jangan pakai uang Kak Ilham. Biar bagaimana pun juga, Kak Ilham udah baik sama aku," ucap Ara, membuat Ilham melongok.
"Kenapa harus pakai uang orang lain? Kan saya yang makan makanan tadi," gumam Ilham, membuat Ara semakin tak enak padanya.
"Pakai kartu teman aku aja, ya," ucap Ara, membuat Ilham menghela napasnya panjang.
"Baiklah," ucap Ilham, yang lalu mengambil kartu itu dari tangan Ara.
Ilham pun segera pergi menuju ke arah kasir, dan membayar semua tagihan yang ditagihkan padanya.
Ara menatap kepergian Ilham dengan sendu. Ternyata, Ara sama sekali tidak bisa jahat dengan Ilham.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ilham pun datang sembari tersenyum pada Ara.
"Sudah saya bayar," gumam Ilham, yang lalu menyodorkan kartu tersebut ke arah Ara, "ini kartunya saya balikin," gumam Ilham, membuat Ara mengambil kartu tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya.
"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.
Mereka pun menuju ke arah rumah sakit, tempat Ilham mendapatkan pertolongan tadi. Ilham dengan sedikit cepat melajukan kendaraannya menuju ke arah rumah sakit tersebut.
Sepanjang jalan, Ara hanya bisa memikirkan keadaan Dicky. Biar bagaimana pun juga, Dicky sudah sangat baik padanya semalam, dan ingin mendengarkan keluh-kesahnya. Ara tidak bisa dengan tega, tidak menjenguknya sama sekali.
Beberapa saat berlalu. Mereka pun sudah sampai di rumah sakit tersebut. Ara dan Ilham bergegas keluar dari mobil.
"Brukk ...."
Ilham menutup pintu mobilnya dengan keras, kemudian segera berlari menuju ke arah pintu mobil sebelah kemudi. Ia membukakan pintu untuk Ara, dan membantunya untuk melangkah.
Kini, mereka pun berhadapan satu sama lain.
Ara memegang seikat bunga di tangannya, yang ia niatkan untuk diberikan pada Dicky.
Ilham memandang Ara dengan tatapan datar, "Kamu tahu di ruangan apa dia dirawat?" tanya Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
"Di sebelah ruangan Kak Ilham tadi," jawab Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.
"Ayo," ajak Ilham yang masih menggenggam erat tangan Ara.
Mereka sudah sampai di depan ruangan tempat Dicky dirawat, membuat Ara terdiam sejenak sembari mempersiapkan dirinya.
Ara terus-menerus menghela napasnya, 'Mudah-mudahan gak ada Morgan di dalam,' batin Ara yang khawatir jika harus berhadapan dengan Morgan lagi.
Ara mengulurkan tangannya ke arah tuas pintu, berniat untuk membukanya.
"Cklekk ...."
Ara terkejut, dan menghentikan aktivitasnya, karena seseorang dari dalam ruangan, yang kebetulan juga membuka tuas pintu, dan kini berhadapan dengan Ara.
Mata Ara membulat seketika, karena yang ia lihat saat ini adalah Bisma.
Bisma pun menatap Ara dengan sangat terkejut. Bisma menoleh ke arah Ilham, dengan tatapan yang bingung sekali.
"Bisma," pekik Ara, membuat Bisma melongok kaget.
Bisma memandang ke arah Ara, "Lho, loe ngapain di sini, Ra?" tanya Bisma yang heran dengan keberadaan Bisma.
__ADS_1
Bukan hanya Bisma saja yang heran, Ara pun heran dengan keberadaan Bisma di sini.
"Loe ngapain ada di sini?" tanya Ara bingung.
"Gue mau samperin temen gue, yang temennya kecelakaan. Ternyata temen dari temen gue itu pak Dicky," gumam Bisma, membuat Ara mendelik kaget karenanya.
"Hah? Temen loe temenan sama pak Dicky?" tanya Ara bingung dengan ucapan Bisma.
"Iya, gue ga nyangka, kenapa mereka bisa kenal begitu," gumam Bisma, membuat Ara heran dengan ucapannya.
Bisma tak sengaja melirik ke arah Ilham, membuat Ara tersadar dan juga sesekali melirik ke arah Ilham.
"Oh ya, kenalin Bis, ini Kak Ilham," gumam Ara, "Kak Ilham kenalin, ini Bisma temen aku," ucap Ara pada mereka berdua.
Ilham mengulurkan tangannya ke arah Bisma, membuat Bisma membalas uluran tangannya itu.
"Bisma," gumam Bisma.
"Ilham," gumam Ilham.
Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing, kemudian segera melepaskan kembali tangan mereka.
Ara teringat dengan kartu ATM milik Bisma. Ia pun mengambilnya dan memberikannya pada Bisma.
"Nih, takut gue lupa," ucap Ara, membuat Bisma mengambil kartu ATM miliknya.
"Makasih," gumam Bisma, membuat Ara tersenyum.
Suasana sudah sangat stabil saat ini.
Ara penasaran dengan keadaan Dicky di dalam, "Gimana keadaan pak Dicky?" tanya Ara.
"Masuk aja ke dalam," suruh Bisma, membuat Ara semakin penasaran.
"Oke deh," gumam Ara.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Dicky untuk segera menjenguk Dicky.
Ara melihat sosok laki-laki yang sedang duduk menghadap ke arah Dicky. Ara sama sekali tak mempedulikan teman Bisma itu.
"Pak Dicky," pekik Ara, membuat laki-laki yang duduk di hadapan Dicky itu mendelik seketika setelah mendengar ucapan Ara.
Dicky pun tersenyum melihat ke arah Ara, "Eh, masuk, Ra," suruh Dicky membuat laki-laki itu semakin gemetaran.
__ADS_1
Laki-laki itu seketika menoleh ke arah Ara. Melihat wajah laki-laki itu, Ara seketika menjadi terkejut, sampai bunga yang ia pegang menjadi terjatuh di atas lantai.
"Ara," pekiknya dengan nada tak percaya, seketika membuat air mata Ara menggenang di pelupuknya.