
Ternyata melupakan seseorang tidak semudah mendapatkannya, pikir Morgan.
"Arghh!"
Morgan sangat kesal, karena ia tidak bisa melakukannya. Morgan tidak bisa kalau harus hilang kontak dengan Ara. Namun sekarang, ia menyadari kalau dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Ara. Ia hanyalah bagian dari masa lalunya saja.
Di sana, Ara kembali bersama Ilham ke mobilnya yang berada di parkiran. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ara tak sengaja melihat Arash yang sedang menghisap cerutunya, sembari menyandarkan tubuhnya di mobil Ilham.
"Lho, udah selesai?" tanya Arash, namun Ara dan Ilham hanya diam, "cepat banget, kok nggak dirawat sih?" tanyanya lagi.
Ara melepaskan tangan Ilham, karena ia merasa, dirinya sudah selesai berakting di depan Morgan. Tujuannya Ara tadi, hanya ingin membuat Morgan menanggung semuanya. Dirinya tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang terluka, walaupun kejadian ini hanya salah paham. Namun, kekeliruan itu yang mungkin saja menjadi penyebab Morgan sangat membenci Ara saat ini.
"Iya tadi cuma diperiksa aja, terus dibersihin lukanya, dikompres, ya ... sudah sih paling gitu aja," jawab Ilham.
"Drrrrtttt ...."
Ara melihat handphone-nya yang tiba-tiba saja bergetar. Ternyata, itu adalah notifikasi dari akun Reza.
Ara mengerenyitkan dahinya, sejak kapan aku jadi mendapat notifikasi dari akunnya? Apa karena waktu itu aku men-stalk dirinya? Pikir Ara.
'Ah nggak mungkin, kan baru sekali stalk!' batin Ara keheranan.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ara segera melihat notifikasi dari akun sosial media Reza. Ia memposting sebuah foto. Namun, Reza hanya memperlihatkan kopernya saja dengan caption "sampai".
Ara mengerenyitkan dahinya, kenapa dia senang sekali berpindah tempat? Pikir Ara heran.
"Tinggg ...."
Satu pesan singkat tiba-tiba saja masuk ke dalam kotak masuk. Dengan rasa penasaran, Ara pun langsung melihatnya dan membaca isi pesan tersebut.
"Hai, Ra. Gue udah sampai di Indonesia. Sore ini ada acara? Gue pengen banget ketemu sama loe." Isi pesan singkat, yang ternyata dari Bisma.
Ara mendelik, merasa gelisah dengan pesan singkat yang Bisma kirim ini. Ara khawatir, Bisma menanggung masalah yang sama dengan yang Ilham rasakan saat ini.
Namun, seketika pikiran Ara pun buyar. Ia menyadari bahwa hubungannya dengan Morgan, kini sudah berakhir, dan Morgan bukan siapa-siapa lagi, sehingga dia tidak berhak untuk ikut campur dengan semua urusan Ara.
"Ya kan, Ra?" tanya Arash.
__ADS_1
Fokus Ara benar-benar sudah buyar sekarang. Ara langsung mengalihkan pandanganya ke arah mereka yang tengah asyik berbincang.
"Ah?" gumam Ara, yang bingung dengan pertanyaan yang mereka ajukan padanya.
Aku sama sekali tidak mendengar percakapan mereka tadi. Fokus diriku terlalu banyak untuk Morgan. Tidak seharusnya aku seperti ini! Kalau aku merendah, sama saja membiarkannya semakin menginjak-injak harga diriku, pikir Ara yang tidak bisa tinggal diam dengan permasalahannya saat ini.
"Lagi gak fokus ya?" tanya Arash, Ara pun langsung menyeringai ke arahnya.
...***...
Kini, mereka sudah sampai di rumah Ara. Arash, Aresha dan juga Ilham sedang duduk di ruang tamu untuk berbincang.
"Aku mau ke kamar dulu ya, Kak," ucap Ara.
"Lho ngapain ke kamar? Temenin kita dong di sini," ucap sinis Arash, membuat Ara kesal lalu mengerucutkan bibirnya di hadapan mereka.
Melihat ekspresi Ara yang bagi Ilham sangat menggemaskan, ia pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Ara sangat bingung dibuatnya.
Entah kenapa dirinya, aku tidak mengerti, pikir Ara, yang memutuskan untuk tidak memedulikannya.
"Aku mau mandi dulu sebentar. Nanti aku ke sini lagi kok," ucap Ara dengan nada yang datar.
"Yayaya," gumam Ara menyeleneh, tetapi tetap mengiyakan ucapan Arash.
Arash terlihat menjulurkan lidahnya ke arah Ara. Tak tinggal diam, Ara pun membalasnya dengan menjulurkan lidahnya ke arahnya juga.
Melihat Ara pergi, Ares pun menjadi ingin sekali meninggalkan tempat ini.
"Kak, aku mau ke kamar ya. Mau belajar, senin aku udah mulai ujian," ucap Ares, membuat Arash memandang ke arah adik bungsunya itu.
"Oke deh, semangat belajarnya!" ucap Arash dengan sangat gembira, membuat kesan positif untuk Ares.
Ares pun pergi menuju ke arah kamarnya, meninggalkan Arash dan juga Ilham di sana.
Suasana nampak rancu saat ini. Ilham memandang ke arah Arash dengan pandangan seperti biasa.
Kini, Ara pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Namun, perasaannya mengatakan seperti ada sesuatu yang tertinggal.
__ADS_1
"Apa yang ketinggalan?" gumam Ara dengan lirih, yang bertanya-tanya sembari tetap melangkah.
Ara berusaha memikirkan sesuatu yang tertinggal itu.
"Oh ya, handphone!" pekik Ara.
Ia teringat dengan handphone-nya, yang masih tertinggal di mobil Ilham. Jika handphone-nya terbawa sampai ke rumah Ilham, Ara pasti akan sangat merepotkan Ilham lagi nantinya.
"Ya udah, ambil dulu aja deh," gumam Ara, yang langsung bergegas kembali ke arah garasi.
"Ya, begitulah Pak," ucap Ilham yang terdengar samar, membuat langkah Ara terhenti untuk mendengar percakapan Ilham dan juga Arash.
Ara menguntit seperti ini, mengingatkannya saat ia menguntit pembicaraan Arash dan juga Morgan. Ara mendadak mellow dengan keadaan ini.
"Gak usah formal deh, Ham. Santai aja lagi! Kalau di luar, kita teman," ucap Arash.
Ara terus mendengarkan percakapan mereka. Ara sedikit penasaran, sebenarnya apa yang mereka bicarakan di luar pekerjaan?
"Iya, Ras. Oh ya, ada yang pengen saya tanyakan," ucap Ilham yang terdengar ragu.
Arash mengerenyitkan dahinya, "Memangnya, kamu mau tanya apa?" tanya Arash kembali.
Ara mengintip sedikit ke arah mereka. Ia ingin tahu respon dan sikap Ilham saat sedang berbicara santai dengan Arash. Terlihat Ilham yang ragu dan sangat kaku.
Kalau dilihat lagi, Ilham itu ternyata sangat manis, pikir Ara yang baru menyadarinya.
"Mmm ... kalau seandainya, saya mendekati Arasha, apa kamu akan kasih izin?" tanya Ilham pada Arash.
"Degg ...."
Jantung Ara seketika berdebar, dan mungkin sempat berhenti sejenak. Ia sangat kaget mendengar pertanyaan Ilham yang sangat rancu baginya.
Apa yang baru saja Ilham ucapkan kepada kakak? Apa aku tidak salah dengar? Ilham meminta izin dengan kakak? Ada apa sebenarnya ini? Apa dia mengambil kesempatan atas kesalahan yang sudah menimpanya dan melibatkannya itu? Pikir Ara yang perasaannya kini sudah tak keruan.
Ara menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ara sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Seketika tubuh Ara pun menjadi lemas tak berdaya.
__ADS_1
"Hah, kamu bilang apa tadi? Deketin Arasha? Apa saya nggak salah dengar?" tanya Arash kembali untuk memastikan ucapan Ilham.