
Lembaran kertas berjatuhan dari dalam amplop, karena Ara membukanya sembari tetap berada di posisi telentang. Ara mengambilnya, dan memperhatikan kertas yang berjatuhan di atas perutnya.
Ara mendelik, karena ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam sesaat.
“Hah, tiket nonton?” lirih Ara dengan penuh rasa heran.
Kenapa tiba-tiba Morgan memberiku dua buah tiket untuk menonton bioskop? Pikir Ara.
Terkadang, Ara merasa tidak mengerti dengan yang Morgan pikirkan.
Tapi entah kenapa, hati Ara terasa sangat senang, saat ia mengetahui pemberian Morgan ini.
Ara langsung melihat isi surat yang masih berada di dalam amplop. Dengan rasa penasaran yang menggebu, ia membaca surat yang ada di dalamnya.
“Salam hangat, dari manusia yang paling kamu benci.
Saya ngasih kamu tiket nonton ini, hanya bertujuan untuk melepas rindu. Tapi, jangan jatuh cinta sama saya, ya. Saya takut, nanti gak ada obatnya.”
Ara membaca surat dari Morgan itu, teriring senyum. Ara merasa, ada yang salah dengan otaknya, sehingga dengan sangat percaya diri, dia menuliskan kata-kata yang aneh di surat ini.
“Apaan sih ini orang? Percaya diri amat, ya?” lirih Ara sembari menepuk-nepuk suratnya, tak tahu lagi harus berbuat apa.
Ara kembali melanjutkan membaca surat itu.
“Kalau kamu bersedia, saya mau ajak kamu nonton. Malam ini, tepat pukul tujuh, saya jemput kamu di rumah. Tapi, kalaupun kamu gak bersedia, saya juga akan tetap jemput kamu malam ini.”
“Deg ….”
Ara teringat dengan Jessline, yang sedang ada di ruang tamu. Ara tidak ingin masalahnya dan Morgan terungkap. Letak permasalahannya adalah, Ara sudah membuat Jess marah karena masalah Fla, ditambah dengan Ara yang tidak senang dengan hubungan Jess dan juga kakaknya, dan sekarang Ara ingin berkencan dengan kakak tirinya?
‘Di mana letak harga diriku?’ batin Ara mengaduh.
“Gawat! Kalo si Jess gak cepet-cepet balik, pasti kebongkar masalah gue sama Morgan. Nanti dia malah seenaknya memanfaatkan keadaan ini, supaya bisa lebih dekat dengan kakak lagi.”
Ara sangat bingung saat ini, tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana jika Morgan sampai harus berpapasan dengan Jessline?
Ah.
‘Kenapa sih, kakak gak tau soal Jessline? Itu malah jadi menghambat langkah saja,’ batin Ara.
Tapi kalau dipikir lagi, tidak heran juga sih. Karena Fla pun tidak ingin semua orang tahu tentang ini.
“Gue harus nyusun siasat!” tekad Ara bulat.
***
Ara menyelinap ke luar, menuju ruang tamu. Ia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.
‘Aman,’ batin Ara.
Tak ada tanda-tanda kakaknya dan juga Jess di sana.
Ara bergerak maju sedikit demi sedikit.
__ADS_1
“Masih aman,” lirihnya sembari mengelus dada.
Ara berbalik dengan perlahan, dan terkejut karena melihat sesuatu yang sudah berdiri sangat dekat di hadapannya.
“Haaaaaaaa …,” teriak Ara karena terkejut melihat kakaknya yang tiba-tiba saja muncul bak arwah yang gentayangan.
Arash tertawa setelah melihat ekspresi kaget dari Ara. Ara merasa, jantungnya yang hampir saja copot.
“Ih … kakak mah!” rengek Ara, seperti anak kecil yang sedang ketakutan.
Arash malah semakin memperjelas tawanya.
“Hahah, ngapain sih, Ra? Kok kayaknya ngendap-endap gitu, sih?” tanya Arash yang seperti sedang menjahili Ara.
Ara yang kesal kemudian langsung memukul lengan kiri Arash.
“Aduh … sakit tau,” gumam Arash dengan nada terimut miliknya, membuat Ara geli, dan ingin muntah.
“Hueeeekkk ....” Ara berpura-pura ingin muntah di hadapannya.
Mereka pun tertawa karena lelucon Ara. Sudah lama sekali, Ara tidak tertawa seperti ini bersama kakaknya. Saat mereka tumbuh dewasa seperti ini, semakin besar jarak yang memisahkan kedekatan mereka, sebagai seorang kakak-beradik.
Tiba-tiba saja, Ara teringat masa lalunya.
Rindu, pikirnya.
“Ngapain sih?” tanya Arash, membuat Ara mengubah fokusnya menjadi melihat sekelilingnya, untuk memeriksa, apakah di sana ada Jess, atau tidak.
Ara menatapnya spontan. Arash sepertinya semakin bingung dengan gelagat Ara yang aneh ini.
“Mana manusia itu?” tanya Ara asal, membuat kakaknya mengerutkan dahinya.
“Apa? Siapa?” tanya Arash kembali, membuat Ara sedikit malas jadinya.
“Itu lho … manusia gaje itu?” tanya Ara lagi, dengan nada menekankan, tapi tidak ingin menyebutkan namanya.
“Siapa? Monica?” tanya Arash balik pada Ara.
Ara mengangguk mantap. Arash langsung mendecak, lalu menjewer telinganya. Memang tidak sakit sih, mungkin kakaknya sedang mengajak Ara bercanda lagi.
“Aww … aduuh-aduuh sakit, Kak.”
“Ngomong coba sekali lagi,” tantang Arash, membuat Ara tertawa, padahal ia sedang dijewer oleh Arash.
Arash melepaskan tangannya itu, lalu Ara menggosokkan telinganya yang tak terasa sudah menjadi panas karenanya.
“Aduhh … sakit tau,” ketus Ara yang merasa kesal dengan kakaknya.
“Lagian ngomongnya asal aja!” Arash menimpali Ara dengan kasar.
“Ya abisnya ... kakak gitu sih,” bantah Ara, kakaknya mendelik ke arahnya, membuat Ara merinding setengah mati.
“Kakak gimana?” sunggut Arash.
__ADS_1
“Ya … gitu, pacaran sama musuh aku,” ucap Ara dengan ragu, yang mungkin saja membuat Arash terkejut.
Ia mendecak sembari menggelengkan kepala saja.
“Dasar wanita,” celotehnya.
Ara tak terima dengan perkataannya.
“Dasar pria,” timpal Ara tak mau kalah darinya.
Ia mengelitiki Ara dengan cepat, sampai Ara tergelak, dan tidak bisa berhenti tertawa.
Geli sekali.
“Udah, stop-stop …,” pinta Ara, tapi kakaknya tidak menggubris sama sekali ucapannya.
Ara semakin tertawa dengan kencang. Namun pada akhirnya, kakaknya melepaskannya.
‘Udah keburu bengek duluan, baru dilepasin,’ batin Ara yang masih bisa menyeleneh.
“Kakak mah!” bentak Ara padanya, yang tak terima dengan perlakuannya.
Kejam sekali kakakku, pikir Ara.
“Lagian, siapa suruh kamu ngikutin omongan kakak?” sinis Arash.
“Habisan, kakaknya bikin kesel duluan!” Ara masih tidak mau kalah dengan kakaknya.
Memang dasar wanita, tidak bisa ditebak dan tidak mau kalah dengan lawan bicaranya.
“Hayo … jawab lagi, kakak kelitikin lagi nih,” ancam Arash, membuat Ara menyerah kali ini.
Ara tidak kuat menahan geli.
“Ampun, ampun,” lirih Ara sembari menyeringai ke arah Arash.
Suasana kembali menjadi kondusif. Ara kembali menatap kakaknya dengan tajam, untuk menanyakan kebenarannya lagi.
“Kak, jawab dong pertanyaan aku. Dia itu pacar kakak atau bukan?” tanya Ara penasaran.
Arash menghela panjang napasnya.
“Bukan sih, Ra. Cuma kakak seneng aja sama penampilan, dan juga …,” jawab Arash menggantung, membuat Ara penasaran dengan kelanjutannya, “gaya bercintanya,” ucapnya sembari mendonggakkan kepalanya ke atas, seperti sedang membayangkan sesuatu.
Ara mendadak menjadi jengkel, setelah mendengar ucapannya yang di luar nalar itu.
Mata Ara membola, dan menyinyir sembari memperhatikan cara kakaknya membayangkan Jessline.
Ah.
‘Semua laki-laki, termasuk kakak, sama aja,’ batin Ara yang memukul rata semua laki-laki di dalam pikirannya, ‘Sama-sama mempunyai pikiran yang kotor,’ batinnya meneruskan.
“Emh … apalagi, pas adegan pake gaya--”
__ADS_1