
Seketika Mereka menengok ke arahnya. Seseorang muncul dari balik pintu dan membuat Ara terkejut.
“WHAT? Kenapa loe lagi sih? Kenapa loe selalu ada di mana pun?” geramnya karena Ara merasa dirinya sudah diintimidasi oleh Morgan.
Morgan hanya terdiam, sembari menatap Ara dengan tatapan yang dingin, membuat Ara sangat kesal.
‘Ih, kesel!’ batin Ara.
“Kenapa saya ada di sini? Itu hak saya. Ini rumah saya,” tegas Morgan.
Ara semakin tercengang dengan pernyataannya.
‘Hah? Apa-apaan ini? Dia bilang ini rumahnya?’ batin Ara tak percaya dengan ucapannya.
“Ara ...,” pekik seseorang dari balik tubuh Morgan, kemudian berhamburan memeluk Ara.
Ya, siapa lagi kalau bukan Fla.
Ara melepaskan pelukannya, karena merasa sudah risih.
“Akhirnya loe dateng juga ...,” tutur Fla yang nampaknya sangat senang.
Ara nampak bingung dengan semuanya. Teringat sesuatu yang Fla ucapkan waktu itu.
“Tunggu, tadi loe bilang, kakak loe mau jemput gue?” tanya Ara, Fla mengangguk.
“Jadi yang loe maksud kakak loe itu, dia?” tanyanya sembari menunjuk ke arah Morgan.
Fla mengangguk dengan cepat.
“Iya ... ini kakak gue, Ra!”
“Deg ....”
Jantung Ara seketika berdetak lebih kencang daripada awal bertemu dengan Jessline. Kenapa dunia ini terasa hanya selebar daun kelor?
Ara mengaduh dalam hati. Ia rasa, tidak akan baik ke depannya.
‘Mati gue!’ batin Ara terus mendumel.
Apa sebenarnya yang terjadi? Hidup Ara nampak seperti di dalam drama.
“Bodo amat lah!” Jessline pergi meninggalkan kami, dengan keadaan kesal.
‘Dia kenapa, sih?’ batin Ara yang tidak senang dengan tindakan Jessline.
“Ayo masuk, Ra,” ajak Fla.
Ara mengangguk, kemudian mulai memasuki bagian tengah rumah Fla.
Perasaan Ara campur aduk sekali. Ia hampir pingsan saat mengetahui Morgan adalah kakak dari Fla. Pantas saja, dia kelihatan akrab tadi, saat di kampus. Rupanya Ara telah salah menilai Morgan.
Sekarang, Ara berhadapan dengan ayah dari Fla dan juga ibu tiri Fla. Ia sama sekali tidak melihat Jess atau pun Morgan di meja makan. Padahal, tadi mereka masuk bersamaan.
“Ayah, mama, ini Ara, teman aku,” ucap Fla memperkenalkan Ara kepada ayah dan juga ibu tirinya.
Mereka melontarkan senyuman hangat pada Ara. Ara pun membalas senyuman mereka.
__ADS_1
“Oh, hai Ara. Apa kabar?” sapa lembut ayahnya, membuat Ara nyaman pada sapaan pertama.
“Hai om dan tante, salam kenal dari saya. Kabar baik om. Gimana kabar om dan tante?” jawab Ara dengan nada yang sangat hati-hati.
Ara tidak mau mereka menilainya dengan penilaian yang buruk, pada kesan pertama.
“Hai, Ara. Tante dan om baik sekali malam ini,” jawab ibu tiri Fla.
Ara tersenyum mendengar jawaban mereka.
Ternyata, mereka sangat ramah terhadap tamu. Apa mungkin, karena Ara yang sudah menolong Fla dari Jessline tadi?
“Ayo duduk, Ra,” ajak Fla.
Ara pun mengangguk, dan duduk di sebelah Fla.
Suasana nampak hening. Kenapa di sini tidak ada Morgan dan Jessline?
Ara memberanikan diri untuk bertanya kepada Fla.
“Jess dan Morgan mana?” Ara berbisik lirih kepada Fla.
“Jess dihukum, gak boleh makan malam di meja makan selama satu minggu. Kak Morgan, i don't know,” jawab Fla, tentunya juga dengan berbisik, Ara hanya mengangguk kecil setelah mendengarnya.
Mereka makan malam seperti biasa. Dengan beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan ayah dan ibu tiri Fla kepada Ara. Ara sepertinya nyaman di keluarga ini. Apa mungkin, karena ia sudah tidak pernah lagi merasakan kehangatan dan dekapan keluarga?
Beruntungnya Fla.
“Mmm ... om tante, boleh pinjam toiletnya sebentar?” pinta Ara menunggu persetujuan mereka.
Sepertinya Ara jadi mellow sendiri. Ia tidak ingin mereka melihatnya, kalau saja Ara tidak bisa menahan air matanya.
Ia mengizinkan Ara meminjam toiletnya. Ara dan Fla bergegas menuju ke toilet tamu.
Fla membuka pintu toilet, “yah ... kok kekunci, sih?” heran Fla, “siapa di dalam?” tanya Fla.
“Gue,” jawab seseorang dari dalam.
Ternyata, ada Jess di sana. Ara mendadak merinding mendengarnya.
“Kenapa gak pake toilet kamar?” tanya Fla yang mungkin masih penasaran.
“Rusak!” jawabnya terdengar asal saja.
Fla terlihat menggeleng kecil, sembari mendecap.
“Yaudah, Ra. Pakai toilet kamar gue aja, yuk,” tawarnya, Ara mengangguk menyetujuinya.
Mereka langsung menuju ke kamar Fla.
“Kalau ada apa-apa, telepon aja, ya. Bawa handphone, kan?” tanyanya, membuat Ara mengangguk kecil.
“Makasih ya, Fla.” Fla mengangguk kecil, lalu pergi meninggalkan Ara di sini.
Ara memakai toilet Fla, tidak untuk apa-apa. Ia hanya ingin menghela napasnya. Banyak sekali kejadian hari ini yang membuatnya kesal. Sebenarnya bukan hanya hari ini, sejak bertemu Morgan, hari-harinya menjadi terasa menjengkelkan, sehingga membuatnya kesal sendiri. Entah sampai kapan ini akan terjadi.
“Srrrkk ....”
__ADS_1
Ara mendengar suara percikan air, dari suatu ruangan yang tak terkunci. Ia pun penasaran, dan mencoba masuk ke sana.
Ruangannya sangat luas. Banyak sekali dekorasi di dindingnya.
“Ruangan ini sih, dua kali lipatnya ruang kamar gue.” Ara menoleh ke sekeliling ruangan ini, sembari melihat-lihat pajangan yang ada di kamar ini.
Ara terkejut. Matanya membulat. Pandangannya tertuju pada satu titik. Di sana, terlihat fotonya yang dipajang lengkap dengan hiasan bingkai berwarna hitam.
“Hah? Kok ada foto gue di sini?” pekik Ara dengan keras.
“Ckrek ....”
Seseorang membuka pintu, membuat Ara menoleh ke arahnya.
Terlihat Morgan yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya, sembari menggosokkan rambut dengan handuk kecil.
Ara terkejut!
Tubuhnya yang atletis, seketika membuat wajah Ara menjadi panas. Ia menutup kedua matanya dengan kedua tangannya, merasa malu dengan apa yang ia lihat saat ini.
“Loe ngapain di sini?” tanya Ara yang sudah tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Ckrek ....” Morgan terdengar sedang mengunci pintu kamar.
Ara terkejut, namun tak berani melihatnya.
“Apaan sih? Kenapa dikunci? Pake baju loe!” teriaknya yang geram dengan tingkah Morgan.
“Stttt ... kamu mau seluruh isi rumah ini dengar, kalau kamu ada di sini? Ada di dalam kamar laki-laki?” gertaknya yang berhasil membuat Ara takut.
“Lagian, loe apaan sih pake begitu segala? Pake baju loe sekarang!” bentak Ara.
Tak ada respon apapun dari Morgan.
Hening.
Hanya itu yang terjadi sekarang.
“Hah ....” Morgan menangkap tangan Ara dan menjatuhkan tubuh Ara di bawah tubuhnya, membuat Ara sangat terkejut.
Lagi-lagi Morgan menindih Ara.
“Apaan sih?” gumam Ara risih dengan tindakannya, tapi Morgan masih pada sikapnya yang dingin.
Ia menatap wajah Ara dengan tatapan yang aneh, membuat pikiran Ara menjadi kemana-mana.
Bagaimana tidak? Hanya terdapat selembar handuk kecil di dirinya.
“Mau ngapain loe?” sinis Ara.
“Kamu ...,” ucapnya sembari terus memandangi Ara, “cantik,” lirihnya, wajah Ara terasa semakin panas setelah mendengar pernyataanya.
“Blush ....”
“Jangan ngadi-ngadi deh, ya!” Ara membentaknya dengan sinis, sembari berusaha memberontak darinya.
Ara tidak ingin terus dilecehkan olehnya.
__ADS_1
“Baju ini, ternyata cocok buat kamu pakai.”
“Deg ....”