
"Ini kenapa nggak ada yang nge-chat, sih? Mereka pada ke mana ya?" gumam Ara, semakin mengkhawatirkan mereka, karena malam sudah semakin larut.
Dengan perasaan gelisahnya, Ara kembali menelpon Arash.
"Tuuuuttt ...."
"Ayo lah angkat!" gumam Ara, yang semakin kesal karena menunggu Arash mengangkat teleponnya.
"Tuuuuttt ...."
Arash sama sekali tak bisa dihubungi, entah apa yang terjadi padanya.
"Ah kesel! Kenapa sih gak diangkat?" gumam Ara dengan kesal, yang bertanya-tanya pada hatinya.
"Dringggg ...."
Handphone Ara seketika berdering. Ara berpikir, akhirnya kakak memberikanku kabar.
Tanpa basa-basi, Ara pun langsung mengangkatnya.
"Halo, Kak! Kakak di mana? Aku udah dari tadi nungguin kakak pulang, tapi kakak nggak pulang-pulang?" ucap Ara panjang lebar, tanpa membiarkan ia berbicara.
"Halo, Ra. Ini aku," ucapnya tiba-tiba, membuat Ara seketika langsung terkejut karena mendengar suara yang ternyata bukan kakaknya.
Dengan segera, ia melihat ke layar handphone dan benar saja, di sana tertera nama Hatake. Ara cukup malu, karena sudah salah sangka terhadapnya.
Aku kira yang menelponku itu kakak, ternyata bukan, pikir Ara.
"Oh Hatake. Maaf ya, aku kira kakak aku. Soalnya kakak belum pulang pulang, udah malam kayak gini. Aku tuh khawatir," ucap Ara, yang merasa bersalah pada Hatake.
Ia terdengar seperti sedang tertawa.
"Iya Ra, nggak papa. Oh ya memangnya kakak kamu nggak ngabarin mau ke mana?" tanyanya membuat Ara ingin sekali tertawa.
__ADS_1
"Ya nggak ngabarin dong. Kalau ngabarin mah ngapain juga aku sampai sekhawatir ini karena dia belum sampai rumah. Kalau dia ngabarin mah nggak mungkin dong aku sampai mikir kamu itu kakak aku," ucap Ara menjelaskan, dengan sedikit tertawa, begitu pun Hatake.
"Betul juga yang kamu bilang," lirih Hatake.
"Haha lagian kamu aneh banget sih nanyanya," gumam Ara, membuat Hatake bingung dengan ucapannya sendiri.
Di luar pagar rumah Ara, Morgan memandang sinis ke arah Ara, yang sedang tertawa sembari menelepon seseorang yang tidak ia tahu itu siapa.
Morgan mendelik, pantas saja handphone-nya selalu sibuk saat aku telepon. Tak kusangka sampai semalam ini pun, dia masih bisa tertawa dan bersenda gurau di telepon, bersama dengan orang lain. Aku menyesal sudah diam-diam ke rumahnya untuk melihat keadaan Ara. Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan pernah datang malam ini, pikir Morgan yang sangat kesal dengan keadaan.
Dicky yang berada di sebelahnya mendelik, "kenapa, Gan?" tanya Dicky yang bingung dengan reaksi Morgan.
Morgan hanya diam, sembari tetap memperhatikan Ara yang sedang menelepon sampai tertawa terpingkal seperti itu. Dicky berusaha menggeser posisinya untuk melihat apa yang sedang Morgan lihat saat ini.
"Cewek itu lagi teleponan sama siapa? Kok sampai ketawa segitunya sih?" tanya Dicky yang tanpa sadar membuat gejolak di hati Morgan semakin besar.
Morgan tak menghiraukannya, dan malah kembali mengeluarkan handphone-nya dan menelepon adiknya, Fla.
"Tuuuuttt ...."
"Halo Kak Morgan? Ada apa?" tanya Fla, yang sudah menjawab teleponnya.
Satu kebenaran yang Morgan tahu, ternyata Ara sedang tidak menelepon dengan Fla.
"Emn ... gak ada apa-apa. Tumben belum tidur? Apa kamu sedang teleponan sama temen-temen kamu?" tanya Ara yang sekadar basa-basi padanya.
"Enggak kok, Kak. Aku dari tadi cuma baca novel. Aku mau nelpon siapa? Rafael udah tidur, Ray lagi main PS, Ara ... aku nggak tahu dia lagi ngapain. Farha juga dari kemarin nggak bisa dihubungi," jawab Fla dengan polos, membuat Morgan sedikit mengambil kesimpulan dari ucapan Fla itu.
"Oh. Kakak kira kamu sudah tidur. Soalnya kakak mau lembur, dan ada temen kakak yang nanti mau datang ke rumah. Kakak minta tolong kamu untuk pesanin makanan ya," ucap Morgan dengan nada yang datar.
"Oke, Kak. Nanti aku pesenin kok. Sekalian aku juga mau pesan makan. Soalnya mama nggak masak hari ini. Dia sibuk ngurusin Lian," jawabnya lagi, membuat Morgan mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Lian? Memangnya Lian kenapa, sampai-sampai dia nggak masak buat kamu? Jangan-jangan dia juga enggak masak buat ayah?" tanya Morgan yang sedikit sensi dengan ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Morgan memang terkadang masih belum bisa menerima sedikit kesalahan yang ibu sambungnya buat. Entah kenapa, di hati Morgan tak ada yang bisa menggantikan sosok ibu kandungnya.
"Lian mulai besok sudah ujian semester, Kak. Dan mama sibuk persiapin semua kebutuhan Lian. Mama juga hari ini ada arisan jadi enggak bisa di rumah. Mama baru aja pulang tadi," jawabnya, membuat Morgan semakin kesal mendengar pengakuan Fla.
"Apa gunanya ada Jessline di sana?" tanya Morgan dengan emosi yang lama-lama semakin memuncak.
Morgan tak sengaja melirik ke arah Ara yang masih saja menelpon orang itu. Emosinya kali ini, sudah tak bisa tertahan lagi.
"Braakkkkk!!"
Morgan menggebrak setir mobilnya dengan cukup kencang. Pikirannya sudah sangat campur aduk. Morgan sudah terlalu menyayangi Fla, sehingga ia menjadi emosi dengan ibu sambungnya sendiri. Apalagi ditambah saat ini, dirinya sedang melihat Ara yang sedang tertawa bersama orang yang meneleponnya.
Melihat ekspresi Morgan yang aneh, Dicky pun mendelik bingung, "Gan, kamu nggak papa?" tanya Dicky yang berusaha menenangkannya, tapi Morgan tidak bisa tenang jika sudah seperti ini.
"Kak Morgan nggak apa-apa?" tanya Fla yang terdengar khawatir, Morgan berusaha mengatur emosinya, dan menghela napas sedalam-dalamnya.
"Ya sudah, Fla. Tunggu kakak ya, sebentar lagi kakak sampai rumah kok. Jangan lupa tolong pesankan makanan," ucap Morgan, yang masih berusaha keras untuk menahan rasa kesalnya, di hadapan adiknya itu.
Fla yang sudah bingung dengan keadaan, segera mengangguk kecil walaupun Morgan sama sekali tidak bisa melihanya, "iya, Kak. Hati-hati ya Kak," ucap Fla.
"Pasti," lirih Morgan yang segera memutuskan telepon mereka secara sepihak.
"Tuuuuttt ... tuuuuttt ...."
Morgan mengakhiri teleponnya bersama dengan Fla. Morgan berusaha bersikap setenang mungkin, agar bisa fokus untuk menyetir mobil.
"Udah saya bilang, nggak usah deketin Ara dulu. Kasih dia waktu. Biarin dia milih antara dunianya, atau kamu," ucap Dicky memperingatkan Morgan kembali, tapi Morgan malah tidak menghiraukan ucapannya itu.
Jauh di dalam lubuk hati Morgan, ia sangat merindukan Ara. Morgan tidak bisa bersikap dingin padanya. Tapi yang saat ini Morgan dapatkan, hanya pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
Di saat Morgan harus menahan rindunya, Ara dengan seenaknya tertawa seperti itu dengan orang lain.
Apa dia tidak benar-benar kehilangan diriku saat aku menjaga jarak dengannya? Pikir Morgan.
__ADS_1
Morgan mencoba menelepon Ara sekali lagi. Tapi percuma saja, Ara masih tetap sibuk menelepon orang itu, membuat Morgan semakin kesal lalu segera menyudahi teleponnya.