Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Toko Perhiasan


__ADS_3

“Ish … ngeselin banget sih loe!” bentak Ara, tapi Morgan tak mempedulikannya.


“Habis ini ke mana?” tanya Ara, membuat Morgan menghentikan makannya.


“Toko perhiasan,” jawab singkat Morgan, membuat Ara terkejut.


“Hah? Toko perhiasan? Loe mau ngasih perhiasan ke gue?” tanya Ara dengan polos, tetapi Morgan malah menatapnya dengan tatapan dingin.


“Kata siapa? Saya mau ngasih buat orang yang paling spesial buat saya,” ucap Morgan membuat hati Ara seperti terpukul.


Hanya sedikit perkataannya, tapi cukup membuat hati Ara menjadi retak. Selain mendapatkan malu, Ara juga sakit mendengar ada orang yang lebih spesial lagi dari dirinya.


“O-oh ...,” lirih Ara, kemudian langsung menelan kasar beberapa gigit onigiri yang belum sempat ia kunyah dengan benar.


“Uhuk ... uhuk ....”


Tenggorokan Ara terasa sakit sekali, karena ia tersedak onigiri yang dimakan bulat-bulat itu.


Ara langsung mengambil minuman yang berada di hadapannya, dan menenggak habis minuman itu hingga tak tersisa.


Ara kesulitan bernapas saat itu.


Morgan yang melihat kejadian yang terjadi dengan Ara, membuatnya sedikit iba pada Ara.


“Cups ….” Morgan tiba-tiba saja mencium Ara, untuk memberikan napas buatan padanya.


Semua orang mungkin sudah memperhatikan mereka sekarang.


Ara mendelik kaget, karena tingkah Morgan yang tiba-tiba. Per sekian detik, Morgan sudah memberikan Ara napas buatan, kemudian Ara melepaskan ciumannya itu.


Wajahnya terlihat menatap Ara dengan sinis. Seperti tidak ingin melihat sesuatu terjadi pada Ara.


Ara merasakan wajahnya yang kini bersemu merah. Ara malu sekali dengan semua orang yang melihat ke arah mereka, membuat Ara harus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Ayo,” ajak Morgan.


Ara hanya bisa mengangguk kecil menuruti kemauan Morgan, lalu bergegas pergi mengikuti langkahnya.


Ara pergi bersama Morgan menuju sebuah toko perhiasan nan indah.


Sebelum memasuki toko, ada beberapa security yang memeriksa mereka. Seperti saat sedang di bandara. Semua hal dari mereka diperiksa dengan alat sensor. Mungkin mereka khawatir, jika ada sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi nanti. Karena memang, toko perhiasan ini terbilang cukup besar dengan sistem keamanan yang cukup ketat, disertai dengan CCTV yang berada di setiap sisi toko.

__ADS_1


Ara masuk bersama Morgan dengan tasnya yang sudah dititipkan pada bagian keamanan.


Ara melihat sekelilingnya dengan senyuman. Semua perhiasannya sangatlah bagus, membuat Ara jadi ingin membelinya.


“Pilihin yang bagus, untuk Fla,” ucap Morgan dengan dingin.


Oh! Jadi, orang spesial itu adalah Fla? Aku jadi bersemangat untuk memilihkannya, pikir Ara.


Ara melihat-lihat sekelilingnya, dengan seksama. Ada banyak sekali model, dan pilihan yang bisa Ara lihat di sana.


Pilihan Ara jatuh pada kalung dengan berliontin bunga kecil. Terlihat manis, dan tidak terlalu mencolok. Cocok untuk Fla yang memiliki leher yang jenjang.


“Yang ini aja. Bagus banget. Designnya minimalis, tapi elegant kok. Terus juga penampilannya juga manis karena liontinnya yang kecil, jadi gak terlalu mencolok,” jelas Ara panjang lebar.


Morgan nampak berpikir sejenak.


Morgan menoleh ke arah pelayan yang ada di hadapannya, “yang ini, tolong bungkus Mbak,” pinta Morgan.


Pelayan itu mengangguk, lalu segera membungkusnya.


“Satu lagi. Cincin,” ucapnya.


Ara melihat ke arah Morgan dengan ragu, “gue gak tau ukuran jari manis Fla. Nanti kalau gue salah pilih, gimana?” tanya Ara dengan ragu.


Morgan hanya menatap ke arah Ara dengan tatapan yang dingin. Ara sangat tidak menyukai responnya itu.


‘Apaan sih, sok dingin banget jadi orang!’ batin Ara, yang agak risih dengan tatapan wajah Morgan yang masih sama seperti kali pertama mereka jumpa.


“Cocokin saja di jari manis kamu. Ukurannya pasti gak akan beda jauh kok,” jawab Morgan membuat Ara berpikir sejenak.


‘Kalau gak cocok kan … sayang banget,’ batin Ara yang masih berpikir keras, ‘ah tapi ... itu kan kemauan dia. Lagian juga pakai duit di juga. Yaudah lah,’ pikir Ara lagi.


“Yaudah. Jangan salahin gue kalo gak cocok di Fla, ya,” ancam Ara dengan nada setengah kesal.


Ara mulai memilih cincin yang terlihat bagus untuk dipakai oleh Fla. Tapi Ara bingung, semua modelnya sangat bagus dan mungkin saja cocok dipakai oleh Fla.


‘Yang simple, apa yang rame ya?’ batin Ara sembari tetap mencari model yang paling bagus, di antara yang bagus.


Matanya membulat ketika menemukan model yang cocok, “ahh ....”


Akhirnya Ara menemukan model yang cocok. Simple seperti cincin kawin dengan manik mata yang terang menyalah.

__ADS_1


“Yang ini aja,” tunjuk Ara.


Ara sudah tidak perlu lagi mencocokkan dengan jarinya. Karena Ara sudah tahu standar ukuran jari manisnya.


Setelah semuanya selesai, mereka segera bergegas untuk pergi dari tempat itu.


“Terima kasih,” ucap semua pelayan serempak.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, tak lupa membawa tas yang tadi Ara titipkan di pos keamanan toko itu.


Mereka berjalan sedikit ke arah eskalator yang berada tak jauh dari hadapannya. Morgan seperti tidak tahan menahan untuk buang air kecil. Morgan berusaha untuk merapikan barang-barangnya, jangan sampai barang-barang yang ia bawa tercecer.


Morgan menyodorkan semuanya ke arah Ara, “saya titip ini. Tunggu sebentar ya, saya mau ke toilet dulu,” pinta Morgan, membuat Ara mengangguk kecil padanya.


Ara mengambil barang-barang yang Morgan sodorkan. Morgan meninggalkan Ara sendiri di dekat eskalator.


Ara yang bosan, segera merogoh tasnya untuk mengambil handphone-nya.


Ara melihat-lihat galeri di handphone-nya.


“Kosong,” lirih Ara, yang sedang menatap sendu isi galerinya.


Biasanya, gadis seusia Ara sering sekali mengambil foto liburan, atau hanya sekedar ber-selfie ria saja. Tapi, tidak dengan Ara.


“Huft ….”


Ara menghela napas panjang. Sudah satu tahun berlalu, namun Ara masih saja merasa sakit, jika mengingatnya kembali.


Hal yang membuat Ara tidak ingin mengambil foto lagi.


Seandainya waktu bisa ia putar kembali, Ara ingin mengulang waktu, di mana Ara harus kehilangan orang yang sangat berharga baginya. Tentunya, penyebabnya adalah berfoto.


Ara menyadari, ini bukan sepenuhnya kesalahan alat untuk mengambil fotonya, tapi karena memang pengguna dari alat potret itu, yang membuat Ara semakin tidak bisa melupakannya, kalau saja ia masih terus mengambil potret dirinya.


Bayang-bayang kejadian itu masih terngiang di pikiran Ara, walaupun hanya samar. Tapi selama 1 tahun ini, Ara sudah mulai bisa mengikisnya sedikit-sedikit.


Jika teringat hal itu lagi, kepala Ara akan terasa seperti ingin meledak. Sakit yang tak bisa Ara tahan itu, pasti akan muncul kembali, dan pastinya akan memporak-porandakan seluruh bagian dari dirinya.


Hati Ara terenyuh, mengingat setiap kata yang Ara dengar dari mulut manisnya itu.


Sedikit bernostalgia kisah Ara dengannya, yang paling Ara cinta.

__ADS_1


__ADS_2