
Kini, Ara sudah selesai menghabiskan es krim yang ia beli dengan emosi itu. Ada perasaan puas di hatinya, karena sudah merasa lebih lega dari sebelumnya.
Ilham menatap ke arah Ara dengan perasaan senang, sembari terselip gestur tubuh yang mengatakan "ada-ada saja."
Ilham menunduk, merenungi nasib dirinya yang mungkin saja tidak akan pernah bisa maju lebih dari ini. Ia menyadari, kalau dirinya hanyalah sebuah tempat bersandar bagi Ara. Cepat atau lambat, jika Ara sudah kembali ke sikapnya semula, ia juga tidak akan punya alasan untuk bisa dekat seperti ini lagi dengan Ara.
Yang Ilham bisa lakukan saat ini, hanyalah menikmati kebersamaan ini, meski pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya akan berpisah kembali dari orang yang sudah ia sayangi sejak dulu.
...FLASHBACK ON...
Ilham yang kala itu masih berumur 18 tahun, memperhatikan Arasha yang saat itu masih berumur 8 tahun. Ara sedang memandangi ke arah cermin, dengan bersolek manja di hadapannya.
Kala itu, Ilham terkejut, karena Arasha yang masih sekecil itu, sudah bisa berdandan dengan style ala anak yang sudah berusia 20 tahun. Ara sudah dewasa sebelum waktunya.
Ia selalu memotret dirinya, menggunakan handphone milik Ilham, karena hampir setiap hari Ilham berkunjung ke rumah Arash, untuk sekedar bermain bersama Arash.
Walau Arash juga mengenal Morgan di usia 18 tahun, tetapi Morgan dan Ilham tidak saling mengenal, karena Ilham yang saat itu terlalu tertutup dengan semua yang menyangkut tentang dirinya. Ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan siapa pun, kecuali Arash, Ara dan Bunga pada saat itu.
Di saat Morgan datang ke rumah Arash untuk mengerjakan tugas sebelum kelulusan SMA, Ilham hanya bisa memperhatikan Morgan dari jauh, tanpa mengenal siapa namanya.
Sikap Ilham yang sangat introvert, bahkan lebih parah dari Morgan, membuatnya tidak bisa bergaul dengan siapa pun, kecuali Arash. Jika bukan karena dorongan ayahnya dan juga ibu dari Arash yang sudah saling mengenal, mereka mungkin tidak akan bisa dekat sampai saat ini.
Ilham sama sekali tidak bisa mengeluarkan ekspresi apa pun pada lawan bicaranya. Tapi, seiring berjalannya waktu, Ilham selalu memperhatikan cara Arash dan Bunga bercengkerama, dan bagusnya ia sudah mulai bisa bercanda bersama dengan Arash dan Bunga, pada saat itu.
Kisah selengkapnya tentang Arash, Bunga dan juga Ilham, akan author buatkan novel terpisah. Stay tuned.
Berawal dari sanalah, pertemuan antara Ilham dan Arasha. Bahkan sampai saat ini pun, Ilham masih saja menyimpan foto lucu Ara, yang kala itu masih berusia 8 tahun, tentu saja foto-foto itu diambil sebelum tragedi ayah dan ibu mereka terjadi.
Ilham sempat pergi bersama ayahnya ke luar Negeri, untuk sekadar menenangkan diri atas kematian Anggun, kala itu.
Yap! Ilham adalah anak dari Hans, pria yang digadang-gadang menjalin hubungan spesial dengan Anggun, ibu dari Arash. Hans hanya menjadi tempat bersandar untuk Anggun, saat Bram berlaku kasar padanya.
__ADS_1
Sama seperti saat ini. Ilham merasakan rasanya jadi ayahnya, yang menjadi tempat bersandar untuk Arasha di kala kegundahan Ara.
Tapi itu tidak masalah bagi Ilham, selama bisa tetap dekat dengan Ara.
...FLASHBACK OFF...
"Duh ... kenyang deh," gumam Ara, yang sudah merasa kekenyangan karena melahap seember es krim itu.
Ilham tersenyum, "bukannya saya yang makan lebih banyak? Kok jadi kamu yang kekenyangan?" goda Ilham, membuat Ara menoleh ke arahnya dengan tatapan malas.
"Ih Kak Ilham, bagi cewek tuh ya ... makan sedikit aja udah bikin dia kenyang. Yang penting seberapa sering dia makan, bukan seberapa banyak porsi dia makan," jawab Ara, membuat Ilham jadi gemas sendiri mendengar nada bicaranya yang lucu, akibat kekenyangan seember es krim.
'Duh ... gemes banget,' batin Ilham yang hampir tidak bisa menahan dirinya, untuk mencubit pipi chubby Ara.
"Iya deh, wanita selalu benar," gumam Ilham mengalah pada Ara.
Suasana menjadi hening seketika, membuat Ilham bingung harus berkata apa.
Melihat ekspresi Ara yang terkejut seperti itu, membuat Ilham mengaduh dalam hati.
"Biasa aja kali, Kak," ledek Ara, membuat Ilham tertawa kecil padanya.
"Ada apa?" tanya Ilham, Ara menghela napas panjang.
"Menurut Kak Ilham, aku harus gimana, ya, menyikapi tentang tuyul itu?" tanya Ara, yang mulai galau kembali.
Nampaknya, kekuatan seember es krim tadi, hanya mampu menahan rasa galau Ara selama satu jam lamanya.
'Duh, apa saya harus ngasih tambahan seember es krim lagi, biar dia gak sedih-sedih lagi seperti ini?' batin Ilham, yang mulai berpikiran melantur.
"Dalam segi apa?" tanya Ilham balik, supaya bisa mengerti dengan jelas, apa yang Ara maksud.
__ADS_1
"Aku harus gimana, menerima atau menolak? Jujur aja dalam hati kecil aku, kayak gak rela banget. Tapi di sisi lain, aku gak bakal bisa mengelak lagi, karena memang itu kenyataannya," lirih Ara sendu, membuat Ilham ikut terenyuh mendengarnya.
Ilham menafikan pandangannya dari Ara, "kalau bagi saya, memiliki adik itu adalah anugerah terindah," jawab Ilham, membuat Ara menoleh ke arahnya dengan perasaan sedih.
Ara memperhatikan cara Ilham berbicara, seperti malah jadi Ara yang sedang mendengarkan keluh-kesah dari Ilham.
"Saya malah ingin sekali memiliki adik, supaya saya tidak kesepian, saat ayah pergi kerja. Saya ingin menghabiskan waktu bersama dengan adik saya, pada masa kecil saya saat itu. Karena, ibu saya yang sudah meninggal, saat melahirkan saya," lirih Ilham, membuat Ara tersentuh dengan perkataannya.
Ilham menoleh ke arah Ara, "tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir saya, yang memang harus menyendiri," lirih Ilham, membuat mata Ara membulat seketika.
Sepertinya, Ara mendapat pelajaran dari kisah hidup Ilham, yang baru ia ketahui. Ia merasa tersentuh dengan setiap perkataan Ilham. Sejak pagi tadi, hingga saat ini, Ilham selalu bisa membuat pikiran Ara menjadi terbuka lebar.
Ara yang merasa malu, segera menundukkan kepalanya, karena ia sudah berusaha melawan takdir yang diberikan Tuhan untuknya.
Ara bukan hanya satu kali melawan takdir, tapi beberapa kali. Sesuatu yang ia benci, pada akhirnya malah sangat ia cintai.
Apakah Ara akan merasakan itu juga pada Aresha?
"Drtttt ...."
Ilham terkejut, mendengar getar dari handphone-nya, yang ia letakkan di atas meja. Ia segera melihat notifikasi tersebut.
"Sudah ketemu dengan Ara? Tolong segera pulang ya, jaga Ares, saya ada urusan sebentar." Isi pesan dari Arash.
Ilham segera menoleh ke arah Ara, "sebaiknya, kita pulang sekarang, ya?" lirih Ilham, membuat Ara menganggukkan kepalanya.
Ilham segera bangkit untuk berjalan, namun Ara menahan tangannya, membuat ia membulatkan matanya.
"Makasih ya, Kak Ilham," gumam Ara, sukses membuat Ilham melongo kaget.
Ara meninggalkan Ilham di sana, dan lebih dulu menuju ke arah mobil Ilham.
__ADS_1