
Saat ini, Ares sudah tertidur dengan lelap. Arash menatap ke arahnya dengan sendu, karena perasaannya saat ini sangat campur aduk.
Arash masih saja mengingat ucapan Ares tadi. Ia masih bimbang, apakah ia harus memberitahu masalah ini pada Ara?
Arash mengecup singkat kening Ares, dan menarikkan selimut untuknya.
‘Biar bagaimanapun juga, dia adik saya,’ batin Arash, merasa tidak bisa bersikap acuh pada Ares.
Arash melangkah, menuju sebuah kafe yang berada di hotel tempat ia menginap.
Pada meja bar, terlihat Bunga yang sedang memutar pelan gelas yang ada di tangannya itu. Dengan ragu, Arash melangkah ke arahnya, dan segera duduk di sebelahnya.
Bunga menoleh, “lama sekali,” lirih Bunga.
“Ares baru tidur,” jawab Arash tanpa melihat ke arahnya.
“Absinth,” lirih Arash pada pelayan bar, membuat Bunga mendelik kaget.
“Kamu yakin ingin memesan peri hijau itu? Dengan 68% sampai 90% kadar alkohol, gak akan baik buat tubuh kamu yang sedang tidak mendukung,” ucap Bunga, membuat Arash menoleh ke arahnya.
“Tidak usah pedulikan saya,” lirih Aras dengan ketus, membuat Bunga mendelik mendengarnya.
Bunga menyunggingkan senyumnya, “kamu masih sama saja, tidak pernah berubah dari dulu,” lirih Bunga, yang diindahkan oleh Arash.
Pesanan Arash siap, Arash langsung menenggak habis dan melakukan one shoot, membuat Bunga semakin mendelik tak percaya.
“Kamu gila?” tanya Bunga, Arash masih tidak mempedulikannya.
Arash berusaha menahan perihnya alkohol yang sekaligus masuk ke dalam kerongkongannya itu. Dadanya kini terasa panas, seperti terbakar. Rasa dari segelas absinthe ini, membuat Arash perlahan kehilangan kesadarannya.
“Jangan ganggu!” bentak Arash, yang sepertinya sudah mulai terganggu karena efek dari absinthe itu.
“Hmm ... kamu masih belum berubah, sejak sepuluh tahun lalu,” lirih Bunga, yang segera menunduk.
“Jangan bicara yang tidak perlu dibicarakan! Masa lalu, biarlah berlalu. Sekarang, saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kamu,” lirih Arash, membuat Bunga semakin merenungkan diri.
“Maaf tentang masa yang sudah lalu,” lirih Bunga, membuat Arash menyunggingkan senyumnya.
“Tiada kata maaf bagimu,” jawab Arash dengan lantang, membuat air mata Bunga menggenang seketika di pelupuknya.
“Saya tahu, saya gak pantes buat dapetin maaf dari kamu,” lirih Bunga, tapi Arash hanya diam, tak membalas ucapan apa pun darinya.
__ADS_1
Arash kembali menuangkan absinthe itu ke dalam gelas kecilnya.
“Lantas, kenapa meminta maaf, jika sudah tahu jawabannya,” lirih Arash tajam, lalu kembali menenggak habis segelas absinthe secara langsung.
Arash kembali menuangkannya ke dalam gelasnya, membuat Bunga kesal, lalu menarik botol yang Arash genggam.
“Sudah, jangan tambah lagi!” bentak Bunga, membuat Arash mendelik ke arahnya.
“Sudah cukup hati saya aja yang kamu tahan, tapi jangan tahan minuman saya!” Arash membentak Bunga, membuat Bunga mendelik kaget karena tak percaya dengan apa yang Arash katakan.
Arash dan Bunga, dulunya adalah dua sejoli yang sangat bahagia saat mereka masih seusia Ares saat ini. Arash selalu memperhatikan Bunga, karena Bunga adalah satu-satunya teman sepermainan Arash, yang selalu menemani Arash dalam situasi apa pun.
Entah kenapa semuanya terasa sangat complicated bagi mereka.
Kebaikan Arash selama ini, ternyata disalahgunakan oleh Bunga. Arash sengaja mengajak Bunga untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya, agar dirinya bisa menjadi semakin dekat dengan Bunga.
Tapi tak disangka, kejadiannya justru berbanding terbalik. Bunga memang semakin dekat, tapi bukan dengan Arash, tetapi dengan ayahnya.
Kejadian di mana Arash bertengkar hebat dengan ayahnya itu, tak luput dari rasa kesalnya terhadap ayahnya, selain karena ibunya yang sudah disiksa, Arash juga kesal karena kekasihnya yang usianya sebaya dengan Arash, justru malah berselingkuh dengan ayahnya sendiri.
Bisa dibayangkan, betapa hancurnya hati Arash saat itu.
Sampai saat ini pun, Arash masih belum mengerti, apa motif Bunga untuk menerima cinta dari ayahnya itu, bahkan berani menjadi simpanan dari ayahnya.
Arash kembali menenggak habis gelas ketiganya itu.
Sepertinya, ia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Arash memang tidak pernah setengah-setengah dalam hal meminum alkohol.
“Kamu tahu tidak? Bagaimana hancurnya saya saat itu?” lirih Arash membuat Bunga mendelik.
“Tes ....”
Air mata berhatuhan dari pelupuk mata Bunga, membuat hatinya tersayat, hanya dengan mendengar sedikit ucapan Arash saja.
Arash menyunggingkan senyumannya, “jawabannya pasti tidak,” lirih Arash, kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas keempatnya.
“Saya ... saya--”
“Tidak ada yang perlu disesali. Itu semua sudah menjadi jalan antara saya dan kamu. Saya juga gak pernah membenci Ares, kok,” lirih Arash, yang semakin membuat Bunga mendelik.
“Tapi untuk kembali lagi seperti dulu, maaf ... saya rasa itu gak akan pernah bisa,” lirih Arash, sukses membuat tangis Bunga pecah seketika.
__ADS_1
“Glekk ....”
Arash kembali menenggak habis gelas keempatnya, membuat kepalanya mulai terasa cukup berat.
“Maaf.”
Hanya itu yang bisa Bunga ucapkan, tak ada kata lain.
“Kamu sudah merawat Ares dengan baik saja, saya sudah senang,” lirih Arash, membuat Bunga menundukkan kepalanya.
Arash melihat ke arah Bunga. Ia melihat Bunga yang ia lihat pada sepuluh tahun silam. Ia merasa terlahir kembali saat ini.
Minuman ini membuat efek halusinasi untuk penggunanya.
Tidak salah lagi, Arash saat ini sudah merasakan efek halusinasi itu.
Arash mencoba membenarkan pandangannya yang kabur akibat meminum absinthe ini secara terus-menerus, dan langsung. Halusinasi membanjiri pikirannya saat ini.
Teringat momen indahnya bersama dengan Bunga, saat mereka masih berusia 18 tahun, tepatnya pada 10 tahun lalu.
Arash tersenyum ke arah Bunga yang saat ini sedang menangis di hadapannya. Bunga hanya memandangnya dengan tatapan sendu.
Seketika pandangan Arash berubah, menjadi Jessline yang berada di hadapannya saat ini.
Arash mencoba untuk membenarkan pandangannya lagi, berusaha melihat dengan jelas, apa yang ia lihat saat ini.
“Jessline!” teriak Arash pada Bunga, membuat Bunga mendelik kaget mendengar Arash mengucapkan nama Jessline di hadapannya.
“Siapa itu, Jessline?” lirih Bunga, membuat Arash tertawa.
Bunga mendelik, “siapa Jessline yang kamu maksud itu?” lirih Bunga tak percaya dengan Arash, yang sudah menyebut gadis lain di hadapannya.
“Dia ... gadis yang saat ini sedang berada di hadapan saya. Dia itu, kamu!” jawab Arash yang sudah melantur.
Bunga yang ada di hadapannya saat ini, terlihat seperti Jessline dalam pandangan Arash, membuatnya sedih ketika melihat Jessline yang sedang menangis di hadapannya saat ini.
“Ada apa, kenapa kamu menangis, Jessline?” tanya Arash dengan nada yang sangat sendu, membuat Bunga memandangnya dengan heran.
“Sudah, kamu sudah terlalu mabuk. Ayo, saya antar kamu ke kamar hotel,” lirih Bunga, yang langsung mengambil sikap untuk memapah Arash, menuju ke kamar hotelnya.
...***...
__ADS_1