Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Puncak Emosi


__ADS_3

"Brakkk ...."


Morgan seketika melempar handphone-nya secara sembarang, ke arah hadapannya.


Matanya mendelik, hidungnya pun kembang-kempis dibuatnya, kenapa aku begitu kesal melihat pemandangan seperti ini? Pikir Morgan.


Tanpa berpikir panjang, Morgan segera melajukan mobilnya untuk menjauh dari rumah Ara.


Morgan sekilas melihat ke arah spion mobilnya. Terlihat Ara yang sedang berusaha memanggil dirinya daru kejauhan.


Dicky pun ikut menyadari apa yang Ara perbuat, "Ara manggil kita ...," lirih Dicky.


Morgan tak menghiraukan dan malah menambah kecepatannya dalam berkendara.


Saat ini, hati Morgan terasa sangat sakit hanya karena melihat gadis yang ia cintai, sedang bersenda gurau dengan orang lain di telepon.


Dengan malam yang sudah selarut ini, wajar saja pikiranku berpikir yang bukan-bukan, pikir Morgan yang masih menahan rasa jengkelnya terhadap Ara.


Baru saja, Ara merasa handphone-nya seperti bergetar saat sedang menelepon Hatake. Ara sekilas melihat layar handphone-nya, dan tertera panggilan tak terjawab sebanyak 7 kali dari Morgan, membuat Ara mendelik kaget karenanya.


"Hah? Panggilan dari Morgan?" gumam Ara yang kaget ketika melihat notifikasi itu.


Tiba-tiba saja, Ara mendengar suara laju kendaraan. Buru-buru ia menuju ke arah sumber suara.


Terlihat mobil hitam yang tak asing baginya. Ya! Itu adalah mobil Morgan.


Ara mendelik sembari berlarian ke arah luar gerbang rumahnya, jadi sejak tadi, ia menungguku di depan pagar? Kenapa dia tidak masuk saja ke dalam? Kenapa dia malah memata-matai aku dari luar? Apa dia melihat aku sedang menelepon dengan Hatake? Pikir Ara merasa khawatir dengan dirinya.


"Morgan!" pekik Ara dengan sangat kencang, tapi Morgan terlihat malah semakin berjalan dengan cepat.


Aku merasa bersalah, kalau memang benar dia melihat aku tertawa seperti tadi, dan bahkan sampai mengabaikan dirinya, pikir Ara yang menyesali perbuatannya sendiri.


Ara terdiam sembari melihat mobil Morgan yang perlahan menghilang dari hadapannya.


Sepertinya akan ada masalah yang bisa membuat hubungan kami retak, pikir Ara.

__ADS_1


"Halo, Ra ...."


Terdengar suara seseorang dari telepon yang Ara genggam. Ara tiba-tiba saja teringat dengan Hatake, yang masih menelepon dengannya. Ara kembali mendekatkan handphone-nya ke arah telinganya.


"Iya ...," gumam Ara dengan lirih, yang masih berfokus dengan mobil Morgan yang sudah tak terlihat itu.


"What's wrong?" tanya Hatake bingung dengan keadaan Ara saat ini.


Mendengar pertanyaan Hatake, Ara sudah tidak bisa melanjutkan percakapannya dengan dirinya. Ara merasa ada yang perlu ia luruskan dengan Morgan.


"Nanti lagi ya. Udah malam aku ngantuk. Bye Hatake," ucap Ara dengan nada yang datar, sembari menutup teleponnya.


Ara benar-benar merasa bersalah dengan Morgan.


"Duh ... Morgan pasti marah banget deh sama gue," lirih Ara dengan nada bersalah.


Dengan langkah yang gontai, Ara kembali ke pelataran rumahnya, khawatir kalau ia berlama-lama di luar dengan keadaan yang sudah selarut ini, nanti akan ada orang yang berusaha berbuat jahat padanya.


Ara duduk di kursi balkon, sembari melihat ke arah layar handphone-nya.


"Aduh gimana ini? Gimana caranya supaya bisa ngejelasin semuanya ke Morgan?" gumam Ara dengan lirih, yang resah dengan keadaan.


Ara teringat dengan Fla, apa aku coba menelpon dia saja ya? Siapa tahu, Morgan sudah sampai di rumahnya, pikir Ara.


Aku mulai menghubungi Fla dan menunggu dirinya untuk mengangkat telponnya. Setelah beberapa lama, sampai telepon itu otomatis mengakhiri, Fla tak kunjung mengangkat teleponnya. Perasaan gelisah semakin menyelimuti diri Ara.


"Kenapa Fla juga nggak bisa dihubungin? Apa dia juga udah tidur?" lirih Ara bertanya-tanya.


Ara merenung sejenak. Hatinya kini terasa sangat sesak, karena dirinya yang tak sengaja, sudah membuat kesalahpahaman antara ia dan juga Morgan.


Ara menggigit pelan bibir bawahnya, "apa aku telepon Morgan langsung?" gumam Ara lirih, lalu segera menghubungi nomor Morgan.


"Dringggg ...."


Handphone Morgan pun berdering seketika, saat dirinya masih di perjalanan menuju arah pulang.

__ADS_1


Morgan melirik ke arah handphone-nya yang keadaannya menelungkup sehingga ia tidak bisa melihat siapa yang menelponnya.


Morgan berusaha menahan diri, agar tidak melihat siapa yang menelpon, dan fokus saja untuk menyetir. Sampai akhirnya handphone-nya pun berhenti berdering.


Morgan melirik kecil ke arah Dicky, yang juga sedang melirik ke arah Morgan.


Mungkin ia berpikir sebaliknya dari yang sedang aku pikirkan saat ini, pikir Morgan menerka-nerka.


Morgan kembali fokus ke arah kendaraannya. Suasana pun kembali rancu. Morgan kemudian mengubah mode kendaraannya menjadi mode otomatis, sehingga ia tidak harus mengemudikannya sendiri. Morgan pun meregangkan tubuhnya untuk sekadar melepas penat.


"Dringggg ...."


Tiba-tiba saja handphone Morgan berdering kembali. Lagi-lagi Morgan berusaha keras untuk menahan diri, agar ia tidak mengangkat telepon itu.


Aku tahu itu pasti telepon dari Ara, pikir Morgan yang sudah sangat yakin dengan tebakannya.


Handphone Morgan pun kembali senyap. Ia kini sudah melewatkan kali kedua telepon dari Ara.


Ada sedikit penyesalan dari hati Morgan, karena dirinya yang memang sejujurnya tidak tega berbuat seperti itu. Tapi nahas, ia sedang bersama Dicky saat ini. Morgan tidak ingin Dicky berpikir yang tidak-tidak tentangnya, dan juga ia sudah malas mendengar ocehan Dicky.


"Dringggg ...."


Handphone Morgan kembali berdering. Ini adalah kali ketiga Ara menelponnya. Karena merasa tak tega, Morgan pun berusaha meraih handphone-nya yang ada di hadapannya. Tapi dengan cepatnya, Dicky tiba-tiba mengambil alih handphone Morgan.


Morgan menatapnya dengan tatapan kesal, "lho, kenapa diambil?" tanya Morgan dengan nada yang sedikit kesal.


Dicky melihat ke arah layar handphone Morgan, "saya tahu, kamu masih nggak rela kan, kalau lepas kontak sama cewek itu?" bidiknya yang tepat sasaran, membuat wajah Morgan seketika menjadi panas setelah mendengar ucapan Dicky.


"Kata siapa? Saya cuma khawatir kalau itu telepon dari Prof Handoko. Udah, itu aja kok," Morgan sedikit membuat alibi padanya.


Aku tidak mau terlalu disebut sebagai pria yang takut dengan wanitanya. Dia pasti akan terus-menerus meledek atau malah memarahiku, pikir Morgan yang sudah berpikiran buruk terhadap Dicky.


Dicky menghela napasnya, "gak usah banyak berkilah, Gan. Saya tau kok dari tingkah laku dan sorot mata kamu. Percuma juga kamu menyimpan rahasia, kamu nggak akan bisa bohongin saya, Gan. Saya tahu dengan jelas apa yang kamu lakuin sekarang dan apa yang lagi kamu rasakan," bantahnya dengan tegas.


Morgan hanya memandangnya datar, tidak bisa berkata apa pun lagi, karena percuma saja ia berbohong, Dicky pun sudah tahu semua gerak-gerik dirinya, dan tidak akan percaya pada semua perkataan dan alibinya.

__ADS_1


__ADS_2