
Pagi menyapa.
Ara membuka matanya dan melirik ke arah jam dinding yang berada di sebelah kanannya. Ia berusaha membenarkan pandangannya, hingga ia terkejut karena melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
"Hah, jam 9?!" pekik Ara.
Ara yang terkejut, segera bangkit dari tempat tidurnya. Ara berlarian menuju ruang tamu untuk melihat keadaan Morgan beserta kawan-kawannya.
Langkahnya tiba-tiba saja terhenti, karena di sana, Morgan dan yang lainnya sudah lebih dulu bangun dari tidurnya, membuat Ara terdiam sejenak.
Morgan menoleh ke arah Ara, "selamat pagi, cantik," sapa Morgan yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya.
Melihat keadaan mereka yang baik-baik saja, Ara menghela napas karena lega, ternyata efek minum semalam tidak sampai membuat mereka tidur seharian. Hal itu membuatku bingung! Sebenarnya, siapa di sini yang mabuk? Kenapa mereka bangun begitu pagi lebih pagi dari aku yang tidak mabuk? Pikir Ara yang terheran dengan keadaan.
"Good morning, Ara!" sapa Naoki yang terlihat sangat senang.
Ara melontarkan senyum hangatnya pada Naoki, "selamat pagi untuk kalian semua," ucap Ara dengan ramah.
"Kemarilah, saya sudah menyiapkan makanan untuk kamu," panggil Morgan, membuat Ara mengangguk kecil, kemudian bergegas menghampiri Morgan dan duduk di sebelahnya.
Di meja, kini sudah tersedia makanan yang Ara ketahui bernama ramen. Matanya berbinar, kebetulan sekali dirinya sudah sangat lapar sejak kemarin.
"Wah ... ini kayaknya sih enak," gumam Ara lirih, sembari berdecak kagum.
Morgan tersenyum dan langsung memberikan Ara seporsi ramen dan juga sepasang sumpit. Ara pun mengambilnya dengan senang hati.
"Ramen ini khusus saya pesankan langsung dari restoran saya. Semoga saja rasanya tidak mengecewakan," ucap seorang laki-laki bernama Hito itu.
Spontan, Ara langsung menoleh ke arah Morgan.
Morgan yang mengetahui kalau Ara tidak mengerti bahasanya, segera mempersiapkan diri, "katanya ramen ini khusus dia pesankan langsung dari restoran miliknya. Sebagai informasi, dia adalah pemilik kedai ramen terkenal. Dan katanya semoga rasanya tidak mengecewakan," ucap Morgan menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari Morgan, Ara pun mengangguk paham, untung saja Morgan cekatan dan segera memberitahu arti dari ucapan yang Hito ucapkan barusan, pikir Ara.
"Oh begitu. Ngomong-ngomong, Apa mereka nggak bisa Bahasa Indonesia? Aku lelah dengar mereka berbicara Bahasa Jepang," lirih Ara deng kesal, Morgan sampai tertawa mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
"Mereka tinggal di Jepang. Lahir dan tumbuh di Jepang. Apa alasan mereka untuk belajar Bahasa Indonesia?" jawaban Morgan sama saja seperti jawaban wanita itu, sama-sama membuat Ara selalu terjebak.
Apa seperti ini pandangan mereka sebagai orang dewasa kepadaku yang mungkin saja dianggap kecil olehnya? Pikir Ara.
Ara tidak bisa menjawab ucapan Morgan. Ara hanya menyedekapkan tangannya dan memanyunkan bibirnya saja di hadapan Morgan.
"Kamu tenang aja ya. Saya pasti akan selalu jadi kamus kamu kok!" ucap Morgan yang berhasil membuat hati Ara sedikit terpukau karenanya.
Ara tersipu, kalau dipikir kembali, ternyata aku sangat beruntung karena bisa memiliki Morgan yang banyak mengetahui segalanya yang tidak aku ketahui. Jadi, sedikit banyaknya aku bisa bertanya kepada Morgan hal yang tidak aku ketahui. Membayangkannya saja, sudah sangat menyenangkan. Tidak hanya itu, mungkin saja Morgan bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Eh ... anak-anak kami maksudnya, pikir Ara.
"Mesra sekali! Mari makan," ucap Naoki yang terdengar setengah meledek, membuat Ara bingung dengan yang Naoki ucapkan.
'Kok dia tau sih artinya?' batin Ara yang tak habis pikir dengan Naoki.
"Bawel banget," ceplos Morgan.
"Kenapa?" tanya Ara berbisik.
"Kita diomelin! Disuruh makan katanya," jawab Morgan kembali berbisik, membuat Ara sempat tertawa karna perkataan Morgan.
Ara pun menyantap makanan yang sudah disediakan, "mmm ...enak!" ucap Ara spontan dalam Bahasa Jepang, setelah merasakan ramen yang dibawa oleh Hito.
"Dia sudah pandai sekarang," gumam Naoki dengan tawanya.
Morgan melihat ke arah Ara, sembari tersenyum tipis.
"Bodoh," lirih Morgan dengan tatapan yang aneh, Ara mengernyitkan dahinya.
"Kamu ngomong apa!" ucap Ara kesal, karena Morgan tertawa dihadapannya.
"Itu artinya, kamu cantik," jawab Morgan yang terdengar tidak masuk akal.
Ara mendelik, aku sangat mengetahui cantik dalam Bahasa Jepang. Bukan itu yang artinya, pikir Ara.
"Bohong! Cantik itu bahasa Jepangnya Kirei. Kamu kenapa jadi bohongin aku kayak gini, sih?" sinis Ara, yang kesal kepada Morgan, namun Morgan berusaha menenangkan Ara.
__ADS_1
"Duh ...," gumam Morgan yang gemas dengan reaksi Ara.
"Selamat pagi semua!" Seseorang tiba-tiba saja datang dan menyapa mereka, membuat Ara spontan melirik ke arahnya.
Terlihat Junhey yang sedang membawa koper membuat Ara mendelik, sedang apa dia? Pikir Ara.
"Ah. Ohayō"
"Ohayō."
Morgan mendelik, "kenapa kamu membawa koper?" tanya Morgan yang bingung, karena terlihat pakaiannya yang sangat rapi.
"Aku harus kembali untuk pekerjaanku. Aku hanya penasaran melihatmu waktu itu di pesawat, dan memutuskan untuk mengambil cuti," ucapnya menjelaskan, yang sama sekali tidak masuk akal.
Morgan hanya memandangnya datar.
"Ayolah, jangan seperti itu. Kita sudah lama tidak bertemu. Harusnya kamu senang karena dia sampai meluangkan waktu untuk bertemu denganmu. Karena dia, kita jadi bertemu seperti ini sekarang," ucap Naoki yang terkadang ada benarnya.
Morgan menghela napas ringan, dan mengubah sikapnya.
"Baiklah mau aku antar ke bandara?" tanya Morgan yang menurunkan sedikit rasa egoisnya, membuat Junhey tersenyum mendengarnya.
"Tidak perlu repot-repot. Aku akan mengantar Junhey sampai bandara," sambar Hito yang terdengar seperti orang yang sangat cemburu, sampai Morgan dibuat terkekeh olehnya.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Morgan semaksimal mungkin untuk meminimalisir segala bentuk kesalahpahaman antara mereka.
Junhey tertawa kecil, "aku tahu aku cantik. Tidak usah kalian memperebutkan aku," tukas Junhey dengan sangat percaya diri, sampai-sampai Morgan dibuat jijik sendiri mendengarnya.
"Beberapa tahun lagi, jika pacarnya Morgan mendengar ucapan Junhey tadi, pasti akan terjadi masalah besar. Untung saja dia belum mengerti bahasa kamu," ledek Naoki.
Tawanya pecah, sehingga membuat Ara terlihat kebingungan.
"Kenapa? Kok pada ketawa?" tanya Ara bingung.
Morgan tertawa kecil, ternyata benar dugaan Naoki. Ya, siapa sih yang tidak bingung kalau tiba-tiba seseorang tertawa tanpa ia tahu apa penyebabnya? Pikir Morgan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ara. Kamu jangan tersinggung ya? Kami hanya sedang bercanda," ucap Naoki menjelaskan pada Ara, namun Ara terdiam sejenak kemudian tersenyum ke arahnya.
"Junhey akan kembali dinas sebagai pramugari. Kemarin dia mengambil cuti untuk sekedar bertemu dengan teman-teman lamanya, termasuk juga saya. Jadi Junhey kemari untuk berpamitan dengan kami, termasuk juga berpamitan dengan kamu. Segala permasalahan kami yang ada sudah terselesaikan dan kami sudah menjalani kehidupan pertemanan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya harap, kamu bisa berteman baik dengan Junhey suatu saat jika kita dipertemukan kembali. Untuk lebih detailnya, nanti akan saya jelaskan ke kamu," ucap Morgan menjelaskan dengan panjang lebar.