
Jess ingin menjalani kehidupan dengan normal, seperti kebanyakan gadis lainnya. Masa lalu suramnya, membuat dirinya menjadi sangat tertekan. Tidak ada yang ingin berteman dengannya, karena ibunya yang tidak mempunyai apa pun saat itu.
Mari membahas sedikit tentang masa lalu Jess, sebelum ibunya menikah dengan ayah Morgan saat ini.
...-FLASHBACK ON-...
Saat itu, Jessline bukanlah seorang gadis yang cantik seperti saat ini. Gayanya jauh dari kata high class, rambutnya selalu dikuncir kuda, dengan mengenakan kacamata bulat berwarna hitam.
Jess saat itu, adalah Jess yang sangat jauh dari kata sempurna. Ia sama sekali tidak memiliki masa depan yang cerah, seperti kebanyakan gadis lainnya.
“Pergi sana, kita gak sudi main sama orang yang gak punya harta, apalagi kamu juga gak punya ayah. Nanti kita ketularan miskin lagi,” cela salah satu teman dari Jess, membuat Jess merenungkan diri ketika mengingat kejadian itu lagi.
Saat itu, Jess sedang bersama dengan ibunya, yang sedang membersihkan lantai gubuk sederhananya itu.
“Bu, kenapa sih aku dilahirkan dengan keadaan miskin seperti ini? Kenapa aku gak pernah ngelihat ayah aku sih, Bu?” tanya Jess tiba-tiba, yang membuat ibunya mendelik kaget, ketika mendengar ucapan Jess.
“Jangan berbicara seperti itu. Mudah-mudahan suatu saat, derajat kita diangkat, dan tidak hidup dalam kesengsaraan seperti ini lagi,” bantah ibunya, membuat Jess merasa kesal, karena harus terus bersabar mendengar hinaan dari mereka semua yang tidak menyukai Jess.
Sampai akhirnya Jessline diajak ibunya ke suatu rumah yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Hari itu, adalah hari pertama dirinya bertemu dengan anak gadis sebayanya.
Jess memandang dengan tatapan sinis, karena seorang pria yang baru-baru ini meminta dirinya untuk memanggilnya dengan sebutan “ayah”, selalu lebih menyayangi gadis itu, dibandingkan dirinya.
Sejak dulu, Jess ingin sekali mempunyai seorang ayah yang bisa ia banggakan. Tapi, ternyata dirinya bukan satu-satunya. Apalagi hadirnya Lian, dan juga kepulangan Morgan dari Jepang, semakin membuat Jess terhempas dari keluarga itu.
Dalam hati kecil Jess, ia ingin sekali mempunyai keluarga seperti teman-temannya yang lain. Tapi semua nampak berbeda, ketika semua itu sudah benar-benar terjadi padanya.
Tapi yang buruk tidak selamanya buruk. Semua orang jadi ingin berteman dengannya sekarang, karena dirinya yang sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia sengaja mengubah dirinya menjadi lebih cantik dari sebelumnya, agar bisa lebih diperhatikan oleh orang lain, terutama dari lawan jenisnya.
Itulah yang membuat Jess lebih sering menghabiskan waktunya di clubbing daripada di rumahnya.
...-FLASHBACK OFF-...
“Hmm … baiklah, apa kamu bisa bekerja sama dengan kami, supaya bisa menggiring Aca dan yang lainnya untuk mengakui kesalahannya?” tanya Morgan, tapi Jess hanya terdiam.
Dicky menoleh ke arah Morgan, “sepertinya semua pangkal permasalahannya karena kamu, Gan,” bidiknya.
“Lho, kenapa bisa berasumsi seperti itu?” tanya Morgan yang masih belum sadar.
“Ya, setelah diteliti lagi, memang sudah jelas semuanya karena kamu. Mereka memperebutkan semuanya tentang kamu, dan juga bocah bernama Bisma itu. Tidakkah kamu berpikir, kalau semua ini secara tidak sengaja menjadi runtut, jika diurutkan dari pangkalnya?” tanya Dicky, membuat Morgan terdiam sejenak.
__ADS_1
“Atau jangan-jangan, Tuhan sedang mengutuk kamu, karena kamu terlalu tampan?” ucap Dicky asal, membuat Morgan menjadi semakin kesal mendengarnya.
“Sudahlah, Dik, jangan berasumsi yang tidak-tidak,” ucap Morgan yang berusaha untuk memperingatkan dirinya.
“Baiklah, permasalahan untuk kasus yang dituduhkan pada Jess, sudah selesai. Jess tidak terlibat dalam urusan kali ini,” ucap Dicky, menyudahi penyelidikan kasus ini.
“Boleh saya pergi?” tanya Jess.
“Tunggu, ada yang harus kamu kerjakan,” ucap Morgan, membuat semua mata tertuju padanya.
...***...
Mereka sudah keluar dari ruangan Morgan. Kini, hanya tinggal Morgan sendiri saja yang berada di ruangan ini.
Seluruh persoalan yang terjadi padanya,
Morgan tak sengaja melihat ke arah barang yang Jess lemparkan tadi.
Terlihat kotak hadiah berwarna merah hati dengan pita di bagian atasnya. Morgan pun memandangnya dengan saksama.
Apa aku harus membukanya, atau tidak? Pikir Morgan yang bimbang dengan keadaan.
Ia masih berpikir keras untuk langkah yang akan ia ambil.
Tidak ada salahnya sih, untuk membuka kotak ini. Aku jadi sedikit penasaran dengan isi dari kotak ini. Memang ukurannya tidak terlalu besar, dan juga tidak kecil. Tidak mungkin isinya bom, kan? Pikir Morgan dengan segala rasa penasaran yang melanda.
Morgan memutuskan untuk membuka kotak itu. Ia membukanya dengan cepat.
Setelah berhasil dibuka, terlihat dua kotak kecil di dalam kotak pertama. Morgan kembali membuka kotak kecil itu.
Matanya membulat sempurna, “hah?” Morgan terkejut saat melihat isinya adalah dompet berwarna navy yang sangat mirip dengan dompet lama milik Morgan. Dari warna, serta model.
Kenapa dia bisa tahu betul dompet yang dulu pernah aku pakai ini? Pikir Morgan yang tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Enggak, ini pasti cuma kebetulan aja,” lirih Morgan.
Morgan menoleh ke arah kotak yang satunya, “satu lagi!” Morgan segera membuka kotak yang satunya lagi.
Terlihat jam tangan dengan model yang sama dengan yang dulu pernah Morgan kenakan. Ia pun menatap jam tangan yang sedang ia pakai di pergelangan tangan kirinya, yang tak lain adalah jam tangan yang ia temukan saat kencan bersama Ara waktu itu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Morgan, karena ia tidak bisa menemukan perbedaan selain warna dari dompet dan jam tangan ini.
Bisa-bisanya dia sampai sedetil ini memberikan hadiah padaku, pikir Morgan.
Morgan merogoh isi dari kotak besar tadi. Rupanya, masih ada sesuatu di dalamnya.
Terdapat amplop berwarna hitam di sana. Morgan yang sudah terlanjur penasaran, akhirnya berusaha membukanya, dan membaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.
“Hai, Marmut. Apa kabar? Lama gak jumpa. Hari ini, aku tunggu di taman kota jam 7 malam.” Isi dari pesan ini.
Morgan mendelik tak percaya.
Morgan sangat shock mendengar kata “Marmut”. Ia tak percaya dengan apa yang sedang ia baca kali ini.
Yang memanggilku marmut, hanyalah Putri. Tak ada lagi yang memanggilku dengan panggilan itu, selain dirinya, pikir Morgan.
Morgan meremas rambutnya, berusaha menenangkan dirinya yang sudah tidak keruan itu.
Tenang, aku tidak ingin, hal sepele ini membuat diriku terancam karena shock. Bisa-bisa, aku terkena serangan jantung! Pikir Morgan.
Morgan berusaha melihat kembali barang-barang yang ada di hadapannya, “yang saya lihat ini, benar kan?” lirih Morgan bertanya-tanya pada keadaan.
Ia sama sekali tidak mengerti dengan yang ia lihat ini.
Apakah Putri masih hidup? Siapa yang mengetahui nama panggilan yang hanya Putri yang tahu? Pikir Morgan mendelik tak percaya dengan yang ia lihat.
Tangan Morgan terasa dingin. Sekujur tubuhnya pun ikut menggigil.
Apa benar dugaanku? Atau ini hanyalah halusinasi karena aku sedang merindukan Putri, atau efek dari alkohol? Tapi kalau ini halusinasi, hadiah ini tidak akan bisa sampai di tanganku saat ini. Lagi pula, dia sudah begitu niatnya untuk memberikan hadiah yang sama persis dengan yang Putri berikan dulu padaku. Dan juga, Ara dan Meygumi yang tidak sengaja juga memberikan jam yang sama padaku. Kenapa mereka sangat tidak kreatif? Pikir Morgan.
“Gak mungkin kan, kalau Putri masih hidup?” lirih Morgan.
“Ya, gak akan mungkin!” Morgan meyakinkan dirinya sendiri yang sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi.
Morgan mendelik karena teringat dengan Ara, “jangan sampai Ara tahu tentang masalah ini!” lirih Morgan.
Ia segera membereskan seluruh barang-barang yang ada di atas mejanya. Ia menggabungkannya menjadi satu seperti semula.
...***...
__ADS_1