
“Tapi kalau ternyata loe ninggalin gue gimana? Apa jaminan loe?” tanya Ara yang masih belum yakin dengan janjinya itu.
Reza kembali menghela napas panjang, kemudian melontarkan senyuman yang entah apa maksudnya.
“Ya gue bakal puter balik, dong,” Reza kembali mengajak Ara untuk bergurau, tapi hal itu yang justru malah membuat Ara semakin kesal.
Kenapa di saat seperti ini, dia malah mengajakku bercanda? Pikir Ara.
Ara memelototinya dan memukul dadanya dengan sangat keras. Ia tampak meringis kesakitan, sembari memegang dadanya.
“Awsss ....”
“Sukurin! Siapa suruh loe mainin gue yang lagi serius begini,” bentak Ara yang geram dengan sikapnya.
Ia malah tertawa lepas melihat ekspresi Ara yang sudah jelas-jelas sedang memarahi dirinya. Hal itu membuat Ara bertambah kesal.
“Ihh … kok malah ketawa sih? Cubit nih?” gertak Ara, tetapi Reza malah semakin menyeleneh.
“Coba aja kalau bisa,” tantangnya, sembari menjulurkan lidahnya ke arah Ara.
“Awas ya ....”
Aku mencubit beberapa bagian dari tubuhnya. Reza hanya diam pasrah, sembari tertawa kecil. Tentunya, Ara hanya berpura-pura mencubitnya. Tidak mencubitnya dengan kencang.
Mereka pun bergurau dan bercanda bersama, sampai tertawa lepas.
Aku bahagia memilikinya, pikir Ara sembari memandang lekat Reza.
Seketika aktivitas mereka berhenti, Reza langsung mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Ra,” pekik Reza, membuat Ara menoleh ke arahnya, “gue punya ini dong,” sambungnya, sembari menunjukkan gantungan donald duck kesukaan Ara.
Mata Ara membulat dan hanya tertuju pada gantungan itu.
“Wah ... sini buat gue dong!” teriak Ara histeris, sembari berusaha mengambil gantungan yang berada di tangan Reza itu.
“Ets … ambil aja kalau bisa,” tantang Reza, membuat gejolak di hati Ara mulai tersulut.
“Awas ya, jangan marah kalau gantungannya gue ambil,” lirih Ara.
Ara berusaha mengambil gantungan itu dari tangan Reza, begitu pun sebaliknya, Reza berusaha agar Ara tak bisa mengambilnya.
“Gak bisa,” ledek Reza sembari menjulurkan lidahnya dan berusaha mempertahankan gantungan itu.
Mereka tertawa lepas, hingga terjatuh bersama di atas rerumputan taman.
Mereka pun berbaring di atas rerumputan taman, sembari memandangi awan yang bergerak ke arah barat.
__ADS_1
Embusan angin yang membawa dedaunan kering, seakan bisa menyejukkan suasana walaupun sinar matahari masih terlihat sangat terik.
Reza dengan suka rela menyodorkan gantungan itu pada Ara.
Ara menoleh heran ke arahnya, “beneran buat gue?” tanya Ara dengan semangat yang membara, membuat Reza tersenyum padanya.
“Kok diem aja si? Malah senyum-senyum gak jelas!” ucap Ara dengan heran.
Reza menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Ara. Ara pun ikut menoleh ke arahnya.
“Apa pun yang gue punya sekarang ataupun nanti, itu semua buat loe kok. Pegang aja asal loe senang, gue juga senang,” ucapnya dengan hangat, yang sekali lagi bisa membuat Ara tersenyum bahagia.
Kata-kata Reza terdengar seperti gombalan. Tapi, Ara tahu siapa Reza sebenarnya. Ara tahu semua yang dia ucapkan ,tidak akan mengecewakannya.
Dengan senyuman hangat, Ara pun mengambil gantungan itu kemudian memandanginya.
Tiba-tiba, Reza menyentuh pipi Ara dengan hangat. Mereka pun saling bertatapan. Melihat manik matanya yang indah, terkesan tegas dan hangat. Alisnya yang khas seperti terpotong pada bagian tengahnya, membuat Ara semakin menyukainya.
“Makasih ya … udah mau ngasih hati loe buat gue,” lirihnya yang membuat Ara sedikit terharu.
Ara mengangguk kecil ke arahnya.
Reza mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara.
“Cuppsss ....”
Beberapa saat kemudian Reza mengecup pipi kanan Ara, dan pipi kiri Ara. Kemudian mereka saling bertatapan kembali.
Pandangannya selalu bisa memabukkan Ara.
“Cups ….”
Reza mendaratkan ciumannya tepat di bibir Ara, membuat Ara menjadi lemas karenanya.
“Deg ....”
Jantung Ara terdengar lebih kencang dari biasanya, membuat seluruh tenaga Ara menjadi hilang seketika. Tangannya bergetar, karena saking terkejutnya Ara dengan Reza yang tiba-tiba saja melakukan hal seperti ini.
Ini adalah first kiss dari Ara. Ara tidak bisa menolak, karena ia sangat mencintai Reza. Lagi pula, perasaan ini baru saja Ara rasakan.
Ara sangat menikmati ciuman hangatnya. Rasanya, seperti melayang terbang ke angkasa.
Ternyata seperti ini rasanya ciuman pertama itu. Aku tidak menyangka sama sekali, pikir Ara.
Karena selama dua tahun ini mereka menjalani hubungan, tidak pernah Reza berani melakukan hal-hal semacam ini pada Ara. Reza hanya melakukan hal-hal yang biasa pasangan lainnya lakukan.
Tidak ada yang melebihi yang saat ini mereka lakukan.
__ADS_1
Ara sangat senang, karena bisa merasakannya bersama orang yang ia sayangi. Orang yang selalu Ara impikan, akan menjadi jodohnya kelak.
Ia menyudahi ciumannya itu, dan terlihat sedang memegangi kepalanya. Ara yang kaget, sontak bangkit dari tempatnya semula.
Ara melihat Reza, yang seperti sedang menahan sakit yang luar biasa.
“Za, loe kenapa, Za?” tanya Ara yang khawatir dengan keadaannya.
Ara gemetar melihatnya, yang sampai menahan sakitnya seperti itu.
Tak lama kemudian, Reza pun bangkit dan duduk di hadapan Ara.
“Gak papa kok. Loe gak usah khawatir, ya,” ucapnya yang membuat Ara jadi bertambah khawatir.
Semakin ia menyuruh Ara untuk tenang, semakin Ara menjadi bertambah takut dengan keadaannya.
“Ah loe apan sih? Jelas-jelas loe tadi kesakitan!” geram Ara pada kekasihnya itu, “loe kenapa? Gue beliin obat dulu ya? Apa yang loe rasain?” tanya Ara dengan panik, karena melihat keadaan Reza yang sangat menyedihkan.
Ara bangkit dari duduknya, untuk membelikan obat penahan rasa sakit kepala yang sedang Reza derita. Namun saat Ara bangkit, Reza mencegah dengan menarik tangan Ara.
“Percaya ya sama gue. Gue nggak apa-apa kok! Loe nggak harus kayak gini kok, beneran gak apa-apa,” ucap Reza, yang terus-menerus menenangkan Ara.
Tapi, entah mengapa semakin Reza menenangkan Ara, semakin ia tidak tenang dengan keadaan yang Reza alami saat ini. Reza berhasil membuat Ara takut kehilangan dirinya.
Reza menggeleng kecil, “udah sini yuk ...,” Reza mengajaknya sembari menarik halus tangan Ara.
Reza memeluk Ara dengan erat, membuat Ara tak mau kehilangan dirinya.
“Udah nggak apa-apa, gue baik-baik aja kok! Emangnya gue kenapa coba?” ucapnya membuat Ara menjadi sedikit tenang.
Ara menatap lekat matanya, “tapi loe gak mau gue beliin obat apa gitu … biar loe gak makin sakit?” tanya Ara sekali lagi untuk memastikan keadaannya.
Reza mengelus lembut rambut dan pipi Ara, membuat Ara ingin terus berada di pelukannya.
“Gue gak mau obat,” lirihnya.
Ara melepaskan pelukannya dan memandangnya lekat.
“Terus mau apa?” tanya Ara dengan polos.
Reza mencubit gemas pipi chubby Ara, membuat Ara merintih kesakitan.
“Aww … sakit.”
Ara menjerit lirih, karena cubitannya yang lumayan membuat pipi Ara menjadi sakit.
Reza menatap Ara dengan sangat lekat, “gue mau loe, Ra.”
__ADS_1