
Arash merasa sangat bahagia bisa mengenal Fla, yang saat ini sudah menjadi kekasihnya itu.
Tangan Arash menyentuh wajah Fla dengan sangat lembut, membuat Fla merasakan geli pada sentuhan Arash yang sangat lembut itu.
Arash tak membiarkan Fla menghentikan ciuman yang ia berikan padanya. Arash menciuminya tanpa ampun, mengabsen setiap sisi di dalam rongga mulut Fla, menggunakan lidahnya.
Perasaan Arash semakin lama, semakin dalam pada Fla, membuat dirinya semakin ingin lebih dan lebih dari yang ia perbuat sekarang. Ditambah lagi situasi yang sepertinya sangat mendukung bagi mereka untuk melakukan hal yang lebih dari yang mereka lakukan saat ini.
Arash melepaskan bibirnya dari bibir manis Fla, kemudian memandang Fla dengan saksama. Wajah Fla terlihat sudah memerah, dan Arash merasakan hawa panas saat menyentuh pipi Fla.
Napas Arash mulai tersengal, saking kehabisan napas ia menciumi Fla tanpa ampun tadi.
Arash memandangi Fla dengan sangat dalam, "Bolehkah?" tanya Arash, yang bertanya lebih dulu pada Fla.
Mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Arash, membuat Fla mendelik bingung harus berkata apa.
Arash seketika tersadar dari pemikirannya yang sudah terlalu terlewat batas. Ia segera memeluk Fla dengan sangat erat, membuat Fla bingung dengan yang Arash lakukan.
"Sudah, jangan dipikirkan. Anggap aja, Kakak gak pernah bicara seperti itu," gumam Arash, yang malu dengan keadaan yang Fla berikan.
Arash merasa sangat canggung dengan kondisi saat ini. Ia sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia hampir saja berbuat yang tidak-tidak dengan gadis yang ia cintai itu.
Kebiasaannya yang dulu, masih saja tersisa sampai saat ini. Ia hampir saja menjatuhkan harga diri Fla di hadapannya. Padahal, Arash sudah berjanji, tidak akan melakukan itu pada Fla, sebelum waktunya tiba.
Mengetahui Arash yang berusaha keras menahan hasratnya, membuat Fla membalas pelukannya dengan sangat erat. Karena sudah mengetahui tentang masa lalu Arash yang kurang baik, Fla memaklumi semua hal yang Arash lakukan padanya.
"Terima kasih," gumam Fla, yang merasa sangat berterima kasih pada Arash, yang sekuat hatinya menahan hasrat yang ia miliki pada Fla.
"Maaf," gumam Arash, membuat Fla mengangguk kecil.
Arash segera melepaskan dirinya dari Fla, untuk membuat dirinya kembali normal seperti sedia kala. Arash segera menyalakan lampu, yang sebelumnya ia padamkan karena sedang menonton film bersama dengan Fla.
"Huft ...."
Arash mengusap kasar wajahnya, berusaha untuk menghilangkan segala perasaan yang menggebu di hatinya.
"Tin ...."
__ADS_1
Terdengar suara klakson mobil, yang sangat familiar di telinga Arash.
Arash pun dengan segera menghampiri siapa yang datang ke rumahnya itu.
Terlihat Ilham yang keluar dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Ara.
Ilham membantu Ara untuk keluar dari dalam mobilnya, namun Ara dengan cepat menepis tangan Ilham.
"Aku bisa sendiri," gumam Ara, membuat sedikit banyak hati Ilham menjadi sesak karena perlakuan Ara pada dirinya.
Ara pun melangkah keluar mobil, dan kini berhadapan dengan kakaknya, Arash.
"Ra, kamu kenapa? Kok lemes banget?" tanya Arash yang bingung dengan keadaan adiknya.
"Aku mau istirahat," gumam Ara, yang tak menghiraukan perkataan Arash.
Ara pun melangkah menuju ke arah kamarnya, melewati Fla yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Fla memandangnya dengan tatapan heran, karena baru ia ingin menyapa Ara, tapi Ara sudah berlalu pergi dari hadapannya.
Arash memandang ke arah Ilham dengan heran, "Ada apa sama Ara?" tanya Arash, membuat Ilham menghela napasnya panjang.
"Kamu gak sedang bikin dia marah kan, Ham?" tanya Arash, membuat Ilham menggelengkan kepalanya.
"Dia tiba-tiba aja nangis, saat melihat Morgan dan yang lainnya," gumam Ilham, membuat Arash menghela napasnya panjang.
"Sok kuat sekali dia. Padahal, dia masih belum bisa melupakan Morgan," gumam Arash dengan sangat lirih..
"Siapa yang sok kuat?" tanya Fla, yang tiba-tiba saja muncul dari arah dalam rumah Arash.
Ilham dan Arash saling melempar pandang, ketika melihat Fla yang kini ada di hadapannya.
Arash menghela napasnya, "Fla, Kakak tahu ini berat banget buat kamu, apalagi untuk Ara yang menjalaninya. Ara sama Morgan ... hubungan mereka ... sudah berakhir," ucap Arash membuat Fla mendelik tak percaya dengan yang Arash katakan.
"Jangan bercanda, Kak!" bentak Fla, membuat Arash kembali melemparkan pandangannya ke arah Ilham.
Arash kembali memandang ke arah Fla, "Gak bercanda, kok. Maafin sikap Ara ya, kalau ke belakang ini, dia agak kasar atau bersikap kurang seru dari biasanya. Dia lagi kacau," ucap Arash, membuat Fla mendadak sendu mendengarnya.
"Kasihan Ara," gumam Fla, yang merasa sangat sedih dengan hal yang ia dengar.
__ADS_1
"Sudah larut, Kakak antar pulang ya sekarang," ucap Arash, membuat Fla mengangguk kecil.
Arash memandang ke arah Ilham, "Mau menginap, atau pulang Ham?" tanya Arash.
"Apa boleh, saya menginap di sini?" tanya Ilham, membuat Arash tersenyum.
"Gak apa-apa. Lagian juga kan besok masih minggu. Sekalian juga jagain Ara sama Ares. Saya mau antar Fla pulang dulu," ucap Arash, membuat Ilham tersenyum tipis ke arahnya.
"Oke," gumam Ilham, Arash menepuk pelan bahu Ilham.
"Oke, saya jalan dulu," pamit Arash, Ilham pun mengangguk kecil karenanya.
"Bye Kak Ilham," ucap Fla, membuat Ilham mengangguk kecil.
Mereka pun meninggalkan Ilham di sana sendirian. Ilham menghela napasnya panjang, karena saat ini, dia memang ingin terus bersama dengan Ara. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi ia sangat khawatir dengan sikap Ara, yang mungkin akan menjadi bertambah buruk nantinya.
Ilham tidak ingin, terjadi sesuatu dengan Ara saat ini.
Ilham kembali ke ruang kamar Arash, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang empuk milik Arash.
Ia memandang langit-langit kamar Arash yang baginya sangat indah.
'Sudah lama sejak saat itu, tapi kamar ini masih saja belum berubah,' batin Ilham mendadak sendu jika mengingat kembali seluruh kenangannya dengan Arash, di rumah ini.
Ilham mengeluarkan kalung milik Ara, yang selalu ia jaga, bahkan sampai detik ini.
Ia memandangi kalung itu dengan saksama, membuat dirinya tersenyum tipis, memandangnya.
"Tinggal sedikit lagi. Saya akan selalu ada di samping kamu," gumam Ilham, yang kembali bergairah mengingat perasaannya pada Ara.
Meskipun Ilham masih belum yakin, Ara akan menerimanya atau tidak, tetapi Ilham sangat senang karena satu hal yang terberat bagi Ilham, sudah tidak bersama dengan Ara lagi.
Namun, Ilham juga menyadari, bukan hal yang tidak mungkin kalau Ara akan kembali bersama dengan Morgan, suatu saat nanti. Karena kesalahan ini bukanlah mutlak kesalahan Ara.
Ilham menghela napasnya panjang, karena dirinya yang lagi-lagi terpuruk, dan tidak yakin akan mendapatkan Ara.
...***...
__ADS_1