
"Sayang cepetan, nanti kita telat nih!" pekik Ara dari ruang tamu, membuat Ilham segera merapikan penampilannya secepat mungkin.
Ilham menghampiri Ara yang sudah selesai berdandan sejak tadi, karena ini adalah hari spesial Rafael dan juga Kim, yang akan melangsungkan akad nikah.
"Iya, Nyonya. Kok anda bawel sekali, ya?" jawab Ilham setengah meledek Ara, membuat Ara menjadi gemas mendengarnya.
Ara menatap tajam Ilham, sembari menunjukkan tangannya, "Cubit, nih!" gertak Ara, membuat Ilham menyeringai.
Ilham mengelus rambut Ara, "Jangan dong," gumam Ilham dengan lembut, membuat Ara seakan meleleh dibuatnya.
"Makanya, ayo berangkat! Kita keburu telat deh ah," ujar Ara, membuat Ilham merengkuh pinggang istrinya dengan sangat lembut.
"Kiss morning?" tanya Ilham, membuat Ara menatapnya dengan tatapan malas.
"Sejak kapan kamu jadi begini? Keterusan minta kiss morning?" tanya Ara sinis, membuat Ilham terdiam dan langsung menyambar bibir Ara, tanpa basa-basi.
Mereka sejenak larut dalam ciuman yang sangat memabukkan untuk Ilham. Ilham memegang lembut tengkuk kepala Ara, kemudian turun ke leher, bahu, dan pinggang Ara. Ia merengkuh Ara, sampai tiada jarak di antara mereka.
Ilham mulai meraba resleting belakang dress Ara, dan ia menurunkannya sedikit, membuat Ara merasa terkejut mengetahuinya.
"Sayang, ngapain dibuka, sih?" tegur Ara, yang berusaha melepaskan diri dari suaminya itu.
"Duh ... pagi-pagi gini pikiran aku udah ke situ aja," gumam Ilham, yang berusaha menahan Ara agar tetap berada di dalam rengkuhannya.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Kita kan mau ke pernikahan Rafa, nanti telat!" ujar Ara, membuat Ilham merengek, layaknya balita yang meminta susu formula.
"Ah ... tapi aku mau," rengek Ilham, membuat Ara kelabakan sendiri dibuatnya.
"Nanti si dede mejret, gimana?" tanya Ara, yang berusaha mengingatkan Ilham tentang kehamilannya itu.
Ilham mengerenyitkan dahinya, "Memangnya kalau lagi hamil, gak boleh melakukan itu?" tanya Ilham yang masih merengek pada Ara.
Ara menjadi gelisah dibuatnya. Masalahnya, Ara pun tidak tahu diperbolehkan atau tidak mengenai hal itu.
"Mmm ... aku gak tahu," jawab Ara yang sudah gelisah, menahan hasrat Ilham yang semakin lama semakin besar, dan semakin ia tak bisa menahannya.
__ADS_1
Ilham menyeringai, "Gelisah amat, sih?" gumam Ilham dengan nada meledek, sembari menyentuh hidung Ara, membuat Ara terkejut melihat kelakuannya.
"Ih ... Kak Ilham, mah!" rengek Ara, membuat Ilham menghela napasnya.
Bercumbu mesra dengan Ara, membuat gairah Ilham di pagi hari menjadi bangkit. Ilham tak menyangkal hal itu. Namun, ia juga memikirkan acara penting Rafa, sehingga ia harus menahan gejolak perasaannya yang sudah menggebu sejak tadi.
"Engga sayang. Yuk, nanti kita telat," ajak Ilham, membuat Ara tersenyum.
"Yuk," ucap Ara, membuat Ilham terasa sangat gemas dengannya.
"Tapi jangan lama-lama ...," rengek Ilham lagi, membuat Ara melihatnya dengan sangat gemas.
"Bawel," umpat Ara sembari menahan tawanya, kemudian segera menggandeng mesra lengan Ilham.
Mereka pun pergi ke acara pernikahan Rafa dan juga Kim, dengan sangat senangnya.
...***...
Balutan gaun serba putih itu, membuat Kim menjadi sangat manis dipandang. Ara menatap Kim yang berjalan di atas karpet merah, hendak menuju ke arah altar dengan digandeng oleh seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah ayahnya.
Ara tak sengaja melihat ke arah Ilham, yang juga sedang melihat ke arahnya dengan tersenyum, membuat Ara menjadi tersenyum karena melihat aura positifnya.
Ilham merengkuh mesra tubuh Ara, tak membiarkan Ara lepas dari rengkuhannya.
Rafa terlihat sangat berbinar, dengan air mata yang tak henti mengalir dari pelupuk matanya. Ini adalah hari yang sangat baik untuk mereka.
Pengucapan janji suci sudah berlangsung secara hikmat, dan sangat lancar dari dugaan, membuat Rafa dengan sangat bahagia, melakukan first kiss bersama dengan wanita yang sudah menjadi istrinya saat ini.
Semua orang bersorak, tak terkecuali Ara dan juga Ilham.
Saat mereka sudah selesai melakukan first kiss, mereka pun segera berbalik, dan melemparkan bunga yang mereka pegang, membuat semua orang bersorak riang karena berusaha menangkap bunga tersebut.
"Hap ...."
Tak disangka, Ara yang sama sekali tidak ikut menangkap, justru malah mendapatkan bunga tersebut. Sontak semua orang merasa heran melihatnya.
__ADS_1
Ilham memandang Ara yang terlihat sangat kebingungan, membuat dirinya menepuk tangannya dengan keras, sehingga perhatian para tamu undangan dapat teralihkan karenanya.
"Kok aku dapet bunganya?" bisik Ara pada Ilham, membuat Ilham tersenyum mendengarnya.
"Gak apa-apa, kan cantik kalau kamu pegang bunga," jawab Ilham yang juga berbisik padanya, membuat Ara tersipu malu jadinya.
Acara dilanjutkan dengan resepsi, membuat para tamu undangan segera bersiap untuk mengeksekusi hidangan yang tersedia.
Ara dan Ilham menghampiri mempelai, dan segera memberikan selamat untuk mereka.
Di sana, sudah terlihat Arash, Fla dan juga Ray, yang juga sedang bercanda dengan para mempelai.
"Anjrit gak nyangka loe bakal nikah secepat ini!" ujar Ray dengan sangat bersemangat, karena dirinya yang memang sudah lama mengenal Rafa, bahkan sebelum masuk ke kampus ini.
Rafa tersenyum sumringah, "Iya lah, gak tahan gue," jawab Rafa, membuat semua orang yang di sana tertawa mendengarnya.
"Eh btw, kok cocok ya?" ucap Fla tiba-tiba, memecahkan keheningan setelahnya.
"Lho, cocok apanya?" tanya Arash yang bingung dengan ucapan tunangannya itu.
"Iya, cocok. Gandengannya Ara kan Kak Ilham, gandengan gue Kak Arash, gandengan Rafa Kak Kim, kalau ... gandengan Ray, siapa?" jawab Fla yang sangat terang-terangan menyindir Ray di hadapan teman-temannya, membuat Ray seketika tersenyum masam.
"Sialan anak ini," umpat Ray yang masih terdengar dengan semuanya, membuat mereka tertawa dibuatnya.
"Udah ... cepet-cepet cari dong! Masa gak mau kayak kita-kita, sih?" ledek Ara, membuat suasana bertambah panas dibuatnya.
Ray mengerenyitkan dahinya, "Emangnya cari pacar, semudah cari kacang di warung?" tanya sinis Ray, membuat mereka lagi-lagi tertawa karena masalah ini.
Walaupun Ray terlihat sangat menjengkelkan, tetapi kebahagiaan sahabatnya adalah yang paling utama. Ia sama sekali tidak bisa melihat sahabatnya bersedih, atau terjadi sesuatu dengan sahabatnya. Namun, ia melakukan semua itu dengan tidak mencolok, tetapi tetap terlihat jelas di mata sahabat-sahabat tersayangnya.
Rafa teringat dengan sesuatu, "Eh, gimana aplikasi cari jodoh yang gue kasih tahu?" tanya Rafa yang sedikit penasaran dengan aplikasi itu.
"Apaan ... kenapa isinya cewek kesepian semua, sih? Lain kali, kasih tahu aplikasi untuk orang muda, jangan untuk para janda," bantah Ray, membuat suasana menjadi pecah saat ini.
Kebersamaan sahabat memang sangat indah. Apalagi, bisa bersama sahabat, sekaligus bersama si dia.
__ADS_1
...***...