Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Fitnah Lucknut 4


__ADS_3

“Nanti selesai kelas jam berapa?” tanya Morgan yang setengah berteriak, membuat Ara menghentikan langkahnya.


“Jam 2,” Ara menjawabnya singkat dan tanpa ekspresi, tanpa melihat ke arah Morgan.


Morgan mendekat ke arah Ara.


“Aku tunggu di parkiran, ya,” ucap Morgan dengan genit, yang mulai tersenyum kembali, tapi Ara yang malah menjadi tidak mood mendengar candaannya itu.


“Gak, aku pulang sendiri aja,” tolak Ara dengan ketus.


“Mau kamu yang datang, atau aku yang temuin kamu ke kelas?” tanya Morgan, spontan membuat Ara menoleh ke arahnya, dan mendelik sinis.


“Jangan ngadi-ngadi deh ya,” ucap Ara dengan sinis, lalu pergi meninggalkan Morgan di sana.


“Ara!” pekik Morgan, sekali lagi membuat Ara menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh ke arah Morgan.


“Apa lagi?” tanya Ara dengan nada yang malas.


“I love you,” lirih Morgan, tapi Ara hanya terdiam.


Sekilas Ara melihat Morgan tersenyum ke arahnya, sebelum Ara meninggalkan Morgan di sana.


Ara yang melihat senyuman Morgan, segera membuang pandangannya, dan tidak mengizinkan Morgan melihat wajahnya, yang saat ini sebenarnya sudah terkesima dengan tingkah Morgan itu.


Wajah Ara sudah memerah, karena sedikit ucapan Morgan, yang membuatnya tersipu, hingga dapat membuat wajahnya menjadi merah.


Aku bingung, kenapa aku bisa dengan mudahnya membalikkan keadaan yang semula tidak mood menjadi sangat mood ketika Morgan mulai tersenyum kembali? Apa damage dari senyumannya memiliki efek berkelanjutan? Pikir Ara, yang tiba-tiba saja memikirkan sebuah game yang bernama “Summoners War” dengan hero bernama “Melia”, yang membuat Ara menyangkut-pautkan dengan perasaannya.


‘Mikir apa sih, Ra? Loe kan lagi gak main game keles,’ batin Ara yang mencela dirinya sendiri.


‘Tapi, jadi kangen main game lagi deh,’ batin Ara, yang sepertinya sedang merindukan permainan yang sering ia mainkan, sejak Ara masih duduk di bangku SMA.


Karena kesibukan dan lain-lain, membuat Ara sudah tidak sempat lagi menyenangkan dirinya sendiri, walau hanya sekedar bermain game saja.


Ara langsung menuju ke ruang kelasnya.


Kebetulan, dosen pertama sudah menyelesaikan jam perkuliahan.


Kelas terlihat sangat kisruh sekali, dengan mereka yang sedang duduk berkelompok.


Ara pun masuk ke dalam ruangan kelasnya.


Beberapa pandangan miring, terlontarkan dari pandangan teman-teman Ara yang ada di dalam kelas, yang sedang melihat sinis ke arah Ara yang baru saja masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


“Eh, tuh dia orangnya.”


Salah seorang teman Ara berbisik kepada teman lainnya.


Ara memperhatikan dengan saksama, cara mereka melihat ke arahnya.


Tatapan mereka membuat Ara menjadi sedikit tersinggung. Mereka seperti sedang mengucilkan Ara.


Ara mendekat ke arah mereka, “apa loe liat-liat?” tanya Ara dengan sinis, yang langsung melabrak mereka.


Mereka seperti tak berani melawan Ara, hanya tatapan mereka saja yang membalas tatapannya yang sinis.


Ara langsung menuju tempat duduknya yang berada di barisan tengah di posisi terdepan.


Di belakang Ara, sudah ada Fla yang menggeleng kecil sembari mendecap ke arahnya.


Namun, Ara sama sekali tak melihat Rafa dan Ray.


Ara menghempaskan dirinya di atas kursi.


“Ah …,” ucap Ara, yang sedang merenggangkan tubuhnya dari kepenatan yang ia terima.


“Ya ampun, Ra,” lirih Fla, sambil terus menggelengkan kepalanya dan menghela napas.


Ara yang melihat ekspresi Fla yang aneh, membuatnya menatap Fla dengan tajam.


Fla menyentil dahi Ara, membuat Ara terkejut karenanya.


“Awss ... sakit tau,” Ara merintih, sembari menggosok dahinya yang sakit, akibat ulah Fla.


Fla menarik tangan Ara, “ikut gue,” ucap Fla.


Fla tiba-tiba saja menarik Ara ke luar, dan mengajaknya menuju toilet.


Kebetulan sekali toilet sedang sepi saat ini. Ara menatap Fla dengan tatapan yang bingung.


“Duh, ada apa sih, Fla?” tanya Ara yang masih tidak paham dengan maksud Fla.


“Loe kenapa tadi? Loe bikin ulah lagi?” tanya Fla, tapi Ara hanya diam sembari mengeluarkan handphone-nya.


Sebagai informasi, Ara sudah tidak ingin menitipkan handphone ke yayasan, karena Ara kesulitan untuk berbuat apa pun jika tanpa handphone.


Fla mendelik, karena respon Ara yang seperti itu.

__ADS_1


“Ra?!” Fla berteriak persis di depan telinganya.


Ara sampai kaget bukan main, dan memelototi Fla dengan sinis.


“Apa sii?” bentak Ara.


Fla mengangkat sebelah alisnya, “satu kampus ini tau, kalo loe berbuat mesum tadi!” ucap Fla.


Ara sampai menganga karena kaget.


Aku tidak menyangka, berita hoax ini akan sampai kepada seluruh mahasiswa. Siapa yang tega membeberkan masalah ini? Aku harus selidiki, siapa yang berani membuat naik berita hoax ini, pikir Ara.


“Loe tau dari mana?” tanya Ara.


Fla buru-buru membuka handphone-nya dan memberikannya pada Ara.


Ara melihat sebuah foto, yang terdapat secarik kertas yang ditempel di papan madding. Dalam secarik kertas itu, terlihat foto Ara dan juga Pria Jepang itu tadi.


Anehnya, harusnya di foto ini ada Pak Dicky yang sedang berdiri berhadapan dengan mereka. Kenapa ia dengan sengaja memangkas gambarnya? Tega sekali, pikir Ara.


Ara mendelik, “gila ini orang! Pantesan aja Morgan kayak gak percaya sama gue gitu. Ternyata, beritanya udah kesebar, bahkan udah sampe ke kuping Morgan. Tau gak,” ucap Ara sembari membesarkan gambar, agar terlihat lebih jelas, “di depan gue ini ada Pak Dicky, dan dia saksi hidup kalo itu cuma salah paham aja!” sambung Ara dengan geram, yang berusaha membuat Fla percaya padanya.


Fla mengerenyitkan dahinya, “loe yakin, di situ ada Pak Dicky?” tanya Fla, seperti sedang meyakinkan kembali Ara.


Nampaknya, Fla masih belum begitu percaya dengan apa yang Ara katakan. Dia lebih memilih percaya dengan kata orang lain dibanding perkataan Ara.


Ya ... siapa pun pasti lebih percaya bukti sih, dibandingkan dengan ucapan korban yang belum tentu benar adanya.


“Ya ampun, Fla. Gue bisa begitu sama cowok Jepang itu tuh ya karena gue nabrak Pak Dicky, Fla! Cowok itu tuh nolongin gue biar gue gak jatoh. Masa iya gua tiba-tiba begitu sama cowok yang gak gue kenal? Di depan umum lagi!” jelas Ara yang masih berusaha keras menjelaskan.


Fla hanya diam sembari berpikir, membuat Ara sudah kehabisan akal untuk membuatnya yakin.


“Masih belum percaya juga?” tanya Ara, Fla hanya menggelengkan kecil kepalanya.


Ara mengusap kasar wajahnya, dengan cepat, saking ia merasa gemas dengan Fla.


“Haaaa ... Fla ... percaya dong sama gue!” bentak Ara, membuat Fla merasa semakin tidak yakin dengan yang Ara ucapkan.


“Loe begitu, malah bikin gue gak percaya sama loe,” lirih Fla yang merasa tidak nyaman dengan sikap Ara.


“Loe kan tau, gue udah pacaran sama--”


“Cleekk ....”

__ADS_1


Seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba, membuat ucapan Ara terpotong.


Ara dan Fla berusaha untuk tetap diam, sembari berpura-pura mencuci tangan di wastafel.


__ADS_2