
Hari ini, Ilham bersiap untuk segera berangkat ke kantor tempat ia bekerja. Dengan semangat yang membara, Ilham melajukan mobilnya ke arah kantornya.
"Huft ...."
"Seperti terlahir kembali," gumam Ilham, yang menikmati indahnya hidup.
Setelah berkutat dengan hiruk-pikuk kendaraan, akhirnya Ilham pun berhasil sampai di kantor tersebut, yang tak lain adalah perusahaan yang Arash miliki.
Ilham dengan langkah yang tegap, melewati lobi dan menuju ke arah ruangannya yang berada di lantai 5 gedung ini.
"Pagi, Pak Ilham," sapa beberapa orang wanita, dengan wajah yang sumringah melihatnya.
Ilham pun heran dengan tatapan mereka yang sepertinya berbeda memandang ke arah Ilham.
Ilham mengerenyitkan dahinya, 'Mereka kenapa, ya?' batin Ilham, yang heran dengan sikap mereka.
Ilham hanya menggelengkan kecil kepalanya, karena merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka itu.
Ilham bergegas menuju ke ruangan Arash. Kini, ia pun sudah tiba di depan ruangan Arash.
"Tok ... tok ... tok ...."
Ilham mengetuk pintu ruangan Arash.
"Masuk," terdengar suara teriakan Arash yang memerintahkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan.
Ilham pun segera memasuki ruangan Arash.
"Permisi, Pak," sapa Ilham dengan sangat sopan terhadap atasannya.
Di sana ternyata sudah ada Rangga, tengah berbincang serius dengan Arash, membuat suasana semakin terasa ketegangannya.
"Silakan duduk, Ham," suruh Arash, membuat Ilham tersenyum dan mengangguk kecil.
Ilham pun segera duduk di kursi yang tersedia, di hadapan Arash. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Nah ... berhubung sudah ada Ilham di sini, kita mulai saja rapat dadakan kali ini," ucap Arash, membuat Ilham melonggarkan kerah kemejanya yang terasa sangat sempit, membuatnya jadi terasa sesak.
__ADS_1
Arash mengedarkan pandangannya ke arah Ilham dan Rangga, "Saya tahu penyebab perusahaan kita gagal mega tender!" ucap Arash dengan sangat tegas, membuat Ilham dan Rangga mendelik seketika mendengarnya.
"Hah? Apa sebenarnya yang terjadi, Pak?" tanya Rangga yang terkejut dengan pernyataan Arash.
"Ini semua, ada sangkut-pautnya dengan perusahaan yang selama ini jadi musuh bebuyutan perusahaan kita," jawab Arash, membuat mereka mendelik kaget.
"I see!" gumam Ilham, yang memang sudah menebak sejak awal, kalau ini semua ada hubungannya dengan perusahaan saingannya.
Jadi, percuma saja mereka bekerja siang dan malam, bahkan hingga lembur seperti itu, mereka tetap tidak akan bisa menang melawan perusahaan mereka, yang jam terbangnya sudah lebih tinggi dibandingkan perusahaan ini.
Arash mendelik, "Ini semua juga karena perusahaan ini kurang beberapa berkas persyaratan. Ditambah lagi, kalau dilihat dari beberapa berkas yang sudah ter-upload di web, harga mereka sama sekali tidak masuk akal! Apa mereka sama sekali tidak mengenakan fee manajemen?" tanya Arash, membuat Ilham segera membuka laptop yang ia bawa.
Ia segera melihat dan membuka web yang mengelola tender kali ini. Ilham membandingkan penawaran harga perusahaan ini, dan juga penawaran harga dari perusahaan mereka.
Ilham mendelik kaget, "Saya sudah hitung. Walaupun tidak pakai fee manajemen, harganya masih tidak masuk akal jika saya hitung. Sangat jauh!" ujar Ilham, membuat Arash memegangi keningnya.
"Gila ya, kenapa perusahaan itu aneh banget, sih? Harga gak ngotak begitu, tapi kok lolos?" gumam Arash bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Arash menjadi semakin frustrasi dengan perbincangan panas ini. Ia berusaha memikirkan cara, agar harga yang ia tawarkan bisa lebih rendah dibandingkan penawaran mereka.
"Saya perhatikan juga, memang sepertinya ada keanehan dari perusahaan itu," sambar Ilham, membuat Arash terdiam mendengarnya.
Ia melihat semua jadwal yang tertera di foto yang ia ambil.
"Masih. Batas akhir tanggal 31 Januari, dan kita masih bisa mengubah harga penawaran," jawab Rangga, membuat Arash kembali bersemangat menghadapi keadaan.
"Dengan kata lain, masih ada 3 hari dari sekarang? Kita masih punya harapan!" gumam Ilham membuat Arash mengangguk.
Arash memandang ke arah Ilham, "Coba kamu ganti fee manajemen 10% menjadi 5% Ham!" perintah Arash, membuat Ilham terkejut mendengarnya.
"Apa kamu mau banting harga? Lantas, apa keuntungan untuk kita?" tanya Ilham, berusaha membuat Arash mempertimbangkan keputusannya.
"Tidak ada pilihan lain lagi. Saya tidak ingin memecat karyawan yang lain. Sebisa mungkin, walaupun sedikit, asalkan proyek ini bisa kita rebut kembali, why not? Kita sudah habis-habisan modal, lho!" jawab Arash, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.
Ilham tersadar dari lamunannya, dan segera mengganti angka dengan yang Arash perintahkan.
"Tingg ...."
__ADS_1
Muncul harga penawaran terbaru yang Ilham hitung. Ia pun segera membandingkan dengan penawaran lama milik perusahaan rival.
Ilham mendelik, "Masih kurang rendah!" gumam Ilham, membuat Arash kembali berpikir dengan jalan keluarnya.
"Kalau gitu, bikin jadi 2% Ham!" ucap Arash dengan tegas, sehingga Ilham mengikuti apa yang ia perintahkan.
Ilham kembali menghitung, hingga ia membandingkan kembali semua harga yang ada di web.
Ilham mendelik kaget, "We did it!" teriak Ilham dengan sangat bersemangat, membuat Arash dan Rangga mendelik ke arahnya.
Arash mendelik senang melihatnya, "Woah!!"
Rangga kembali meneliti selisih harga yang ada, "Sepertinya ... masih bisa kita naikin menjadi 3%. Tidak akan mengubah posisi pertama kita," gumam Rangga, membuat Ilham dengan cepat mengubah perhitungannya.
"Tring ...."
Ilham kembali melihat perbandingan harga semua perusahaan yang mengikuti mega proyek ini. Ternyata, perusahaan mereka tetap memegang di urutan pertama, membuat Arash dan yang lainnya menjadi senang melihatnya.
"Nice! Good job, team!" teriak Arash, yang saking senangnya, hingga lupa kalau ia sedang berada di kantor, bukannya di rumah.
"Tinggal kita pikirin kelengkapan data yang lain, yang harus segera diperpanjang," gumam Arash, membuat Ilham dan Rangga terdiam.
"Sepertinya, saya harus minjam dana ke bank, untuk keperluan perpanjangan legalitas," gumam Arash, membuat Ilham dan Rangga mendelik tak percaya dengan yang ia dengar.
"Hah? Pinjam dana ke bank? Apa gak ada cara lain?" tanya Ilham yang berusaha memperingati Arash dalam mengambil keputusan.
Arash memandangnya dengan tatapan serius, "Gak ada cara lain lagi. Uang tabungan saya sudah mulai menipis, gak akan cukup untuk perpanjang legalitas yang habis masa aktifnya," jawab Arash dengan nada yang tegas, membuat Ilham menjadi iba dengannya.
"Buat apa kamu punya teman, kalau teman kamu sama sekali gak bisa bantu kamu?" tanya Ilham, membuat Arash mendelik, "tenang aja, saya akan bantu kamu, sebisa saya," gumam Ilham membuat Arash mendelik ke arahnya.
Mendengar hal itu keluar dari mulut Ilham, Rangga pun juga tidak diam.
"Ya, Pak. Tenang aja, masih ada Pak Ilham dan saya yang bisa bantu perusahaan ini, biar bisa berjaya lagi," sambar Rangga, membuat Arash menjadi tersentuh mendengar ucapan mereka.
Arash menepuk bahu mereka dengan kedua tangannya, karena merasa sangat senang bisa mengenal orang seperti mereka.
Arash tersenyum, "Terima kasih."
__ADS_1
...***...