Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Interogasi Jessline


__ADS_3

Seseorang melemparkan sesuatu ke atas meja Morgan. Morgan melihat siapa yang melakukan hal itu.


Terlihat seseorang yang sama sekali tidak ingin Morgan temui.


“Apa ini?” tanya Morgan dengan sinis padanya.


Ia bersikap tidak enak sekali pada Morgan.


“Ada fans yang maksa selalu nyuruh aku buat ngasih hadiah ini ke kakak. Kenapa sih, beban banget jadi adiknya Kak Morgan? Mereka semua sekarang tau, kalau aku adiknya Kak Morgan,” ucap gadis yang bernama Jessline.


Mendengar hal itu, Morgan sampai kehabisan kata-kata. Ternyata, sudah banyak rumor beredar soal hubungannya dengan Jessline, yang harusnya tidak boleh ada yang mengetahuinya.


Morgan tidak pernah memaksa ayahnya untuk menikah lagi atau tidak. Tapi, ia juga tidak ingin dipaksa untuk menerima mereka dengan sepenuh hatinya.


Walau bagaimanapun, mereka hanyalah ibu dan adik sambung Morgan saja. Bukan seperti ayah, Fla dan Lian.


Kondisi hubungan Morgan dan ibu sambungnya juga tidak terlalu baik. Ia lebih sering mengurung diri di kamar, dibandingkan harus bertemu dengan mereka.


Belum lagi adik bungsunya yang paling kecil itu. Kerjaannya hanya mengandalkan uang dari ibunya saja. Sedikit banyaknya, ayah juga pasti akan memberikan uang kepadanya. Tapi, Morgan tidak terlalu mempermasalahkan tentang adik bungsunya itu. Karena biar bagaimanapun juga, Lian adalah adik kandung Morgan, hanya berbeda ibu saja.


Sejak Morgan mengetahui kalau ayahnya menikah kembali, ia semakin tidak betah saja di rumah. Karena setiap hari, orang tuanya hanya mementingkan kebutuhan Fla, Jess, dan juga Lian.


Dalam bahasa Mandarin, Lian berarti tenang dan masuk akal. Tapi, sifat dan namanya itu sangat bertolak belakang. Dia adalah pribadi yang terburu-buru, dan kadang pikirannya di luar nalar manusia. Aneh sekali adik laki-laki Morgan itu.


“Kalau kamu tidak mau, kenapa kamu harus melakukannya?” tanya Morgan.


Fla menatap ke arah Morgan dengan tatapan sinis. Morgan juga membalas tatapannya dengan tak kalah sinisnya.


“Aku gak ada pilihan lain!” ucap Jess menjelaskan.


“Ya, harusnya kamu menerima resikonya, dong!” balas Morgan dengan nada yang sama dengannya.


Jess terlihat sangat kesal dengan Morgan. Ia menatap Morgan dengan sinis.


“Denger ya Kak, aku sama sekali gak pengen berurusan dengan Kak Morgan. Aku pengen hidup aku tuh tenang!”


“It's okay,” jawab Morgan.

__ADS_1


Jess lalu menyodorkan tangannya ke arah Morgan, seperti sedang meminta diberikan sesuatu. Morgan hanya menatapnya saja.


“Paling enggak, Kakak harus ganti rugi sama waktu yang udah aku keluarin,” ucapnya.


Morgan mendelik tak percaya. Ia membuat gerakan seolah-olah Morgan harus memberikan apa yang dia mau dengan segera.


Tak ada pilihan lain.


Morgan mengambil dompetnya yang berada di atas meja, dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Morgan memberikan dengan sombong ke arahnya.


“Tsett ....”


Jess merampas uang itu dengan sangat cepat, membuat Morgan sedikit terkejut karena refleks.


Jess menghitung beberapa lembar uang tersebut sembari menyunggingkan senyumnya.


“Terima kasih atas kerja samanya,” ucapnya lalu segera pergi meninggalkan Morgan.


‘Tidak akan semudah itu, Jess,’ batin Morgan, yang dengan kasar menarik tangan Jessline dan segera menyudutkannya di sudut ruangan.


“Hah, apa sih, lepasin!” bentak Jess pada Morgan yang sudah mengunci tubuhnya di sudut ruangan.


“Lepasin! Apa sih maunya?” tanya Jess dengan sinis.


“Saya gak akan melepaskan kamu,” lirih Morgan yang mampu membuat Jess bergidig ngeri.


“Kakak lupa? Aku ini adik Kak Morgan, lho!” bentak Jess yang sudah mulai gentar, jika saja Morgan melakukan sesuatu yang tidak bisa dicerna olehnya.


Morgan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Jessline, “saya tahu itu. Saya cuma mau main-main saja kok,” ucap Morgan, lalu meraba bibir Jessline dengan sangat lembut.


Jessline mendelik tak percaya dengan yang Morgan lakukan.


“Sadar, Kak! Aku ini adik--”


“Adik tiri?” potong Morgan, membuat Jess mendelik, “apa kamu tidak tahu, tidak ada larangan untuk kakak sambung memiliki hubungan percintaan dengan adik sambung. Mereka kan ... tidak ada ikatan darah,” lirih Morgan, membuat Jess semakin kalang-kabut.


Jess menelan salivanya, “Kak Morgan udah gila?” bentak Jess, membuat Morgan menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


“Iya, saya sudah gila. Mau bersenang-senang?” tanya Morgan, membuat Jess semakin ketar-ketir dibuatnya, apalagi saat ini mereka sedang berada di kampus.


Morgan memandang Jessline dengan tatapan nakal, dan segera mengarahkan tangannya ke arah gundukan besar milik Jessline, membuat Jess panas dingin dibuatnya.


“Plis jangan sentuh, aku akan ngelakuin apa aja buat Kak Morgan, asal jangan sentuh aku!” teriak Jess dengan keras, membuat Morgan menghentikan tangannya yang sudah hampir menyentuh gundukan kenyal itu.


Morgan menyunggingkan senyumannya, “apa kamu dengar tadi, Dicky?” ucap Morgan, yang membuat Jessline mendelik tak percaya.


Datanglah Dicky dan Lidya dari balik pintu ruangan Morgan. Meskipun di luar dari rencana yang sudah mereka susun sebelumnya, tapi Morgan dan tim berhasil bertemu dengan Jessline pada tempat yang tepat, tanpa harus menjalankan strategi yang sudah mereka susun sebelumnya.


“Yah … belum juga apa-apa, ternyata dia sudah datang sendiri ke sini,” lirih Dicky yang agak malas, karena belum sempat mempermainkan Jess.


“Apa-apaan ini?” tanya Jess yang tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.


Dicky mengunci ruangan Morgan, dan segera menghampiri Jess dan Morgan di sudut ruangan.


Morgan mendelik ke arah Jess, “kamu mau bersikap tenang atau tidak? Jika tidak, saya gak akan lepasin kamu,” ucap Morgan yang masih dengan posisi membelenggu Jess di sudut ruangan.


“Glekk ….”


Jess menelan salivanya.


“Oke, aku nyerah,” ucap Jess, membuat Morgan melepaskan belenggunya dari tubuh Jess.


Sejujurnya, Morgan tidak akan mau melakukan hal ini padanya. Tapi, ia terpaksa menggunakan cara ini, agar Jess menuruti semua ucapan mereka.


Morgan duduk di kursinya, dan memandangi Jess yang masih berdiri di sudut ruangan.


“Ada sedikit introgasi, kamu harus jawab dengan benar dan jangan sedikit pun berbohong. Karena akan percuma,” ucap Morgan memperingatkan Jess.


“Ada apa ini? Aku gak paham--”


“Nanti juga kamu paham,” potong Morgan.


Dicky menatap Jess dengan tatapan tajam, “saya ingin sedikit mengorek informasi tentang kejadian bullying yang menimpa Fla, kemarin sore,” ucap Dicky, membuat Jess mendelik.


“Saya gak ada hubungannya dengan kasus itu!” bentak Jess dengan spontan, membuat Dicky berspekulasi sendiri dengan jawabannya.

__ADS_1


“Lantas, bagaimana kamu menjelaskannya? Ada di mana kamu saat sekitar pukul lima sore kemarin?” tanya Dicky dengan tajam dan menusuk, membuat Jess agak ragu untuk menjelaskannya.


“Saya …,” ucap Jess dengan ragu, sembari menundukkan kepalanya.


__ADS_2