
Suasana mendadak menjadi sendu.
"Kalau aku cepat-cepat wisuda, aku juga pasti sudah gak di sini lagi. Aku pasti pulang ke Jepang," jawabnya yang terdengar sangat mellow.
Kenapa aku jadi tidak rela ia pergi? Aku masih berhutang budi padanya, pikir Ara.
"Kenapa? Apa ada yang loe beratin? Ada cewe yang lagi loe taksir?" tanya Ara, tapi Hatake malah menggeleng pelan.
Hatake menatap ke arah Ara, "aku cuma gak mau kembali ke sana. Aku pengen di sini," ucapnya menatapnya sendu ke arah Ara.
Ara menjadi semakin bingung dengan yang Hatake katakan. Ara tidak tahu harus bersikap seperti apa, yang jelas saat ini, Ara masih tidak rela jika Hatake yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu, pergi meninggalkannya untuk kembali ke Negara asalnya.
“Jadi gimana? Apa ada keluarga di sana, atau saudara?” tanya Ara pada Hatake, tapi Hatake hanya terdiam, seperti tak ingin menjawab pertanyaan Ara.
Ara yang paham dengan privasinya, segera berusaha mengganti topik pembicaraan mereka.
“Oke lah, cepetan kita ke mall. Kayaknya, mall udah buka tuh ...,” ucap Ara yang mendapat anggukan dari Hatake.
Mereka pun segera menghabiskan makanan yang mereka pesan, untuk bergegas menuju ke tujuan utama mereka.
...***...
Kini, mereka sudah berada di sebuah mall, yang tak jauh dari tempat mereka coffee break tadi.
Ara memutuskan untuk menyegerakan niatnya, untuk membelikan kado untuk Morgan.
Ara menoleh ke arah Hatake, yang dengan setia berada di sebelahnya.
Ara berpikir, tidak ada salahnya aku memberikan kado juga kepada Hatake yang sudah beberapa kali menolongku. Ia selalu ada untuk menolongku. Tapi, aku baru bisa menjadi dekat sekarang dengannya.
Ara menggandeng lengan Hatake, membuat Hatake terkejut dan memandang ke arahnya.
Terlihat senyuman Ara yang sangat membuat perasaan Hatake menjadi sangat nyaman, bila memandangnya. Wajah Hateke memanas, ia pun segera menafikan pandangannya dari Ara.
Mereka berjalan menuju sebuah toko perlengkapan pria. Hatake memandang sekelilingnya dengan pandangan yang sangat takjub.
Ara menoleh ke arahnya, "pilih aja barang yang kamu suka," ucap Ara, membuat Hatake terlihat bingung dengan yang Ara ucapkan.
"What the meaning of--"
"Udah! Pilih aja! Kita mulai dari yang ini," pangkas Ara, yang segera memberikannya pakaian yang bagus untuk ia coba.
Terlihat wajah kebingungan darinya, membuat Ara menjadi sangat gemas dengan sikap malu-malunya itu.
“Are you sure?” tanya Hatake, untuk memastikan kembali ucapan Ara.
__ADS_1
“Udah, cepetan dicoba, ya,” ucap Ara dengan nada yang sangat bersemangat, membuat satu senyuman mengembang di pipi Hatake.
Hatake pun pergi, untuk mencoba pakaian yang Ara pilihkan untuknya.
Ara menunggu Hatake selesai mencoba pakaiannya, sembari sesekali melihat sekeliling untuk mencari hadiah untuk Morgan.
Tak sengaja, pandangan Ara tertuju pada satu titik. Ara melihat jaket yang mirip seperti yang dikenakan para detektif di dalam komik. Warnanya coklat muda, menambah kesan karismatik untuk siapa pun yang memakainya.
Ara memandangi jaket yang ia lihat, apa Morgan akan cocok jika mengenakan jaket ini? Pikir Ara, sembari membayangkan jika Morgan memakai jaket pilihannya ini.
Satu senyuman mengembang di pipi Ara, "pasti bakalan ganteng maksimal, kalau Morgan pakai ini!" ucap Ara dengan sangat bahagia.
Wajah Ara bersemu merah, karena membayangkan Morgan yang sedang mengenakan jaket ini. Kulitnya yang cerah dengan postur tubuh kekar, menambah kuat nuansa ketampanannya.
Ara kembali melihat-lihat keadaan sekitar. Melihat sebuah jas hitam dengan sangat mencolok, terpampang jelas di hadapannya, seketika Ara teringat dengan Ilham yang saat itu mengenakan jas hitam milik Arash, yang sudah terlihat kecil untuknya.
Ara jadi terpikir juga dengan Ilham, yang saat itu sudah menyelamatkannya dari mobil yang hampir saja menabraknya. Ara juga merasa sangat berhutang budi padanya.
‘Aku juga mau beliin untuk kak Ilham. Siapa tau ... dia seneng kalau aku kasih jas itu,’ batin Ara, yang dengan segera menghampiri pelayan yang ada di sana.
"Mbak, bungkus yang ini satu, dan yang ada di manikin itu ya," ucap Ara tanpa basa-basi, lalu Ara segera melakukan pembayaran di meja kasir.
"Ra ...," pekik lirih seseorang dari arah belakang Ara.
Ara menoleh pelan ke arahnya. Di sana, terlihat Hatake yang sangat cocok mengenakan stelan yang ia pilihkan tadi. Ara terdiam sesaat, sembari menilai penampilannya.
Ara mengacungkan kedua ibu jari tangannya ke arah Hatake, membuat Hatake terlihat tersenyum malu.
Ara pun mengambilkan stelan baju lainnya, dan mencocokkan ke arah Hatake.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Ara, kemudian menyodorkan beberapa stelan lain padanya.
Ara menyeringai Hatake, yang nampak keberatan dengan permintaanya.
“Are you sure?” tanya Hatake, membuat Ara tersenyum sembari mendelikkan matanya.
“Of course,” jawab Ara dengan nada yang sangat yakin.
Hatake melontarkan senyuman pahit, dan menerima dengan kurang iklas baju yang Ara sodorkan padanya, kemudian ia segera pergi untuk mencoba kembali pakaian yang baru saja Ara berikan.
Ara kembali menunggu Hatake, sembari melanjutkan pembayaran jaket yang akan ia berikan kepada Morgan dan juga Ilham.
"Tolong sekalian dibungkus kado secara terpisah. Saya yang akan menulis ucapannya."
"Baik kak, segera."
__ADS_1
Ara menulis sebuah kata-kata manis untuk Morgan, pada secarik kertas berwarna merah muda itu.
Aku berharap, ke depannya hubungan ini akan baik-baik saja. Semoga saja, ia meresapi setiap doa yang aku curahkan untuknya, pikir Ara dengan senyuman manis yang selalu terukir.
"Aku mencintai mu."
Ara kembali menuliskan surat pada secarik kertas lainnya.
“Terima kasih.”
Ara memberikan kartu ucapan yang sudah ia tulis sebelumnya, kepada pelayan baju itu. Kartu ucapan itu dibungkus bersamaan dengan jaket yang ia pilihkan untuk Morgan dan juga Ilham.
Pelayan itu segera membungkus jaket beserta tulisan yang ada di kertas kecil itu.
Beberapa saat berlalu, pelayan itu segera memberikan kado yang sudah terbungkus rapi.
"Terima kasih," ucap Ara, sembari mengambil bungkusan yang pelayan itu sodorkan.
Sembari menunggu Hatake yang masih mencocokkan beberapa baju, Ara membuka handphone-nya untuk menghubungi Arash.
Ara pun menunggu Arash mengangkat teleponnya.
“Halo,” sapa Arash, tak lama setelah Ara meneleponnya.
“Kak, tolong kirimin nomor kak Ilham,” pinta Ara, yang segera memutuskan teleponnya.
"Drrrrtttt..."
Handphone Ara bergetar panjang, menandakan banyak sekali pesan singkat yang baru saja masuk. Ara segera membuka pesan singkat itu.
Terlihat pesan singkat dari Morgan, dan juga Arash. Ara sudah menanti Morgan menghubunginya.
"Sampai jumpa jam 8." Isi pesan singkat dari Morgan.
Ara tersenyum simpul, lalu segera melihat isi pesan dari Arash.
Ara mengirimkan pesan singkat pada Ilham.
“Kak Ilham, ini aku, Ara. Bisa ketemu di kafe dekat rumah, jam 7 malam nanti?” Isi pesan singkat dari Ara.
Ara memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas selempang yang ia bawa. Ara merasa rasa rindunya pada Morgan, bisa sedikit terobati.
"Done!" ucap Hatake, yang tiba-tiba saja muncul dari arah sana.
Ara segera menoleh ke arahnya, dan menatapnya dengan tatapan yang berbinar.
__ADS_1
"Sempurna."
...***...