Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Menjemput Aresha


__ADS_3

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ara dan Morgan bergegas untuk menuju awak pesawat, yang akan membawa mereka menuju tempat tujuan.


Ara duduk di samping Morgan, yang saat ini sudah mengunci tubuhnya dengan sit belt. Ara pun segera memakai sabuknya.


Melihat Ara yang nampak kesulitan menggunakan sabuk, Morgan segera berinisiatif untuk memakaikannya. Ara memandang ke arah Morgan yang sedang sibuk mengambil alih untuk memasangkan sabuk pada Ara.


'Terkadang, aku sama sekali gak bisa menilai pola pikir kamu. Kadang cuek, kadang juga romantis, bikin perasaan aku jadi nano-nano ke kamu,' batin Ara sembari memperhatikan Morgan dari dekat.


Morgan selesai memakaikan sabuk pada Ara, dan mendapati Ara yang sedang memandang wajahnya. Morgan pun tersenyum hangat padanya.


"Mau nyium saya, ya?" goda Morgan, membuat Ara terkejut, dan tersadar dari lamunannya.


"Apa sih?" tanya Ara, yang tersipu malu mendengar ucapan Morgan yang berusaha menggodanya.


Ara mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Pesawat pun segera lepas landas. Ara sangat menikmati perjalanannya kali ini, karena ia bisa melihat pemandangan yang indah saat berada di ketinggian seperti ini.


Ara merangkul tangan Morgan yang kekar, karena merasa sangat senang. Ini adalah kali pertamanya terbang bersama dengan kekasihnya.


Morgan menoleh ke arahnya, "butuh waktu sekitar 7 jam 25 menit, untuk sampai ke Tokyo. Kalau kamu gak nyaman, kamu bisa berjalan-jalan ke toilet sebentar," ucap Morgan.


Ara menganga, tidak disangka, perjalanan dari Ibukota menuju Tokyo, lumayan memakan waktu. Aku mungkin saja tidak bisa tahan kalau harus terbang selama itu, pikir Ara.


"Hah? Lambat banget! Apa gak bisa dipercepat lagi?” tanya Ara membuat Morgan tersenyum mendengarnya.


Morgan mengelus pipi Ara, karena gemas mendengar ucapannya, "sini, peluk," ucap Morgan.


Melihat ekspresi manja Morgan kali ini, Ara menjadi sedikit lega karena keberadaan Morgan di sampingnya.


Ara teringat dengan gantungan miniatur Morgan, yang ia beli di mall kemarin. Ara merogoh sakunya, dan memperlihatkan gantungan tersebut pada Morgan.


Melihat gantungan yang Ara tunjukkan, Morgan pun mengerenyitkan dahinya, "lho, ini apa?" tanya Morgan yang bingung dengan sesuatu yang ia lihat.


Ara menyeringai, "buat kamu," ucap Ara, Morgan pun mengambil gantungan itu dari tangan Ara.


Ia memperhatikan setiap sisi pada gantungan tersebut, yang baginya memiliki keanehan.


"Kok matanya besar sebelah?" celetuk Morgan, membuat Ara terkejut mendengarnya.

__ADS_1


Ara memperhatikan gantungan tersebut, namun tidak ada keanehan sama sekali dari gantungan yang ia lihat.


"Apa sih, orang biasa aja kok gantungannya," ucap Ara menepis perkataan Morgan tadi.


Melihat reaksi Ara yang sepertinya sudah menjadi kesal, Morgan pun tersenyum, dan mencolek hidung Ara, membuat wajah Ara menjadi terasa panas seketika.


Ara pun menafikan pandangannya dari Morgan.


Morgan mengelus lembut pipi Ara, membuat Ara tersipu malu, "terima kasih gantungannya," gumam Morgan, membuat Ara mengangguk ke arahnya.


...***...


Sore itu, Ilham sudah sampai di pelataran rumah yang cukup luas baginya. Ilham beberapa kali melihat ke arah jam tangan yang berada di tangannya, untuk memastikan tidak ada keterlambatan waktu yang berarti baginya.


"Arash bilang di daerah ini," gumam Ilham, sembari melihat ke segala arah dari rumah tersebut.


"Nomor 39. Memang betul ini rumahnya," lirih Ilham, yang membaca nomor rumah tersebut.


Ilham mendekat ke arah pagar rumah, dan mencari tombol bell.


Ilham menekan tombol bell tersebut, dan menunggu beberapa saat.


Tak lama, seseorang pun datang dengan riangnya, untuk membukakan pagar rumah.


"Arash ...," pekiknya dengan nada yang kian lama, kian menurun.


Ilham pun menoleh ke arah sumber suara, yang diketahui milik seorang wanita bernama Bunga, yang bagi Ilham sangat tidak asing.


Ilham memandang datar ke arah Bunga yang saat ini menatapnya dengan wajah yang tidak enak dipandang.


"Saya kira Arash," gumam Bunga, membuat Ilham menatapnya dengan tajam.


Sejak kecil, Ilham tidak terlalu mempedulikan Bunga, karena baginya, Arash saja sudah cukup untuk menjadi temannya. Karena wanita ini juga, Arash sampai harus terus mengorbankan perasaan dan bahkan sering mempertaruhkan nyawanya.


Sejak dulu, Ilham hanya berbicara seperlunya saja pada wanita yang kini berada di hadapannya.


"Maaf sudah membuat kamu kecewa. Arash tidak bisa menjemput Ares, karena ia harus meeting dengan beberapa client," ucap Ilham, semakin membuat Bunga menegaskan raut kekecewaan di wajahnya.

__ADS_1


"Meeting apa yang dilakukan menjelang Satnite seperti ini?" tanya Bunga yang penasaran dengan agenda Arash, membuat Ilham menghela napasnya beberapa kali.


"Bunga, sudahlah. Jangan mempersulit Arash seperti ini. Semua kegiatan Arash, memang perlu kamu ketahui secara detail?" gumam Ilham, mampu membuat Bunga mendelik kaget mendengarnya.


'Sikap Ilham memang tidak pernah berubah sejak dulu,' batin Bunga, yang merasa malu padanya.


Bunga pun membuang pandangannya dari Ilham.


"Saya datang ke sini, hanya untuk menjemput Ares. Tidak ada urusannya dengan kamu," ucap Ilham, semakin membuat Bunga menjadi terpuruk.


Bunga hanya diam, sembari memikirkan semua kesalahannya selama ini, pada Arash dan juga keluarganya.


"Di mana Ares?" tanya Ilham, tanpa mau berbasa-basi dengan Bunga yang masih terdiam sendu di sana.


Ares baru keluar dari pintu rumah, melihat Ilham yang sedang bercengkerama bersama ibunya di depan pagar sana. Dengan senang, Ares segera berhamburan ke arah Ilham.


"Kak Ilham ...," pekik Ares, membuat Ilham seketika mengalihkan pandangannya ke arah Ares.


Ares sudah berada di hadapan Ilham sekarang. Senyumnya seketika luntur, karena ia tidak menemukan orang yang ia cari.


"Kak Arash gak ikut?" tanya Ares, membuat Ilham tersenyum padanya.


"Kak Arash lagi ada acara, nanti dia pulang kok saat Ares sampai di rumah," jawab Ilham, membuat Ares mengerucutkan bibirnya.


"Yah ... padahal Ares mau minta diajak jalan-jalan sama kak Arash," gumam Ares, membuat Ilham menggelengkan kepalanya.


Ilham segera bersimpuh di hadapan Ares, membuat Ares memperhatikan ke arahnya.


"Gimana kalau ... Kak Ilham yang ajak Ares jalan-jalan? Sekalian beli es krim yang banyak untuk Ares," ucap Ilham, membuat Ares mendelik senang karena tawaran yang menyangkut tentang es krim.


"Wah ... memangnya Kak Ilham mau nemenin aku jalan-jalan?" tanya Ares, membuat Ilham tersenyum dan mengangguk ke arahnya.


"Tapi ...," ucap Ares seketika mendekat ke arah telinga Ilham, "jangan bilang-bilang kak Arash, kalau aku makan es krim yang banyak, ya, nanti aku diledekin kak Arash," bisik Ares, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


"Lho, diledekin kenapa?" tanya Ilham yang bingung dengan ucapan Ares.


"Aku pernah sok bijak di depan kak Arash soalnya. Terus pernah bilang kalau aku gak mau makan es krim kebanyakan," ucap Ares menjelaskan, membuat Ilham seketika tertawa mendengar pengakuan Ares.

__ADS_1


__ADS_2